Mengikuti Kiprah Diaspora di New York AS: Mustari Menjembatani Artis, Andri Sukses Bisnis ‘Narik Becak’

DIASPORA: Mustari Siara bersama keluarga di New York. Foto lain, Andriyanto Suprayitno bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di AS.

Dua warga negara Indonesia di Amerika Serikat, Andriyanto Suprayitno dan Mustari Siara, sukses membangun usaha di negara Paman Sam. Mereka merintis hidup di negeri impian itu mulai dari nol. Mereka berharap bisa pulang ke Tanah Air ikut membangun Indonesia. Cuma keduanya meminta agar ada kemudahan bagi diaspora yang pulang ke kampung halaman, termasuk diperbolehkan dwi kewarganegaraan.

LAPORAN GATOT SUSANTO

MUSTARI SIARA merantau ke Amerika sejak tahun 1999. Ketika itu kondisi Indonesia sedang tidak stabil baik secara ekonomi maupun politik sehingga dia pun mencari peruntungan di negeri Paman Sam.

Saat ini pria asal Sinjai Sulawesi Selatan itu sudah menetap di New York bersama keluarganya. Sejumlah even yang digelar para diaspora melibatkan Mustari Siara.

Saat pertama merantau di AS, Mustari bekerja serabutan. Namun kemudian Mustari memanfaatkan keahliannya di bidang seni budaya, khususnya film, bersama teman-teman diaspora asal Indonesia yang lain mempromosikan kekayaan seni budaya Indonesia di New York. Salah satunya dengan menggelar acara tahunan Indonesia Street Festival di pusat Kota Manhattan. Sejumlah atraksi seni budaya Indonesia digelar di even yang mampu menyedot perhatian para turis ini. Dan karena sangat diminati para wisatawan akhirnya even ini masuk agenda tahunan acara pemerintah kota. Kedua belah pihak sama sama diuntungkan. “Mereka bilang working together?” kata Mustari kepada Global News Rabu 25 April 2018.

Awalnya acara yang juga didukung KJRI ini digelar di dalam ruangan. Untuk itu harus menyewa gedung. Namun kemudian karena biaya cukup besar muncul ide digelar di ruang terbuka. Panitia tinggal meminta izin ke aparat setempat. Sejumlah artis Indonesia pernah tampil di acara ini seperti Ayu Azhari, Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, Ray Sahetapy, dan lain-lain. Mereka mengadakan konser dan pertunjukan seni budaya Indonesia.

Selain itu, Mustari ingin menjembatani potensi yang ada di Indonesia dengan pasar di Amerika. Misalnya bila ada peluang di dunia film Hollywood, kata dia, pasti akan disampaikan ke para pekerja film di tanah air. Mustari sampai sekarang masih aktif di grup WA (what’sapp) Parfi alias Persatuan Artis Film Indonesia.

“Selain seni budaya, mempromosikan Indonesia juga lewat kuliner. Kami sering sekali mengadakan bazar yang menampilkan produk Indonesia, yang asal Jawa Timur menampilkan menu kuliner Jawa Timur dan lain-lain. Para diaspora mengadakan di kota masing-masing, pekan lalu misalnya di Philadelphia ada bazar, kami dari New York atau kota lain juga datang ke sana. Kami senang makan makanan Indonesia dan bersilaturahim dengan WNI dari kota lain. Kami para WNI kompak. Saling mendukung. Sama dengan Philadelphia, di New York juga banyak wong Suroboyo,” kata pria yang pernah sekolah di SMPN 39 Jakarta bersama adik artis Emilia Contessa, Dino Rosano Hansa ini.

Namun pria kelahiran tahun 1960 ini sebenarnya ingin mudik ke Indonesia. Terakhir dia pulang tahun 2004. Hanya saja untuk membawa pulang keluarga ke Sinjay butuh biaya banyak dan penerbangan yang melelahkan. “Hampir 24 jam. Capek,” katanya.
Dia berharap agar WNI tidak lagi berbondong-bondong ke AS seperti dulu sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai membaik. Bahkan kalau perlu para diaspora mudik untuk membangun Indonesia. “Boleh jauh merantau, tapi tetap harus ingat untuk membangun kampung halaman. Ini terutama yang kaum muda dan sukses di AS,” katanya.

Bisnis Travel dari Nol

Hal serupa dialami Andriyanto Suprayitno. Pria ini lebih dikenal sebagai bos tukang becak di New York. Andri juga memiliki pengalaman berkesan saat pertama merantau ke AS. Bekerja apa saja dengan bekal terbatas dan tidak lancar berbahasa Inggris.

Setelah bekerja di sejumlah tempat selama satu tahun, Andri pindah ke New York. Tapi saat itu dia masih tetap menjadi pelayan restoran. Di kota ini pula dia sempat nyambi sebagai penarik becak (pedicab wheels) di kawasan Central Park. “Pekerjaan paling sehat, tidak polusi, menyenangkan dan hasilnya lumayan,” kata Andri.

