Wisata Kenawat Dikembangkan, tapi Sayang Tidak Bisa Pakai Telepon Seluler

Ibrahim Hasyim bersama Rima Melati yang menjadi Putri Pariwisata Indonesia Cat Walk 2017, Putri Pariwisata Aceh 2017, dan Miss Coffee Aceh 2017.


LAUT TAWAR (global-news.co.id) –
Pariwisata Aceh Tengah sedang dikembangkan untuk menggaet wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Namun, ada kendala komunikasi di daerah ini yang masih terbatas. Bahkan 400 KK di Kampung Kenawat Kecamatan Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah sama sekali belum menikmati jaringan selular. Warga tidak bisa berkomunikasi dengan menggunakan handphone.

“Tidak ada sinyal di sini,” kata seorang warga, Senin 12 Maret 2018.
Padahal warga sudah mengajukan kepada provider Telkomsel sejak tahun 2015 agar membangun tower BTS di daerah ini namun hingga saat ini belum ada realisasi. Sejumlah calon legislatif dari DPRA maupun DPR RI pada pemilu sebelumnya saat kampanye juga sempat berjanji akan memperjuangkan agar bisa dibangun tower telepon seluler tapi juga belum diwujudkan.

Karena itu, bakal caleg dari Partai NasDem, Ibrahim Hasyim, sempat ditanya soal tidak adanya tower BTS tersebut. Lalu apa jawaban Ibrahim Hasyim? “Saya tidak ahli di bidang ini, keputusan mendirikan tower itu tentu ada kriteria teknis ekonomis dari Telkomsel atau provider lain,”katanya kemarin.

Tapi, kata dia, kalau soal keandalam telekomunikasi di sana, khususnya telepon selular, pasti sangat penting dalam menunjang pariwisata. Pemda setempat harus berjuang agar ada tower BTS di daerah tersebut.

“Untuk itu harus menjadi salah satu butir dari roadmap pembangunan industri pariwisata di Aceh Tengah. Kami akan berusaha menyampaikan masalah ini di pusat,” katanya.

Ibrahim Hasyim gencar mempromosikan pariwisata Aceh. Ibrahim bertemu Rima Melati yang menjadi Putri Pariwisata Indonesia Cat Walk 2017, Putri Pariwisata Aceh 2017, dan Miss Coffee Aceh 2017. Bagi Ibrahim wisata Aceh harus didorong untuk berkembang sebab Aceh kaya akan situs sejarah Islam, pesona alam, kuliner dan tentu saja kopi.

Ibrahim juga membangun jaringan dengan menemui sejumlah aktivis di Solong Coffee Banda Aceh.

“Kami bersama mengembangkan potensi Aceh,” katanya. Selain itu Ibrahim juga membangun jaringan dengan menemui sejumlah aktivis di Solong Coffee Banda Aceh.

Wisata Sejarah

Kampung Kenawat.

Sementara itu, Kampung Kenawat Kecamatan Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah sendiri saat ini memang dikembangkan untuk wisata. Termasuk wisata sejarah. Kampung ini, kata salah seorang saksi sejarah, Mahyuddin Aman Darwin, yang juga warga Kampung Hakim Kecamatan Lut Tawar Aceh Tengah, mengungkapkan, kampung Kenawat Lut pernah dijadikan sebagai lokasi pembuatan uang di zaman penjajah Belanda.

“Lebih dari dua tahun di Kenawat pernah dijadikan Belanda sebagai lokasi pembuatan uang. Nama uangnya saat itu Kupang Repek,” ungkap Mahyuddin seperti dikutip dari LintasGayo.co.

Ditanya kapan itu terjadi, Mahyuddin mengaku tidak ingat karena di zaman itu tidak ada pencatatan tanggal seperti saat ini. “Saya tidak tahu kapan itu terjadi, namun saat itu ada 2 orang penduduk Kenawat yang ahli membuatnya. Dulu saya juga memiliki Kupang Repek karena memang fungsinya sebagai uang untuk membeli sesuatu seperti sekarang,” kata ayah dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah ini.

Yang ahli membuat Kupang Repek saat itu bernama Tengku Kali Rampak, lokasi pembuatannya di Kiri Kenawat. Bahan pembuatan uang tersebut dari kuningan, ada acuannya dengan gambar yang telah ditentukan Belanda.

