Di Balik Aksi Solidaritas untuk Korban Tragedi Bom Surabaya: Indahnya Keberagaman Indonesia Mengalir Jauh Sampai Amerika

Seni budaya Indonesia dikenal masyarakat AS salah satunya karena penampilan para penari Modero Dance Company.

Warga Negara Indonesia (WNI) di Amerika Serikat (AS) menggelar acara solidaritas untuk korban tragedi serangan teroris di Surabaya. Pertama acara yang digelar para WNI di New York pada hari Sabtu 26 Mei 2018 pukul 17.00 – 22.00 malam bertempat di tengah Kota Manhattan. Kedua, WNI di Philadelphia mengadakan acara bertajuk “A Night of Solidarity” dan “One Table Iftar Dinner” pada Jumat 1 Juni 2018 pukul 19.30 di St. Thomas Aquinas Parking Lot.

LAPORAN GATOT SUSANTO

SINTA PENYAMI salah seorang yang menggagas acara “A Night of Solidarity” dan Fefe Anggono, WNI yang memprakarsai acara di New York, mengaku sedih dengan kejadian di Kota Surabaya yang memakan korban jiwa tak berdosa. Keduanya prihatin dengan kondisi di Tanah Air di mana perbedaan masih menjadi masalah dalam menjalin kerukunan antar-umat.

“Kejadian yang menimpa saudara kita di Surabaya malam Minggu kemarin (Minggu pagi WIB) sangat mengejutkan dan juga membuat hati kita sangat sedih dan terluka. Benar-benar suatu peristiwa yang sangat mengejutkan buat semua orang, khususnya kita sebagai warga Surabaya (di Amerika), yang merasa selama ini kita menganggap Surabaya adalah kota paling aman di Indonesia. Tapi dalam satu hari dijadikan sasaran oleh orang-orang yang biadab dan tidak berperikemanusiaan serta menimbulkan banyak korban yang tidak berdosa,” kata Fefe kepada Global News, Rabu 23 Mei 2018.

Sinta Penyami sendiri lalu memposting ajakan untuk bergabung di acara “A Night of Solidarity” sambil menyertakan tautan video lagu “Will You Be There” gubahan sang King of Pop (almarhum) Michael Jackson. “Will You Be There? Memanggil teman-teman saya, di mana saja, dari latar belakang yang beragam, untuk bergabung dengan Komunitas Indonesia di Philly Selatan, mari berkumpul bersama untuk “A Night of Solidarity” dan ‘One Table Iftar Dinner’. Maukah Anda bergabung dengan kami sehingga menunjukkan solidaritas untuk para korban pemboman di Surabaya-Indonesia, atau korban penindasan, ketidakadilan sosial, diskriminasi rasial, penganiayaan agama, kejahatan kebencian terhadap kelompok etnis….#Will You Be There???”

DOK.KELUARGA
KEBERAGAMAN: Sinta Penyami saat berlibur bersama keluarganya.

Gayung pun bersambut. Ajakan itu mendapat respon dari para WNI di AS. Para WNI dari latar belakang yang memang beragam. Yang menunjukkan betapa indah Indonesia.

“Sebenarnya ini bukan ide saya pribadi tetapi ide dari teman-teman yang memang arek-arek Suroboyo di Philadelphia, seperti pemilik Pecel Ndeso itu. Saya berkecimpung dalam bidang seni dan sosial budaya tapi misi kami selalu untuk perubahan sosial (social change),” kata Sinta Penyami kepada Global News Rabu 23 Mei 2018.

Wanita enerjik asal Poso, Sulawesi Tengah, dan besar di Jakarta ini mendirikan kelompok tari di AS. Namanya Modero Dance Company. Grup ini merupakan komunitas yang tidak memandang seseorang dari agama, ras, etnisitas, orientasi seksual, ataupun status imigrasi mereka. Modero menyediakan tempat di mana semua orang boleh mengekspresikan jati diri mereka masing-masing. Tanpa kecuali. Tanpa sekat-sekat.