Kariernya mulai berubah ketika dia banting stir dengan bergabung bersama biro travel setempat. Ia mulai mengenal banyak orang dan melihat celah bisnis yang lebih luas. Andri mengubah pekerjaan yang dulunya berbasis keterampilan dan jasa, lalu beralih kepada keahlian, pelayanan, jaringan, dan lobi-lobi.

Lagi-lagi, Andri tidak puas dengan bekerja kepada orang lain. Pada 2016, dia memilih untuk usaha sendiri menjadi agen perjalanan dengan modal 3.000 dolar AS. “Untuk down payment kendaraan mini van dan pembayaran surat izin pembuatan company di US,” kata Andri bersemangat.

Saat ini, dia memiliki klien dan pelanggan dari berbagai segmen. Dari kalangan turis biasa, para bos perusahaan ternama di tanah air, artis dan sutradara film, tamu konsulat KJRI, sampai mengantar menteri yang sedang kunjungan kerja ke negeri Paman Sam. Namun, dia tak membeda-bedakan tamunya.
“Bagi saya, semua tamu VVIP. Service sama. Ke mana saja ayo. Dan yang pasti, rahasia dijamin,” ucap pria yang masih single ini.

Rahasia yang dia maksud adalah lokasi tujuan, nama-nama rombongan dan apa-apa saja yang terjadi dalam perjalanan itu. Sebab, tidak bisa dipungkiri, lokasi maupun apapun yang terjadi dapat menjadi isu sensitif atau dapat merusak reputasi tamu di tanah air.

“Saya yang nganter Annisa Hasibuan (bos First Travel yang terkena kasus ribuan jamaah umrah gagal berangkat ke Tanah Suci) keliling New York. Andika (suami Annisa) juga saya. Setelah kasusnya meledak, saya ditelepon wartawan-wartawan Indonesia ingin tahu lokasi, gaya hidup dan tempat-tempat yang disinggahi. Saya bilang, maaf saya nggak bisa menjawab. Itu rahasia klien. Tidak bagus buat bisnis (kalau dibuka),” kata Andri seperti dikutip finance.detik.com.

Dengan menjaga prinsip kepercayaan tersebut, dia semakin berkibar dan yakin mampu menundukkan New York. Tentu, tanpa harus lupa kacang akan kulitnya, mengenang masa-masa sulit satu dekade silam. “You are not going to appreciate your success if you never started from below. (Anda tidak akan menghargai kesuksesan jika Anda tidak pernah memulainya dari bawah),” ujar Andri.

Bagaimana Andri Suprayitno merintis bisnis yang mengandalkan pelayanan, networking dan entrepreneur tersebut? “Awalnya bertemu teman Indonesia di New York yang suka nganter tamu kalau lagi ada di New York. Lalu dia mulai kebanjiran tamu dan mulai kewalahan meng-handle mereka semua,” katanya.

Lantas, Andri mulai menawarkan bantuan untuk ikut mengurusi sebagian tamu tersebut. Lama kelamaan, dia mulai terbiasa dengan bisnis agensi perjalanan yang dirasa lebih menjanjikan dan meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koki dan pelayan restoran. “Lalu saya tawarkan bantuan dan kita menjadi partner. Tamu pertama saya sudah lupa, sepertinya tamu biasa yang dari kalangan turis biasa,” kata Andri.

Tak lebih dari setahun, Andri memilih untuk mendirikan bisnis biro jasa sendiri, AS_Ventour, dengan modal awal 3.000 dolar AS. Jumlah itu untuk mengurus surat izin pembuatan perusahaan di AS dan membayar uang muka mobil. Selebihnya, kendaraan lain dia sewa karena relatif lebih murah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan klien. Sebagai contoh, sewa mobil sedan limousin super panjang hanya US$ 300 per 12 jam. Untuk mobil biasa pada kisaran US$ 50 dengan durasi yang sama.

Ia mulai mencari turis asal Indonesia yang berencana liburan di AS. Strateginya, berbasis support community, perjalanan yang berbasis komunitas, keluarga hingga rombongan tertentu.
Tak cuma urusan transportasi, dia juga melakukan urusan logistik, akomodasi dan destinasi khusus. Kebutuhan itu seperti perhelatan New York Fashion Week maupun kunjungan budaya dari Indonesia. Sampai kebutuhan menjadi pembawa acara bisa dia lakoni. “Kita tidak terbatas hanya transportasi terkadang kalau mereka butuh di event management, kita lakukan. Mencari spot-spot menarik untuk pemotretan, kita siapkan,” imbuhnya.

