Sumur Minyak Meledak 18 Tewas, Ibrahim: Jangan Biarkan Dikelola Liar!

AFP
BERKOBAR: Api yang membakar sumur pengeboran minyak tradisional di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, belum bisa dipadamkan hingga Rabu, 25 April 2018 siang.

ACEH TIMUR (global-news.co.id) – Sumur minyak tua milik warga di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, meledak Rabu 25 April 2018. Sekitar 18 orang tewas dan 40 orang lain yang mengalami luka bakar serius akibat peristiwa tersebut dirawat di Rumah Sakit Abdul Aziz, Rumah Sakit Zubir Mahmud, dan Rumah Sakit Graha Bunda.

Tragedi semacam ini tidak boleh terulang mengingat masih banyak sumur minyak yang sudah tua akhirnya dikelola oleh masyarakat. Selain di Aceh, ada pula di Bojonegoro dan daerah lain. Karena itu, Pemerintah tidak boleh membiarkan pengelolaan sumur tua migas ini secara liar.

DR IBARHIM HASYIM

Menanggapi peristiwa kebakaran sumur minyak di Aceh Timur ini, bakal Caleg DPR RI dari Partai Nasdem, Dr Ibrahim Hasyim, mengatakan, perlu adanya peraturan dan pengawasan sumur-sumur tua yang semakin bertambah jumlahnya. Produksi sumur ini sebenarnya sudah tidak ekonomis lagi. Namun bagi masyarakat setempat masih bisa dimanfaatkan, sehingga kondisinya semakin luas dan bertambah.

“Sayangnya masyarakat itu tidak terlalu paham soal safety bahaya kebakaran. Dan dalam kenyataannya sudah berapa kali terjadi kebakaran dengan korban manusia,” kata Ibrahim yang juga mantan anggota Komite BPH Migas ini kepada Global News Rabu (25/4/2018).

Ibrahim menyarankan, agar pemerintah mengatur lebih teknis sekiranya sumur minyak tua itu akan diusahakan oleh masyarakat. Pengusahaan oleh masyarakat dalam bentuk koperasi dan lainnya perlu dipikirkan.

Selain itu, lanjut dia, badan usaha pemilik lapangan umur tua harus menutup dan mengawasi kondisi sumur tua tersebut. Masyarakat diberi sosialisasi akan bahayanya pengusahaan sumur tua.

“Sumur-sumur tua migas yang sudah tidak ekonomis diusahakan di masa mendatang yang akan terus meningkat jumlahnya itu tidak boleh dibiarkan tanpa pengaturan dan pengawasan,” ujar Ibrahim yang juga pengamat migas ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Pertamina (Persero) langsung turun ke lokasi. Mereka menginvestigasi kebakaran akibat meledaknya sumur minyak di Aceh Timur. Ini untuk mengetahui kondisi yang terjadi di sana. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, sudah berkoordinasi dengan Pertamina atas kejadian itu. “Pertamina dan Kementerian ESDM kirimkan tim untuk investigasi terhadap kejadian tersebut,” ujar Agung.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyebut ledakan sumur minyak yang terjadi di Aceh bukan berasal dari sumur milik PT Pertamina (Persero). Pertamina disebut hanya membantu memadamkan kebakaran karena posisinya berada di wilayah perseroan.

“Sumurnya bukan milik Pertamina, hanya saja berada di dalam wilayah Pertamina,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Gedung Pertamina, Rabu (25/4).

Menurut laporan yang ia peroleh, sumur tersebut digali secara ilegal oleh masyarakat sekitar. Saat ini, pihaknya bersama Pertamina juga sudah mengirimkan tim guna melakukan investigasi terhadap kejadian tersebut. Ke depan, pihaknya akan memastikan aparat hukum bakal memberi tindakan tegas kepada masyarakat yang melakukan penggalian ilegal.

“Intinya ini kewenangan aparat hukum terkait ilegal drilling. Namun demikian, karena secara teknis kaitannya dengan Pertamina, maka Pertamina dan Kementerian ESDM mengirim tim untuk investigasi terhadap kejadian tersebut,” terang Agung.

Bupati Aceh Timur Hasballah bin HM Thaib mengatakan pemadaman tak bisa dilakukan oleh Dinas Pemadam Kebakaran. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur telah menghubungi tim Pertamina untuk berkoordinasi soal pemadaman ini. “Sementara belum bisa pemadaman karena tekniknya beda dengan (yang dimiliki Dinas) Pemadam Kebakaran. Dari Pertamina sudah kontak, mereka dalam perjalanan sekitar 2-3 jam sampai lokasi,” ucapnya.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan jumlah korban jiwa kebakaran sumur minyak tradisional di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, terus bertambah. Saat berita ini dia sampaikan jumlah korban menjadi 18 orang. “Sekarang bertambah menjadi 18 korban jiwa dengan kondisi 70 persen luka bakar,” kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Setyo menyebut hingga kini kobaran api masih belum dapat dipadamkan. Kobaran api juga menghanguskan lima rumah warga. “Beberapa rumah juga terbakar. Api sampai sekarang belum dapat dipadamkan. Kalau lihat foto api itu setinggi seratus meter,” katanya. Setyo menyebut pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara buat mengetahui penyebabnya. Nantinya temuan polisi akan dikoordinasikan dengan para ahli.

Dia menyatakan pihak kepolisian menjadikan 40 korban sebagai saksi. “Saksi itu 40 orang luka-luka yang dijadikan saksi sebab berada di lokasi. Tapi kami masih menunggu pemulihan korban,” ujar Setyo.

Dia mengatakan kasus ini tidak ada kaitannya dengan Pertamina karena sumur yang terbakar dikelola oleh warga secara ilegal. Meski demikian aparat tetap menghadirkan ahli dari perusahaan BUMN tersebut. “Mereka (Pertamina) ahli perminyakan. Pengelolaan sumur tidak ada izin, warga yang mengelola,” kata Setyo.

Setyo menyebut pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab terbakarnya sumur tradisional ini. Setyo menduga penyebab kebakaran terjadi karena api berasal dari rokok. “Penyebab meledaknya masih diselidiki. Banyak orang di situ ada yang merokok. Namanya juga di kampung, pasti berebutan minyak jadi ramai gitu,” kata Setyo. Dia mengatakan masih banyak sumur tradisional di Indonesia yang dikeola secara ilegal oleh warga. Padahal keselamatan menjadi hal yang paling utama dalam pengeboran minyak.

Di tempat terpisah, Camat Ranto Peureulak, Saiful, saat dihubungi lewat telepon, Rabu (25/4/2018), mengatakan, ledakan terjadi Rabu dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Ledakan terdengar sangat keras dan kobaran api membumbung tinggi. Percikan api awalnya muncul dari salah satu sumur bor penambangan minyak tradisional yang dilakukan oleh warga setempat. Kobaran api lalu menyambar warga yang berada di lokasi dan tiga rumah. Sedikitnya 18 korban tewas akibat luka bakar. Mereka tampak tergeletak di lokasi. Sementara korban luka-luka dievakuasi ke rumah sakit setempat.

Staf Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Henny Nurmayani, mengatakan, seluruh identitas korban tewas sudah diketahui. Mereka antara lain Nazarullah (30 tahun) warga Pasi Puteh, Ranto Peureulak, Afrizal/Doyok (35) warga Punti Payong Ranto Peureulak, Era bin M. Sidik (32) warga Pasi Puteh Ranto Peureulak, Siti Hafsah (70) warga Pasi Puteh Ranto Peureulak, Mak Wen (55) warga Bhom Lama Ranto Peureulak, Kak Nini bin Abdul Wahab (32) warga Bhom Lama Ranto Peureulak, Riski Ardiansyah warga Pasi Puteh Ranto Peureulak, Eridansyah warga Alue Dua Ranto Peureulak, Sudaryono warga Alue Bate Ranto Peureulak, dan Dedi Syahputra (29) warga Bhom Lama Ranto Peureulak.
Belum diketahui penyebab ledakan ini. Polisi dan Pemda Aceh Timur saat ini terus menyelidikinya. Tapi Polisi menduga, ledakan itu terjadi saat masyarakat sedang ramai-ramai melakukan penggalian lalu ada percikan api yang langsung berkobar.

“Terjadinya ledakan pada sumur minyak tersebut diduga pada saat sejumlah masyarakat Peureulak Aceh Timur tengah melaksanakan penggalian minyak pada sumur minyak secara tradisonal, sehingga mengakibatkan korban jiwa,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Misbahul Munauwar saat dikonfirmasi Rabu (25/4/2018).

Akibat ledakan tersebut, api membumbung setinggi 100 meter. Puluhan warga yang berada di lokasi untuk melihat penggalian menjadi korban. Besarnya kobaran api hingga Rabu siang api belum berhasil dipadamkan.

Polisi masih melakukan koordinas dengan Pertamina untuk memadamkan api. Lokasi sumur minyak yang meledak ini merupakan milik warga dan pemiliknya tewas dalam insiden tersebut. “Kita akan melakukan koordinasi dengan Pertamina dan pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang masih menyala,” jelas Misbahul.

Kelebihan Minyak

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan kronologi kejadian tersebut, Rabu (25/4/2018). Pukul 00.01 WIB, kata dia, sumur bor minyak bertempat di Jalan Pendidikan, Dusun Kamar Dingin, Desa Pasir Putih Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Atim, yang diperkirakan kedalaman pengeboran sekitar 250 meter di dalam bumi mengalami kelebihan produksi hasil minyak mentah. Akibat kelebihan produksi (nembak minyak) tersebut banyak masyarakat yang melakukan pengumpulan minyak di sekitar sumur bor tersebut untuk dikumpulkan ke dalam drum (tempat penampungan minyak).

Selanjutnya pukul 01.30 WIB, tiba-tiba muncul percikan api di sekitar lokasi sumur bor tersebut, yang seketika langsung menyambar di seputaran lokasi pengeboran dan penampungan minyak. Semburan api yang besar mengakibatkan puluhan orang yang berada di sekitar lokasi mengalami kebakaran dan diperkirakan korban tidak sempat menyelamatkan diri pada saat kejadian.

Pukul 02.30 WIB, dua unit mobil pemadam kebakaran dari wilayah Peureulak tiba di lokasi kejadian membantu untuk memadamkan semburan api. Tapi api belum berhasil dipadamkan.
Sutopo menambahkan, para korban sebagian sudah dibawa ke RSUD Sultan Abdul Aziz Syah dan RSUD dr Jubir Mahmud. “Untuk jumlah korban masih dalam pendataan lebih lanjut karena api masih belum bisa dipadamkan,” ujarnya.

Sebelumnya sumur minyak tua Kedewan (W43) yang berada di kawasan Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, juga pernah terbakar pada tahun 2014 silam. Api diduga berasal dari percikan api di pompa minyak.

Api menjalar dengan cepat lantaran di sekitar lokasi sumur tua banyak terdapat minyak mentah (lantung) dari kegiatan pengeboran minyak secara tradisional. Salah satu penambang minyak tradisional, Kaminto, 38, mengatakan, saat kebakaran, sumur itu sedang dioperasikan sekitar 40 penambang minyak tradisional. Akan tetapi, tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu. Semua penambang tradisional berhasil menyelamatkan diri. “Sumur yang terbakar itu merupakan sumur lama,” ujarnya.


* fan/det/wis/