Menjaga Kualitas Generasi dengan ‘Kampung ASI Eksklusif’

GN/Masdawi Dahlan
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan memberi penyuluhan tentang pentingnya peran suami dalam pemberian ASI Eksklusif terhadap buah hati mereka.

PAMEKASAN (global-news.co.id)-Satu dari lima program inovasi pelayanan publik Pamekasan yang lolos menuju penilaian Top 99 dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) gelaran Kementerian PAN-RB adalah program Kampung ASI (air susu ibu)  Eksklusif (Kapas). Program ini hasil inovasi Puskesmas Bulangan Haji, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan.

Kapas adalah program peningkatan pemberian ASI Eksklusif bagi anak, yang tersentral di dusun atau kampung di desa, dengan tidak hanya menyerahkan tugas itu kepada sang ibu saja, melainkan juga melibatkan peran bapak atau suami. Sehingga suami memiliki peran strategis untuk pemberian ASI yang baik bagi bayi.

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI yang diberikan pada anak mulai lahir hingga 6 bulan. Dalam usia itu anak hanya diberi ASI saja tanpa diberi makan atau minuman lainnya. Pemberian ASI ini juga bisa dilanjutkan secara terencana hingga anak berusia 2 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Pamekasan Drs HM Ismail Bey didampingi Kepala Puskesmas Bulangan Hj. Nur Rahmah SST M MKes mengatakan program Kapas ini dilatarbelakangi oleh kondisi lapangan yang menunjukkan ternyata pemberian ASI Eksklusif sangat rendah di masyarakat.

“ASI Eksklusif menjadi kebutuhan pokok dan vital bagi bayi. Untuk menjaga keterpenuhan gizi, kesehatan dan pertumbuhan  bayi. Nah selama ini hasil pemantauan kami sangat rendah. Padahal untuk melakukan itu dengan baik sangat mungkin bisa  kita lakukan. Karena itu kami programkan Kapas ini, dan alhamdulillah berjalan bagus,” katanya, Sabtu (28/4/18).

Kapas ini dilaksanakan dengan sasaran pokok adalah para ibu hamil, nifas dan ibu menyusui. Program ini dilakukan di 5 desa wilayah binaan Puskesmas Bulanganhaji. Di tiap desa sejumlah kampung atau dusun dibentuk  kelompok yang di dalamnya melakukan kegiatan pembinaan secara berkala.

“Dalam pembinaan ini, para suami dalam kelompoknya dituntut untuk memberikan pnyuluhan bagi warga masyarakat, kami di dalamnya sebagai pembina. Sebelumnya para suami itu juga telah kami beri pembinaan tentang apa dan bagaimana cara memberikan ASI Ekslusif itu,” tambahnya.

Kalau sebelumnya penyuluhan tentang ASI Ekslusif hanya dilakukan oleh aparat pemerintah, kata Nur rahmah, dengan program ini para suami dan karang taruna ikut dilibatkan, sehingga sangat memungkinkan adanya keterlibatan pihak lain yakni  para suami sehingga pemberian Asi ekslusif akan efektif bagi amnak.

Program ini juga melibatkan lintas sektoral, yakni kecamatan, polsek, koramil, cabang dinas pendidikan, kemenag dan tokoh masyarakat. Sehingga diharapkan nantinya  program Kapas ini juga dipahami banyak elemen terkait yang gunanya efektifitas sosialisaai pemerataan pembinaan ASI Eksklusif ini.

“Kini masyarakat sudah memahami pentingnya program ini. Sehingga masyarakat ada yang menyampaikan usulan untuk membuat banyak kegiatan yang bisa menunjang tercapainya sosialisasi program Kapas secara merata di masyarakat. Program ini direncanankan tahun 2017 lalu dan baru direalisasikan dan barjalan baik mulai tahun 2018 ini,” ungkap Nur Rahmah.

Sebelum program Kapas, Puskesmas Bulanganhaji juga telah memiliki inovasi yakni program Brownis ( Berolahraga Mewaspadai Penyakit Kronis) yang bertujuan untuk menjaga munculnya panyakit kronis. Yang kedua bernama program inovasi  Biduk Cinta (Bidan dan dukun Cinta Ibu dan Anak). Program ini tujuannya untuk turunkan angka kematian ibu dan anak. (mas/*)