Livi Zheng, Sutradara Asal Blitar Sukses di Hollywood: Gelar Amazing Blitar dan Terus Berkarya Mengharumkan Nama Indonesia

Film “Blitar” kembali diputar dalam forum Amazing Blitar di Aratani Theatre Long Angeles Amerika Serikat Rabu 2 Mei 2018. Acara itu bukan hanya diisi pemutaran film “Blitar” saja tapi juga live performance dan konser musik. Sutradara film asal Blitar yang kini berkiprah di Hollywood, Livi Zheng, menjadi bintang di ajang seni-budaya tersebut. Livi Zheng merupakan sutradara film “Blitar”.

LAPORAN GATOT SUSANTO DARI LOS ANGELES AS

LIVI ZHENG (29) sekarang sibuk bukan hanya karena menjelang peringatan Hari Pendidikan tapi juga karena harus menjamu rombongan dari Pemkab Blitar. Kehadiran mereka dalam rangka gelaran Amazing Blitar di Aratani Theatre Long Angeles Amerika Serikat Rabu 2 Mei 2018. “Saya cuti kerja untuk rombongan dari Blitar ini. Sebagai tuan rumah yang baik, saya ingin mengantar tamu dan melayani apa saja keperluannya,” kata Livi Zheng.

Bukan hanya itu, dengan membawa film karyanya, Livi Zheng memperkenalkan seni, budaya, dan keagungan Blitar, Jawa Timur, ke seantero Amerika Serikat. Khususnya di kampus-kampus. Selain tanggal 2 Mei, tepat pada peringatan Hari Kartini, 21 April 2018 lalu, sineas muda kelahiran Jawa Timur itu juga mengisi perkuliahan di Yale University. Livi hadir menjadi salah satu pembicara dalam acara “2018 Northeastern Conference” yang diselenggarakan oleh Yale University.

Yale University tercatat sebagai salah satu universitas terbaik di AS. Alumninya antara lain Bill Clinton, presiden AS ke-42 tahun 1993-2001 dan dari dunia perfilman, antara lain pemenang Piala Oscar Jodie Foster dan Meryl Streep juga pernah menimba ilmu di kampus ini.

Di hadapan peserta yang terdiri atas mahasiswa S1 sampai Pasca Sarjana serta sejumlah profesor dari berbagai universitas di AS, di antaranya Harvard University, Cornell University, Columbia University, dan University of Pennsylvania, Livi berbicara tentang topik yang saat ini tengah trending di AS, yaitu tentang keberadaan imigran. Judulnya, “Perjalanan Seorang Imigran” atau “An Immigrant’s Journey”.

“Ini sebuah kebanggaan karena saya bisa berbicara di hadapan para akademisi dan sejumlah ilmuwan AS, dari kacamata saya sebagai seorang imigran di sana,” ujar Livi dengan antusias kepada Global News, Minggu 29 April 2018.
Di samping menjadi pembicara di “2018 Northeastern Conference”, Livi juga diundang menjadi pengajar tamu di dua kelas Bahasa Indonesia di Yale University. Pengajar di kelas ini adalah Indriyo Sukmono dan Prisna Aswarita Putri, FLTA dari Indonesia. Menurut Indriyo, kehadiran Livi Zheng di kelas Bahasa Indonesia memberikan pengalaman dan kesan yang mendalam bagi para mahasiswa. Dalam kelas ini, selain menjadi guest native speaker Bahasa Indonesia, Livi juga mengenalkan beragam budaya Nusantara melalui cuplikan film-film karyanya.

Sebagai tradisi penutup kelas Bahasa Indonesia tahun pertama, bacaan perihal tokoh dunia yang menginspirasi diajarkan di kelas tersebut. Dari Indonesia, Ibu Kartini, pionir emansipasi perempuan dan pendidikan dipilih menjadi bahan ajar. Pilihan ini juga berkaitan dengan berakhirnya semester ganjil (Spring Semester) di sebagian besar universitas di AS pada akhir April dan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April. Puncak dari bahasan Kartini adalah perayaan kelas yang antara lain menampilkan batik dan busana kebaya serta menyanyikan dan memainkan angklung dengan lagu “Ibu Kita Kartini”.

