Jatuhnya Harga Tembakau Jadi Perhatian BAS ‘82

 

Petani merawat bibit tembakau yang baru berusia satu bulan, di Desa Dasuk, Padewamu, Pamekasan menjelang musim tanam tembakau, GN/Istimewa

PAMEKASAN (global-news.co.id) Jatuhnya harga tembakau Madura mendapat perhatian para anggota Bhakti Alumni SMPP Pamekasan (BAS) Angkatan 1982 (BAS ’82). Dalam persoalan tembakau, Petani Madura selalu berada di posisi yang tak pernah diuntungkan. Pada awal panen harga “membaik”, tetapi memasuki panen raya, harga “berjatuhan”, padahal mutu tidak kalah dibanding panen awal. Bahkan bisa jadi lebih baik.

“Ini persoalan lama dan menahun. Tanpa ada penyelesaian saling menguntungkan. Hingga saat ini yang rugi pastilah petaninya, dan yang untung besar pabrikan. Ini harus segera dicarikan jalan keluar. Ya setidaknya kepala daerah (para bupati) di Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep (Sentara produksi tembakau Madura) mempunyai perhatian terhadap harga tembakau tersebut,” kata Sachiroel Alim, Anggota BAS ’82.

Politikus asal Partai Demokrat yang mempunyai perhatian kepada petani ini mengatakan, hingga saaat ini, harga tembakau hanya tergantung kepada yang melakukan tester. Jadi, harga itu, tergantung daya cium tembakau. Tak ada standarisasi, sehingga dapat dikata dalam menentukan harga tembakau Madura, para tester itu ngawur. Apalagi, kalau sudah panen raya, harga itu seenaknya dikeluarkan pabrikan.

“Anchor pessenah tellor, kalau begini terus. Ini harus ada jalan keluar. Pemerintah daerab harus punya perhatian dalam masalah ini. Mengapa? Karena tembakau merupakan salah satu sektor ekonomi yang penghasilannya cukup lumayan,” katanya.

Sementara Adi S., salah seorang pengusaha yang juga anggota BAS ’82 mengatakan, dalam hal harga tembakau, cukup sulit memberantasnya. Perlu god will dari pihak pemerintah daerah. Khususnya Sumenep dan Pamekasan. Pihaknya pernah memberikan usulan bagaimana menata bisnis tembakau ini dengan baik, sehingga petani tak dirugikan, tetapi pihaknya mendapat tantangan keras dari berbagai pihak.

“Bisa jadi karena mata rantainya yang panjang, sehingga hal tersebut merugikan petani. Saya usulkan, seharusnya ada BUMD yang menangani bisnis tembakau ini, sehingga keberadaannya dapat membantu permainan harga tembakau yang merugikan petani itu,” kata Pram Jaya, alumni lainnya.

Kini disejumlah daerah di Madura sudah berancang-ancang untuk menanam tembakau. Berbagai pikiran juga muncul di tingkat petani. Jangan-jangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Harga awal saja yang dapat dikata bagus, setelah panen lalu anjlok. Pada tahun 2017, awal panen harga tembakau di Pamekasan kisaran Rp 40.000 per kilogramnya. Harga itu semakin merolot menjadi kisaran Rp 11.000, saat panen raya tiba. (Erfandi Putra)