Jabat Dirut Sementara Pertamina, Nicke Widyawati Pernah Pimpin PT PLN  

Nicke Widyawati

JAKARTA (global-news.co.id)-Nicke Widyawati ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Pertamina (Persero), setelah pencopotan Elia Massa Manik .

Nicke tergolong belum lama berkarier di Pertamina. Ia baru diangkat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) BUMN minyak tersebut pada 27 November 2017. Tugas Nicke pun bertambah, yakni sekaligus mengemban jabatan Plt Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur, mulai 13 Februari 2018.

Lahir di Tasikmalaya, 25 Desember 1967, Nicke mengawali karier di bidang perbankan, hingga kontraktor. Sebelum berkarier di Pertamina, Nicke menjabat sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero) sejak 2009 lalu.

Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Master di Hukum Bisnis di Padjadjaran Bandung ini, pernah menjadi Direktur Utama PT Mega Eltra, sebuah perusahaan kontraktor listrik di lingkungan holding PT Pupuk Sriwijaya.

Nicke juga pernah menjabat direktur bisnis di PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) di perusahaan yang sama hingga akhirnya bergabung di PLN pada tahun 2014.

Nicke Widyawati sendiri tak ingin melakukan perubahan drastis setelah mengemban jabatan barunya di perseroan. Dalam jangka pendek, Nicke ingin fokus menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) selama periode Ramadan dan Lebaran 2018.

“Tentunya pasokan BBM kami jaga karena (sudah) menjelang Ramadan,” ujar Nicke di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (20/4/2018).

Selain itu, dalam jangka pendek, ia juga akan melanjutkan program-program yang sudah tercantum dalam Peta Jalan (Road Map) Rencana Strategis perseroan, termasuk menindaklanjuti pembentukan induk usaha (holding) minyak dan gas (migas) serta proyek-proyek pembangunan kilang. “Semuanya tetap kami jalankan, sesuai rencana,” ujarnya.

Nicke mengingatkan jabatan yang diembannya hanya sementara, yaitu sampai pemegang saham menunjuk pejabat definitif. Ia juga tak merasa terbebani karena tugasnya bertambah. “Saya tidak kerja sendiri. Anggota direksi baru ini, meskipun dibilang baru, tetapi beliau-beliau adalah orang lama di bidangnya,” ujarnya.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan melakukan penyegaran terhadap susunan direksi Pertamina, termasuk posisi Direktur Utama. Salah satu alasannya, yakni tumpahan minyak di Balikpapan pada akhir Maret 2018.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampoerno mengaku pemerintah menaruh harapan besar pada jajaran direksi baru Pertamina.

“Diharapkan, direktur-direktur baru mempercepat proyek-proyek yang sedang dikerjakan Pertamina, terutama terkait kilang,” terang Fajar.

Pencopotan direktur Pertamina dan empat direksi lainnya terjadi di tengah kasus tumpahan minyak dan kelangkaan Premium di wilayah Jabodetabek yang tengah dihadapi BUMN tersebut. “Keputusan pemerintah (pencopotan direksi Pertamina) ini berdasarkan beberapa pertimbangan. Kondisi yang disampaikan, yakni holding migas, kejadian di Balikpapan (tumpahan minyak), dan kelangkaan BBM (Premium),” jelasnya. (cnn/dtc/ins)