“Menjadi dosen tamu dalam rangka peringatan Hari Kartini bersama mahasiswa dari berbagai bangsa di kampus Yale yang global dan menyaksikan betapa bersemangatnya mereka menikmati bahasa serta budaya Indonesia merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. This is amazing and unforgettable,” ujar Livi seusai mengajar.

An Immigrant’s Journey

Dengan topik imigran yang dibawakannya, Livi memaparkan mengenai pengalamannya sebagai imigran dari negeri yang jauh dengan berbagai daya dan upaya serta usaha, hingga berhasil eksis di negeri Paman Sam. Sebagai imigran, Livi adalah seorang yang unik. Dia sudah menghadapi sejumlah tantangan mulai dari mengurus visa kerja hingga sekarang tercatat memiliki visa seniman di AS.

Meski hidup sendiri sebagai imigran di AS, Livi tak gentar dan dengan tekadnya yang membaja dia tidak sekalipun menyerah pada nasib. Dengan talentanya, dia harus memiliki kemampuan, selain juga semangat tinggi, jiwa kompetitif dan berani hidup di negeri yang tingkat persaingannya sangat tinggi itu. AS tak hanya memberikan impian bagi siapa pun yang mau berjuang dan bertarung dengan keras, tetapi juga kenyataan hidup setelah tahapan demi tahapan diraihnya.

Kini, Livi tak hanya ingin membawa harum nama Indonesia, Tanah Air-nya, tetapi juga dapat berperan, dan ikut memberikan sumbangsih terhadap dunia perfilman di AS, dan dunia. Hal itu karena salah satu filmnya berjudul “Brush with Danger” yang juga mengangkat tema imigran telah mewarnai dunia perfilman Hollywood.

Jati Diri

Terkait hal itu sebagian masyarakat AS maupun warga Indonesia di Los Angeles, AS, dan juga sebagian di Indonesia, sudah mengenal Livi sebagai imigran perempuan yang berbakat dan punya potensi besar untuk terus maju. Karya-karya Livi bahkan juga dapat diterima dengan baik oleh publik AS di Los Angeles, dan di negerinya sendiri. Salah satu di antaranya, “Brush with Danger”, film layar lebar karya Livi yang masuk dalam seleksi nominasi Piala Oscar 2015 di antara puluhan ribu film yang beredar di AS pada waktu itu.

Livi sekarang tak hanya memproduksi sejumlah film layar lebar yang tayang di AS, tetapi juga membuat film dokumenter dan iklan, serta tayangan lainnya. Karya-karyanya itu diproduksi tanpa melupakan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia. Juga kekayaan negerinya yang melimpah dengan sumber daya alam dan lingkungan, budaya dan kehidupan manusia yang sangat heterogen dan multi etnis.

Bagi Livi, kehadirannya di salah satu universitas tertua di AS, tak hanya sebuah kebanggaan dirinya semata, tetapi juga kehormatan bagi bangsa Indonesia yang pada tanggal 21 April memperingati hari kelahiran Kartini sebagai tokoh dan pahlawan wanita yang telah berjuang untuk menegakkan emansipasi perempuan Indonesia.
Sebuah kehormatan akan diraih dari kerja keras dan kemampuan seseorang. Juga bagi “Kartini Livi Zheng” di negeri adi daya sekarang ini. Ia dituntut dan ingin membawa keharuman tak hanya nama Indonesia, tetapi juga sosok perempuan asal Indonesia yang tak kenal lelah untuk meraih cita-cita dan mengangkat harkat perempuan Indonesia di mata dunia.

Seperti lirik Ibu Kita Kartini: Ibu kita Kartini, Putri sejati Putri Indonesia, Harum namanya/Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa, Pendekar kaumnya, Untuk merdeka/Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia, Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia. Livi pun, tentunya, ingin membawa harum nama Indonesia tercinta ke tingkat dunia.