Sementara itu, menurut Yusra Habib Abdul Ghani, tokoh Aceh di luar negeri yang lahir dan besar di Kenawat, ada ahli pembuat uang bernama Awan Ra’di. “Setahu saya ada ahli pembuat uang logam Aceh dan perhiasan, namanya Awan Ra’di, tapi bukan di Kenawat melainkan di Blangkejeren. Saat 8 orang Kenawat dikejar-kejar Belanda setelah pertempuran Urang Gayo di Ujung Baro, kampung One-one dan kampung Pedemun, kedelapan Urang Kenawat itu menyingkir menyelamatkan diri ke Belangkejeren dan di sana mereka bekerja membuat uang,” urai Yusra Habib Abdul Ghani.
Dikatakan lagi, banyak hal menarik yang mesti diungkap terkait sejarah Gayo. “Menarik, yang muda-muda mesti giat menggali sejarah Gayo. Ini persoalan identitas Gayo,” kata penulis buku Self Government ini.

Tentang nama kampung Kenawat, menurut Mahyuddin Aman Darwin, berasal dari Senawat yang maksudnya adalah Cambuk. “Dulu banyak gajah di Kenawat, dan nenek moyang Urang Kenawat saat itu mencambuk mengusir gajah-gajah tersebut. Lama kelamaan entah bagaimana Senawat berubah menjadi Kenawat,” katanya.

Menurut Salman Yoga S, akademisi di Banda Aceh, Kenawat merupakan salahsatu kampung tua di sepanjang tepian danau Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Kampung Kenawat sudah didiami sejak ratusan tahun silam, secara geografis hanya berjarak kurang lebih 2 kilometer saja dari bibir danau Lut Tawar dan 7 kilometer dari pusat Kota Takengon Aceh Tengah.

Kampung Kenawat Lut, kata Salman, adalah sebuah permukiman tua yang dipagari oleh sepuluh gunung (Bur). Gunung-gunung tersebut adalah Bur Birah Panyang, Bur Pepilen, Bur Kapur Atu, Bur Mango, Bur Pintu Rime, Bur Genting Mik, Bur Reje Tiang, Bur Genencang, Bur Mulo dan Bur Pedemun. Dari hamparan persawahan dan bentangan pegunungan kampung Kenawat inilah mengalir air tak henti melalui sebuah sungai kecil yang menjadi salah satu pemasok utama bagi danau Lut Tawar.
“Hunian asri yang mencorong ke arah tepian danau berbentuk leter “U“ ini menyimbolkan sebuah keterbukaan sekaligus kebersahajaan. Kampung yang banyak melahirkan ulama besar di tanah Gayo ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan dan Kemukiman Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah,” katanya.

Lebih jauh diungkapkan, arti “Kenawat” sendiri dalam masyarakatnya ada beberapa versi. Menurut salah seorang sumber yang mengutip tulisan seorang penulis Belanda, tanpa menyebut nama penulisnya, Kenawat berarti rumah di atas kayu. Kisahnya masyarakat Kenawat tempo dulu sebelum mengenal pemukiman dan rumah tinggal yang merapat ke tanah, awalnya mereka membuat rumah di atas pohon-pohon kayu besar.

Menurut penduduk yang tinggal di Kampung Kenawat sendiri serta berdasar keterangan Tgk. Bilel Aman Syek Karim, diungkapkan Salman, kata Kenawat berasal dari kata senawat yang berarti “pecut”. Karena pada zaman dahulu di sana banyak terdapat gajah, salah satu cara untuk mengusirnya masyarakat mengibaskan pecut dengan purih (lidi pohon aren). Versi lainnya mengatakan bahwa kata Kenawat asalnya dari nama sejenis kayu besar dan tinggi yang dijadikan sebagai tempat bernaung.

Dari sekian banyak tokoh Gayo yang lahir dari Kenawat di antaranya almarhum Tgk. Ilyas Leube, Tgk. Baihaki AK, Tgk. Ibrahim Mantiq, Aman Siti Rani, Aman Mastani dan lain-lain. Sementara yang masih eksis saat ini di antaranya Yusra Habib Abdul Ghani, DR. Al Misry, Iklil, Sirwandi Laut Tawar, Ibnu Hajar Laut Tawar dan banyak lagi lainnya. Selain itu, sejumlah tokoh di Gayo dan perantauan dengan berbagai profesi baik politisi, akademisi, keagamaan bahkan pilot pesawat Erwinda Sara Kenasih dan adiknya Endryss Diodena Winsa dimana ayahnya yang berdiam di Jakarta berasal dari Kenawat. (fan/lgc)