Tak sampai setahun, loyalitas dan kepercayaan klien mulai terbentuk. Ia sempat diminta mengantarkan traveler di daerah pantai barat (West Coast) meski ia berada di sisi sebaliknya. “Saya diberi tiket pesawat dari New York ke Los Angeles pp (pulang pergi),” imbuh Andri yang tidak berapa lama lagi akan memegang izin tinggal sebagai US resident/ citizenship.

Berani Memulai

Lalu bagaimana Andri pertama kali memutuskan merantau ke AS? Kepada Global News, dia mengaku mendaftar ke agen tenaga kerja namanya Perwita Nusantara pada tahun 2004 setelah lulus dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (NHI) mengambil jurusan manajemen tata hidangan. Kantor perusahaan itu di daerah Setra Sari Bandung dan dia tidak ada situs online.

“Alasan pertama setelah saya melihat kakak kelas saya dari STP Bandung yang bernama Ivan Windro di situs social Friendster back in the day dan dia terlihat menikmati hidup dengan ‘american dream’ di pagenya. Saya juga punya cita-cita untuk berkeliling dunia dan setelah banyak melihat film-film Hollywood seperti Knight Rider, MacGyver, Tour of Duty, saya sangat ingin sekali melihat Amerika dengan mata kepala saya sendiri,” kata Andri kepada Global News Rabu 25 April 2018.

Biaya untuk merantau ke AS pada saat itu berkisar 5.000 dolar AS. Ketika itu orang tua Andri harus menjual mobilnya untuk mendukung cita-cita anaknya. Sempat takut gagal hidup di negeri orang, namun setelah melihat kakak kelasnya berhasil berangkat ke negeri impian, dia pun akhirnya terbang ke negerinya Donald Trump itu. Dia hanya berusaha berikhtiar dan berdoa agar semuanya lancar.

“Pada saat itu ada beberapa agent pengirim pekerja ke US kurang lebih dua agent. Satu di Bali saya sudah lupa namanya dan satu di Bandung dan Jakarta dengan nama Elkarim yang pada tahun ketiga saya sangat beruntung bisa kembali ke US dan banyak calon-calon pekerja yang mau ke US dan akhirnya tertipu dan banyak uang DP-nya tidak dikembalikan,” ujarnya, mengenang.

Tahun 2003-2005 visa Andri diurus dan banyak sekali proses yang harus dia lalui. “Visa saya waktu itu H2B or seasonal worker. Beberapa kesulitan adalah mencari company yang ingin memberi sponsor visa kerja kita. Lalu kalau mereka sudah memberikan sponsor proses ini berlanjut ke department of state make sure kalo mereka approve proses ini. Kita juga harus kebagian kuota untuk eligibility visa ini. Visa H2B ada jatah tersendiri setiap tahunnya untuk seluruh peserta yang berasal dari seluruh dunia. Setelah kita dapet petisi dari department of state kita buat appointment ke US embassy di Jakarta dan dulu saya juga pernah apply yang di Surabaya. Di sinilah ajang pamungkas kita dan penentuan semua orang dapet visa ke US karena tidak hanya dilihat dari skills, material dll.

Terkadang banyak sekali factor X yang menentukan keberhasilan seseorang untuk sukses disapprove visanya ke US. Yang paling terpenting ketika di-interview adalah bagaimana cara kita meyakinkan mereka, bahwa kita akan bekerja dengan benar dan kembali ke Indonesia sebelum masa kontrak selesai,” kata Andri.

Dia pun lolos dan mendapatkan visa. Andri terbang ke AS lalu masuk Kota Rapid City, South Dakota. “Somewhere out of nowhere. Its empty space with many deer crossed all over the place. Sangat jauh sekali dengan apa yang saya lihat di film-film Hollywood. Tidak ada gedung-gedung tinggi, cuman banyak tanah kosong dan beautiful landscape. Saya bekerja sebagai housekeeping di mana kita tidak berinteraksi dengan orang banyak terutama orang Amerika. Saya lebih banyak berkomunikasi dengan Bahasa Sunda daripada Bahasa Inggris. Saya teringat cerita teman ketika dia ditanya oleh SPV housekeeping “how you doing?”. Dan teman saya itu menjawab “im cleaning a bathroom mam”. Jadi “how you doing mean apa kabar tapi teman saya litteraly mengartikan apa yang kamu kerjakan, “doing”.

Pengalaman pribadi saya mungkin selalu menggunakan “actually” setiap kali akan memulai percakapan dan mereka akhirnya mereka memangil saya mister actually,” katanya sambil tertawa.
Pengalaman berkesan lain, dia pernah jalan kaki di tengah-tengah badai salju untuk pergi ke tepat kerja kedua. Saat itu orang-orang dari mobil meneriaki Andri, “ are you crazy walking in the middle of blizzard?” Namun Andri menjawab, “i m not crazy, I just poor…”

Lalu dia juga pernah dimarahi oleh bosnya ketika bekerja di Olive Garden restaurant karena terlalu jujur ketika bekerja di resto dan tamu komplain kenapa spaghetti terlihat keras dan crispy? Andri pun menjawab karena menunggu terlalu lama di atas kitchen window di bawah salamander light supaya tetap hangat. Alhasil spaghety pun jadi crispy.

