Penting! Nutrisi pada Periode Usia Sekolah

Artika Sari Dewi, Putri Indonesia 2004 yang menjadi brand ambassador Minute Maid Nutriforce (kiri) bersama Andrew Soendjojo dan dr Grace Judio-Kahl dalam bincang dengan media terkait kegiatan aksi ibu peduli nutrisi.

SURABAYA (global-news.co.id)-Setelah golden periode atau periode emas (0-5 tahun), ada masa yang juga tak kalah penting dan tak boleh diabaikan dalam kehidupan anak, yaitu periode usia sekolah. Pada masa ini, peran ibu sangat penting dalam menentukan pemenuhan nutrisi dan pola makan agar mewujudkan anak Indonesia yang lebih kreatif, aktif, dan memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Pakar nutrisi, Dr Grace Judio-Kahl, dalam temu media terkait kegiatan ‘Aksi Ibu Peduli Nutrisi’ yang digelar Minute Maid Nutriforce, mengatakan, kalau anak sehat atau tidak sehat itu yang jadi sorotan adalah ibunya. “Karena itu ibu-ibu harus kreatif dalam menyajikan makanan bernutrisi kepada anak usia sekolah seperti menyiapkan bekal makannya,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan juga terkait catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang menyebut 26,4% anak usia 5-12 tahun menderita anemia atau kekurangan sel darah merah. Bahwa 1 dari 4 anak tidak tumbuh dengan potensi penuh karena tidak mendapatkan vitamin dan mineral cukup.

Menurut Grace, pemicu masalah anemia pada anak tak lepas dari kesalahan pola makan. Orang Indonesia cenderung suka makan karbohidrat. Dan mengesampingkan pemenuhan nutrisi yang lain, seperti protein, vitamin, mineral. Akibatnya banyak anak gemuk, terlihat sehat tapi sebenarnya statusnya kurang gizi. Anak jadi susah konsentrasi, belajar sulit, bawaannya mengantuk terus.

Untuk diketahui sel darah merah atau hemoglobin ini dibuat di sumsum tulang belakang dan beredar ke seluruh bagian tubuh sebagai kendaraan bagi oksigen yang diperlukan seluruh organ tubuh. Anemia salah satu akibat yang terjadi karena kekurangan zat gizi mikro dalam hal ini adalah zat besi. Agar kebutuhan hariannya terpenuhi, anak usia 7-9 tahun membutuhkan minimal 10 mg zat besi dan 11 mg zink.

Kondisi anemia ini memang tidak terlihat secara kasat mata, karenanya banyak tidak disadari para orangtua. Dampak anemia ini salah satunya dapat menurunkan prestasi belajar anak karena dia sulit berkonsentrasi.

Berdasarkan Riskesda 2013 juga, anak usia sekolah dasar membutuhkan kebaikan gizi dari vitamin dan mineral seperti zink, zat besi, vitamin B dan C, untuk mendukung banyaknya aktivitas mereka jalani dan juga kreatif ketika belajar dan melakukan kegiatan di luar sekolah. Oleh sebab itu penting bagi ibu mulai menentukan pola pemenuhan nutrisi anak.

“Karena itu supaya anak sehat dengan benar, yaitu aktif, kreatif, dan tahan sakit, kuncinya adalah makan sehat. Makan yang kenyang, tapi sehat,” tandas Grace seraya menjelaskan pola makan berdasarkan piring sehat.

Piring sehat membagi piring makan dalam tiga bagian, satu bagian terdiri dari karbohidrat seperti nasi, kentang sebagai sumber energi. Satu bagian terdiri dari protein seperti daging, ikan, tempe, susu, sebagai bahan pembangun otot, sel darah. Satu bagian lagi terdiri dari sayuran dan buah.

Zat besi banyak ditemukan pada daging merah, kacang buncis, dan sayuran berwarna hijau tua.

Marketing Manager Minute Maid,  Andrew Soendjojo, mengatakan kegiatan Aksi Ibu Peduli yang digelar dengan semangat Hari Gizi Nasional, dimaksudkan untuk mengajak para ibu untuk mengenal lebih dalam mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan harian anak, khususnya pemenuhan zat besi untuk anak usia sekolah.  “Selain edukasi yang kami gelar di tiga kota, Jakarta, Surabaya, dan Makassar, kami juga mengajak para ibu untuk konsisten menyebarkan informasi mengenai nutrisi yang dibutuhkan anak dan cara menyiapkan bekal sehat untuk anak,” katanya.

Pada kesempatan itu hadir pula Putri Indonesia 2004, Artika Sari Devi, yang membagikan tips menyiapkan bekal untuk anak sekolah. “Aksi peduli saya, menentukan bekal sekolah dengan pola nutrisi seimbang, ada karbohirat, protein, vitamin, dan mineral,” ujar ibu 2 anak ini. retno