Soal Film “Blitar”

Sementara soal produksi film “Blitar” sendiri bukan karena Livi orang Blitar, tapi lebih karena sejarah Indonesia tak bisa lepas dari sejarah Blitar, yang pernah dikuasai oleh bangsa Tartar dari Mongolia. Itulah mengapa kabupaten yang jaraknya sekitar 167 kilometer dari Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur itu diberi nama Blitar. Nama Blitar diambil dari kata Balitar, yang artinya “kembalinya pulang bangsa Tartar” setelah bangsa asal Asia Timur itu dipaksa mundur oleh Nilasuwarna yang diperintahkan oleh Raja Majapahit untuk merebut kembali Blitar. Atas jasanya, Nilasuwarna kemudian diangkat sebagai adipati dengan gelar Aryo Blitar 1.

Dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Sotasoma, pada enam abad yang lalu atau saat Waisaka Tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Majapahit yang terkenal saat itu, Hayam Wuruk, beserta para pengiringnya singgah di Blitar. Mereka mengadakan upacara pemujaan di Candi Penataran di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Soal candi, hingga kini, Blitar juga dijuluki sebagai kabupaten dengan “1000 Candi”. Tak hanya candi utama yang kemudian dinamakan Candi Penataran sebagai candi khusus bagi raja-raja bersemedi, tetapi juga candi-candi lainnya. Di era sebelum berdiri hingga kejayaan Majapahit, banyak raja-raja yang juga melakukan perjalanan dan singgah untuk bertapa di kabupaten Blitar tersebut.

Bahkan, Blitar juga menjadi tempat perabuan raja-raja terkenal lainnya di kota yang menjadi daerah swatantra Kerajaan Majapahit pada saat itu. Mereka di antaranya pendiri kerajaan Majapahit, Raden Wijaya yang membangun tempat pendharmaan atau pertapaannya di Candi Simping atau Candi Sumberjati, yang kini tinggal pondasinya saja. Ada pula Anusapati dari kerajaan Singasari yang mendirikan tempat pertapaannya di Candi Sawentar, dan Ranggawuni di Candi Mleri. Selain itu, didirikan pula candi Kotes sebagai tempat ritual raja-raja Majapahit lainnya ketika memberikan persembahan kepada dewa gunung seperti Dewa Ancala yang dipercaya tinggal di gunung Kelud.

Dengan terusirnya bangsa Tartar, Blitar akhirnya dapat dimasukkan dalam satu kesatuan wilayah kerajaan Majapahit, yang saat itu tengah mewujudkan konsep Nusantara dan kebhinekaan di antara wilayah kerajaan yang tersebar oleh lautan dan kepulauan. Dari Blitar, konsep mewujudkan Nusantara dan Kebhinekaan mendapat aktualisasinya hingga sekarang ini.

Blitar juga dikenal sebagai kabupaten yang banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno menghabiskan masa kecilnya di Blitar. Bahkan, proklamator RI tersebut dimakamkan di sana, dan menjadi ikon Kabupaten Blitar sebagai Kota Proklamator. Supriyadi, Shodancho atau Komandan Kompi Pembela Tanah Air (PETA)– sebuah kesatuan militer bentukan pemerintahan pendudukan militer Jepang atas Indonesia untuk ikut mempertahankan Indonesia dari serangan Pasukan Sekutu–yang melakukan pemberontakan terhadap tentara Jepang, juga dilahirkan dan besar di Blitar. Meskipun kematiannya misterius hingga sekarang ini, jasa-jasa Supriyadi dikenang sebagai pahlawan, yang lokasi perlawanannya kemudian didirikan sebuah monumen Supriyadi.

Desa Sumberdiren, Blitar, juga “melahirkan” seorang pemuda militan dan revolusioner, Soekarni, yang sempat menculik Bung Karno dan Bung Hatta serta membawanya ke Rengas Dengklok, Jawa Barat, untuk mendesak para pemimpin bangsa itu untuk segera memproklamasikan Indonesia pasca kekalahan Jepang dalam Perang Asia Raya 1945.