“Namun saya di tempat ini justru terpilih sebagai the first best employee of the house yang pertama kali diadakan di resto ini,” katanya bangga.

Namun dengan semua capaiannya itu, Andri merasa masih jauh dari sukses. Mungkin dia hanya lebih baik sedikit dibandingkan teman-teman perantauan lain. Penerjemahan sukses selalu berbeda definisinya bagi semua orang.

“Untuk saya sukses adalah mewujudkan semua cita-cita yang pernah diimpikan dan bisa jadi berkah di manapun saya tinggal. Experiences is my main teacher. Saya sangat bersyukur dan sangat merasa bersyukur karena bisa dapet banyak pengalaman dari negara ini. Saya dapat kesempatan belajar dan bekerja dari berbagai macam etnik dan kebudayaan. Dari bekerja dengan orang-orang redneck, native American, black American, dan sekarang di New York dengan keberagaman racial and culture,” katanya.

Kunci dari setiap pengalaman yang dia dapat adalah apabila pengalaman itu menyenangkan kita embrace dan kita jadikan bagian dari sejarah hidup kita dan bagaimana caranya kita meningkatkannya kualitas yang sudah didapatkan sebelumnya. Buat pengalaman yang kurang memuaskan kita jadikan pelajaran dan jadikan bahan pembelajaran untuk masa depan. “My main motto regarding my own experiences is never stay too long on your comfort zone, always challenge yourself with your uncomfort zone to step up for another level of life,” katanya.

Sejumlah orang sukses dengan cara “mencuri” ilmu dari orang lain. Bagi Andri itu artinya belajar dari teman kerja dan atasan kita. “Be a good listener and have a great attitude toward them. Smart people without great attitude worth nothing. Average people with great attitude have a higher chance to be success person. Kita banyak belajar dari berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda dan kita ambil ilmunya dari semua orang dan kita buat cara kita dengan sentuhan tersendiri khas kita sebagai orang timur,” katanya.

Andri akhirnya jenuh hanya sebagai pekerja. Dia pun memulai bisnisnya. “Ketika saya sudah tidak nyaman di comfort zone saya dan hidup monoton dan merasa kurang tantangan dan less excitement. Banyak observasi dan terkadang harus mengikuti kata hati walau terkadang kita terjatuh dan melakukan kesalahan itu lebih baik daripada tidak pernah berusaha sama sekali. Regulasi, persyaratan dan rasa ketakutan dan kurang PD sebagai orang dari negara ketiga, terkadang ini yang menghambat kawan-kawan dan saya sendiri untuk thrive to be better and get acknowledgment from the world (berkembang menjadi lebih baik dan mendapat pengakuan dari dunia),” katanya.

Sama dengan di tanah air, selain keahlian, modal juga sangat penting. Namun di New York banyak sekali institusi keuangan dan perbankan yang bisa membantu asalkan kita memenuhi persyaratan dari pemerintah kota. Begitu pula soal jaringan. Hal itu salah satu penentu utama maju tidaknya bisnis di dunia terutama di Amerika.

“Who you hang out with is determined your business prospects. Social media this day is really take a main roll on how success your business running in US and bagaimana cara kita untuk give it back to community. Satu lagi modal yang paling penting ialah keberanian untuk mengejar cita-cita kita. Banyak orang yang banyak modal usaha tapi tidak ada keberanian untuk memulai usaha sendiri,” katanya.

Andri juga setuju dengan Mustari Siara, bahwa WNI yang sukses di Amerika perlu pulang kampung ikut membangun Indonesia. Andri sendiri tahun lalu ketika pulang ke Indonesia sempat mendapat kesempatan mendampingi Chef Indonesia paling sukses di Amerika. Namanya Chef Yono Purnomo ketika melakukan kunjungan di Indonesia dalam rangka memberikan pengalaman dan guest lecture ke berbagai institusi perhotelan di Indonesia. “Dan saya diminta untuk sharing dan menjadi guest lecture di Akpar Medan dan juga almamater saya STP Bandung/ NHI,” katanya.

Namun di lain pihak bahwa Indonesia harus lebih memperhatikan dan memberikan kemudahan buat para diaspora Indonesia yang berada di seluruh dunia, khusunya dalam izin tinggal dan juga memungkinkan kita memiliki dwi-kewarganegaraan. “There’s nothing but advantages that Indonesia will get if they allow indo diaspora people have dual citizenship,” ujar pria kelahiran Bandung dengan ayah asal Malang dan ibu asli Padang ini. *