“Modero selalu ingin menjadi contoh solidaritas kepada semua orang di Philadelphia. Karena itu kami menggelar acara solidaritas untuk Surabaya. Rencananya dilaksanakan Jumat 1 Juni jam 7.30 malam di lapangan parkir St. Thomas Aquinas yang bertema solidaritas dan diakhiri dengan acara buka puasa bersama. Kami akan mengundang komunitas Indonesia dan komunitas-komunitas imigran lain. Acara ini terbuka untuk siapa saja yang mengingingkan perdamaian di dunia. Sejauh ini sambutan dari teman-teman sangat antusias sekali,” ujarnya.

Respon publik Amerika terkait seni-budaya Indonesia memang sangat antusias. Mereka sangat senang setiap kali ada performance seni-budaya Indonesia.

“Mereka welcoming. Namun Modero tidak hanya memperkenalkan kebudayaan Indonesia melalui tari-tarian saja tapi juga melalui festival kuliner, film screening, dan acara gala yang dihadiri oleh beberapa ratus orang. Dan Modero menjadi salah satu partner Event Organizer untuk beberapa even non-profit (NGO) di Philadelphia,” katanya.

Hal ini menjadi salah satu cara untuk mengenalkan keindahan alam dan keramahtamahan Indonesia di tengah stigma banyaknya aksi kekerasan bermotif agama atau etnis di tanah air. Sebagai WNI, Sinta tentu sering mendapat pertanyaan dari orang AS soal adanya aksi kekerasan tersebut. Untuk itu dia berusaha menjelaskan bahwa hal itu hanya sebagian kecil saja. Apalagi dengan adanya sosmed sekarang ini, dia lebih mudah untuk menangkal isu-isu negatif tentang Indonesia.

“Saya selalu berusaha menjelaskan dan memposting hal-hal yang positif dari Indonesia supaya teman-teman dalam komunitas kami sendiri juga menyadari bahwa konflik-konflik yang terjadi di tanah air terkadang adalah konflik yang terisolasi. Saya berasal dari Poso, di mana terjadi kerusuhan beberapa tahun lalu, yang bukan merupakan perang antara Islam dan Kristen. Cara saya menjelaskan kepada publik adalah dengan mengundang mereka ke acara-acara komunitas dan acara diskusi. Karena sekadar menjelaskan saja tidak cukup, tapi bila publik merasa bahwa komunitas Indonesia sangat terbuka maka open communication pun akan terjadi,” katanya.

Sinta Penyami sudah biasa hidup dalam keberagaman budaya dan agama. Dia juga sering berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain mengikuti tugas orang tuanya. Namun ayah Sinta bukan seorang diplomat, tapi seorang akademisi yang menjalankan tugas di sejumlah negara.

“Keluarga saya berasal dari Poso, Sulawesi Tengah. Tapi saya besar di Jakarta. Di tahun 1999 saya berniat melanjutkan studi ke US tapi akhirnya menetap di sini. Karena saya sudah sering ikut ayah saya untuk travel mengikuti konferensi dan pelatihan, saya sangat comfortable untuk tinggal di luar negeri. Dari kecil kami sudah berbahasa Inggris di dalam rumah,” katanya.

Bahkan dia menikah dengan warga negara Amerika dan kemudian tinggal di Bear, Delaware, yang merupakan negara bagian pertama di Amerika Serikat. Tidak banyak orang Indonesia yang tinggal di Delaware. Sinta menikah dengan orang AS tahun 2000 dan memiliki tiga orang anak. Tapi pernikahannya hanya bertahan selama 12 tahun.

“Kami mulai sebagai teman saja tapi kemudian kami memutuskan untuk menikah. Kami memiliki agama yang sama tapi memang ada sedikit perbedaan dalam membina rumah tangga Amerika dengan Indonesia. Orang Amerika cenderung lebih mandiri dan memandang tugas istri dan suami sama saja. Jadi dalam rumah, kedua suami istri membagi tanggung jawab bersama dari bidang keuangan sampai membersihkan rumah. Apalagi di sini kan tidak ada pembantu rumah tangga,” katanya.

