Cakupan Vaksin Difteri Jatim Capai 86,59 Persen

GN/Ilustrasi
Cakupan vaksinasi difteri di Jawa Timur sudah mencapai 85 persen lebih.

SURABAYA (global-news.co.id)-Cakupan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) difteri di Provinsi Jawa Timur, sudah mencapai  86,59 persen, dari target 10 juta lebih jiwa dengan sasaran usia 1 sampai 19 tahun. Hal tersebut berdasarkan data Dinkes Jatim, periode 1 Februari-12 Maret 2018,

Kohar Hari Santoso, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, mengakui tingkat kesadaran masyarakat Jatim terhadap program tersebut, semakin meningkat. Sehingga, lanjutnya, angka cakupan ORI mengalami peningkatan tiap harinya.

“Masyarakat sudah mulai banyak yang sadar, pentingnya imunisasi (khususnya difteri),” ujar Kohar Santoso.

Kohar Santoso kembali mengingatkan kepada masyarakat, bagi anaknya yang belum imunisasi, mohon segera imunisasi di puskemas terdekat. “Karena putaran pertama ini masih berlangsung,” kata mantan direktur RSUD dr Soedono Madiun, Selasa (13/3/2018).

Kohar mengingatkan imunisasi difteri harus dilakukan tiga kali suntik selama tahun 2018. Untuk putaran kedua, akan dilakukan pada bulan Juli, sedangkan putaran ketiga, akan dilaksanakan pada bulan November.

Kohar juga menyarankan, kondisi anak yang akan diimunisasi harus benar-benar fit atau sehat, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.

“Ada yang ngeluh, kenapa habis imunisasi kok suhu badannya panas. Jadi memang, setelah diimunisasi bisa timbul reaksi alami tubuh yaitu panas. Karena imunisasi itu kan, ingin membangkitkan daya tahan tubuh, dengan memasukkan kuman yang sudah dilemahkan. Jika ada benda asing, sistem kekebalan tubuh kita berusaha melawan, salah satu reaksinya panas. Seharusnya, orang yang diimunisasi harus dalam keadaan sehat,” jelasnya.

Menurut data Dinkes Jatim, ada 11 kota atau kabupaten di Jatim yang telah mencapai cakupan diatas 95 persen, diantaranya Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Pasuruan, Kota Kediri, Kota Batu, Kota Surabaya, Lamongan, Tulungagung, Malang, Kediri, dan Bojonegoro.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, tahun 2017, di Surabaya ada 29 kasus difteri, dimana hasil lab sebanyak 28 dinyatakan negatif. Namun, hingga akhir Desember 2017 ada satu yang dinyatakan positif.

Sasaran dari program ORI, kata dia, usia satu hingga di bawah 19 tahun. Penyakit difteri ini sangat mengerikan dan bisa menyebabkan kematian. Menurutnya, jika seseorang terkena penyakit difteri akan mengalami kondisi demam, sakit pada tenggorokan, kemudian dipangkal tenggorokan terdapat selaput abu-abu yang bisa membesar dan menyumbat aliran saraf dan jantung, sehingga dapat menyebabkan kematian.

“Kita punya sasaran untuk yang di bawah 19 tahun mencapai sekitar 753.498 orang. Usia 19 tahun kurang sehari juga tetap akan kita lakukan imunisasi,” katanya.

Data dari Dinkes menyebutkan, tahun 2017 penyakit difteri menyerang usia dibawah 10 tahun mencapai 24 orang, sedangkan usia 26 hingga 30 tahun sebanyak 3 orang, dan terakhir satu orang dengan usia lebih dari 60 tahun. Seseorang bisa terkena penyakit difteri dikarenakan imunisasi dasarnya tidak lengkap.(ant/faz)