Sampai era sekarang ini, Blitar juga tetap “melahirkan” tokoh-tokoh nasional yang mendedikasikan kemampuannya bagi kemajuan Indonesia. Sebut saja Prof. Dr. Boediono sebagai Wakil Presiden ke-11 RI di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ada juga Laksamana TNI Agus Suhartono, kelahiran Blitar, yang kemudian dipercaya menjadi Panglima TNI pada periode 28 September 2010 hingga 30 Agustus 2013.

“Triangle Diamond”

Pada hari jadi Blitar yang ke-693 lalu, Livi Zheng pulang kampung untuk syuting film “Blitar” ini. Proses selama syuting filmnya tersebut diakui Livi sangat mengesankan, bukan hanya dirinya, tetapi juga anggota timnya, yang didatangkan dari Los Angeles, Amerika Serikat.

“Kami banyak mengambil gambar upacara-upacara ritual dan pentas seni tradisional Blitar yang sangat menarik dan unik sekali,” tutur Livi, yang kini sibuk mempersiapkan film layar lebar lain yang diharapkan akan diunggulkan di ajang Piala Oscar tahun depan.

Film “Blitar” pertama diluncurkan pada tanggal 3 April bertepatan dengan hari ulang tahun Livi Zheng. Film “Blitar”i mengangkat “Triangle Diamond” yang menunjukkan Tiga Sudut Pandang Berlian di Kabupaten Blitar yang merupakan tempat wisata unggulan. Triangle Diamond terdiri dari Pantai Serang, Perkebunan teh Sirah Kencong, juga Candi Penataran.

Pantai Serang memiliki hamparan pasir yang sangat luas dan indah. Sambil menikmati matahari terbenam, yang sangat indah, pengunjung dapat menyaksikan bagaimana upaya pelestarian penyu hijau sebagai salah satu hewan langka pada saat ini. Bahkan, pada waktu tertentu, pengunjung juga bisa menyaksikan proses pelepasan tukik atau anak penyu menuju habitanya di laut lepas. Kegiatan yang dapat dilakukan pengunjung lainnya di pantai tersebut, di antaranya menikmati mulai dari motor ATV, bermain layang-layang, juga mengikuti upacara larung sesaji pada saat-saat tertentu.

Adapun Sirah Kincong adalah kebun teh di dataran tinggi di kaki Gunung kelud, yang hawanya sejuk dan pemandangannya asri. Di kawasan ini, para pengunjung, dapat melakukan sejumlah kegiatan di antaranya hiking menuju air terjun yang berair sangat jernih, juga merasakan udara sejuk dengan camping di area perkebunan sambil melihat proses petik daun teh hingga produksi. Perkebunan Sirah Kincong tercatat juga telah lama melakukan ekspor produksi tehnya ke luar negeri.

Tentu yang tak bisa dilewatkan adalah bagaimana menelusuri sudut-sudut makam Proklamator Ir. Soekarno yang sudah menjadi ikon Kabupaten Blitar. Eksistensi Ir. Soekarno bukan hanya memproklamirkan Indonesia bersama Drs. Mohammad Hatta, tetapi juga seperti memanggungkan Blitar sebagai kabupaten dengan ikon sejarah dan kemajuannya sekarang ini.
Selanjutnya, premier film “Blitar” akan ditayangkan di Los Angeles, Amerika Serikat, 2 Mei 2018. Tontonan dalam film Blitar ini juga akan semakin hidup dengan akan datangnya tim kesenian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Tim kesenian Pemkab Blitar ini tidak hanya mementaskan seni dan budaya masyarakat, tetapi juga akan membawa pengunjung dan penonton di Los Angeles seolah ikut dan merasakan ritual, estetika dan keindahan panorama serta penghormatan sebuah bangsa atas sejarah negerinya. “Untuk dapat menyaksikan film Blitar, penonton dapat melihatnya pula di https://youtu.be/KCswg4RSChk,” katanya. (*)