Setelah berpisah dengan suami pertama, selanjutnya di tahun 2017 Sinta menikah lagi dengan pria yang juga warga Amerika. Dan sekarang pasangan suami istri ini memiliki lima anak dari perkawinan pertama masing-masing.

“Karena saya sudah terbiasa berbahasa Inggris, bahasa bukan merupakan suatu hal yang menghalangi saya hidup di Amerika. Tapi tentunya kebudayaan di sini berbeda dengan Indonesia. Makanan di sini menurut saya tidak senikmat makanan Indonesia,” katanya.

Saat tinggal di Delaware itulah Sinta mendirikan sebuah klub tari. Namanya Indonesian Cultural Club (ICC) yang didirikan bersama beberapa temannya. Seiring dengan berjalannya waktu, kelompok tari ini mulai dikenal masyarakat. Bahkan dipercaya mengisi sejumlah acara seperti International Night di sejumlah universitas atau acara-acara di kota setempat.

“Saya sudah menari sejak umur 5 tahun di Indonesia dan memang sering menari di acara-acara provinsi seperti di Taman Mini. Di Delaware saya mendirikan Indonesian Cultural Club (ICC) dengan beberapa teman yang kemudian sering tampil di acara festival, dll. Kemudian di tahun 2011 saya pindah ke Philadelphia dan membentuk Modero Dance Company. Karena saya memang memiliki misi dan visi yang agak berbeda dengan ICC. Beberapa anggota ICC memutuskan untuk mendukung Modero. Kami memulai dengan empat penari yang sekarang sudah bertambah dan menjadi 30 penari dari usia 6 tahun sampai 70 tahun,” jelasnya.

Sebagai seniman tari Indonesia di Philadelphia, Sinta sudah menorehkan sejumlah prestasi yang cukup membanggakan. Namanya pun ikut mengharumkan nama Indonesia di kota setempat. Dia antara lain menerima beberapa grant/penghargaan seperti Leeway Foundation Art & Change dan Apprenticeships Grant dari PA Council on the Arts. Modero juga sering diundang untuk menari di acara-acara resmi seperti World Festival of Families sewaktu kunjungan Paus Francis pada tahun 2015, acara resmi dengan Walikota Philadelphia, acara Indonesian Street Festival di KJRI New York, sampai ke Florida di Walt Disney World.

“Dan akhir Mei ini kami berangkat ke Panama City di Amerika Tengah untuk menari atas undangan dari KBRI Panama,” katanya.

Hidup di tanah rantau tentu tidak mudah. Sinta Penyami sudah merasakan jatuh bangunnya hidup di negeri orang. Apalagi Amerika Serikat dikenal sebagai negeri dengan tingkat persaingan yang tinggi mengingat negeri ini menjadi tempat yang diimpikan oleh banyak orang dari berbagai negara. Karena itu dia menyarankan agar para WNI tetap memegang teguh jati diri sebagai bangsa Indonesia dengan keramahtamahannya.

“Banggalah dengan asal kita sebagai orang Indonesia dan selalu berupaya untuk melakukan hal yang positif bagi komunitas kita. Bila kita berjalan sendiri kita akan berjalan cepat, tapi bila kita berjalan bersama-sama kita akan berjalan jauh. Moto gotong royong itu masih sangat penting untuk kita terapkan di Amerika. Kalau orang Poso bilang: Sintuwu Maroso. Hidup yang erat dan kuat,” katanya.

Di sela-sela kesibukannya menyiapkan acara, Sinta tampak tersenyum sambil mendengarkan lagu dari Michael Jackson, “Will You Be There”.

Hold me/Like the River Jordan/And I will then say to thee/You are my friend/Carry me/Like you are my brother/Love me like a mother/Will you be there?… (*)

Tag: