Sate Kuda, Imbangi Istri Sebelum Subuh

 

ilustrasi

Samian. Umurnya 67 tahun. Tinggi badangnnya 156 cm. Tidak tinggi. Apalagi gagah. Hanya saja, meski orangnya kurus dan pendek, jangan dikira kalau soal ranjang dia seperti postur tubuhnya. Meski usianya sudah memasuki “senja”, tetapi dia memliki istri yang masih muda.

Pensiunan sebuah BUMN tersebut mempunyai istri yang selisihnya 26 tahun. Istrinya baru berumur 41 tahun. “Ini istri yang ke dua. Yang pertama, meninggal 13 tahun yang lalu. Saya menikah kedua kalinya dengan perawan tua  10 tahun yang lalu. Repot mempuyai istri yang jauh lebih muda. Harus punya energy ekstra,” katanya.

Palang onggu. Oreng laen senneng andik binih ngodheh, areyah mak aserroh maloloh. Pola tak bisa ngimbangi binih ngodheh (Celaka benar. Orang lain senang mempunyai istri muda, ini orang malah mengeluh. Jangan-jangan tak bisa mengimbangi istri muda, Madura RED),” kata Mat Tadji.

Bapak bisa ngimbangi gak dengan istri mudanya? Tentang ini Samian mengatakan, awal-awal pernikahan, ya masih bisalah, tetapi sekarang dirinya sudah 67 tahun tentunya cukup kerepotan. Apalagi, terkadang sang istri minta semalam sebanyak dua ronde. Ini yang terkadang membuat Samian lunglai.

“Saya tak memungkiri, dengan usia yang sudah 67 tahun itu cukup susah memberikan ‘perlawanan’ dengan istri yang masih berumur 41 tahun. Kadang istri saya mau tidur minta, nanti sebelum subuh minta lagi. Ancur mas. Apalagi, kadang tidak tertalu tegak punyak saya,” katanya terkekeh.

Dia pun mencari informasi agar keperkasaan saat masih muda datang kembali. Bebagai jamu tradisional diminumnya. Ada hasilnya,  meski tak banyak, tetapi ada satu yang membuat dia lebih percaya diri. Apa itu?

“Sate kuda. Seminggu sekali saya menyantap sate kuda. 10 tusuk sudah cukup. Lumayan. Saya kembali bisa mengimbangi kegairah istri. Apalagi untuk menghadapi permainan sebelum subuh,” kata Samian tersenyum tersipu.(*)