‘Air Mata Kalimah’

GN/ILUSTRASI

Dibelainya rambut putih wanita 76 tahun itu dengan penuh kasih sayang. Sambil berdiri di samping kanan tempat berbaringnya, doa-doa bersuara pelan dipanjatkan Mat Tadji. Sementara wanita yang dihormati Mat Tadji itu, memandangi tanpa berkedip. “Ibu… Mat Tadji mohon maaf ya, bila ada kesalahan. Baik yang sengaja mau pun tak sengaja. Mat Tadji sayang ibu,” kata Mat Tadji.

Lalu dengan penuh kelembutan Mat Tadji memegangi tangan wanita bernama Kalimah yang sedang berbaring sakit di salah satu Rumah Sakit di Surabaya itu. Lagi-lagi Mat Tadji memanjatkan doa untuknya. “Ya Allah berikanlah yang terbaik bagi Ibu Kalimah,” suara Mat Tadji lirih. Tak terasa butiran air matanya menetes. Ini air mata tak biasa, karena bagi Mat Tadji menangis suatu tantangan. Atau karena disekililingnya tak ada orang? Bisa jadi begitu, sehingga Mat Tadji menjiwai dalam doanya.

Ya Allah, bedheh aing matah kaloar sakonik dari socanah Ibu Kalimah. Apah areyah artenah (Ya Allah, ada air mata sedikit keluar dari mata Ibu Kalimah. Apa ini artinya, Madura Red).
“Maafkan Mat Tadji bu,” lagi-lagi suara lirih Mat Tadji mengulangi permintaan maafnya.

Itulah kenangan yang membuat hati Mat Tadji sedih mengenangnya. Mengapa Mat Tadji begitu menghormati Ibu Kalimah? Ada beberapa catatan mengapa Mat Tadji menghormati wanita yang dikenalnya sejak Mat Tadji bekerja sebegai jurnalis sejak tahun 1989-nan. Dan hingga akhir hayatnya, Mat Tadji selalu menghormati wanita ini. Yang jelas nama ibu angkat Mat Tadji bernama Halimah. Dua nama yang hamnpir sama. Hanya berbeda di huruf depannya, yakni H dan K.

Pada 4 Maret 2018 lalu, sekitar pukul 06.30-an Ibu Kalimah berpulang. Pagi itu entah mengapa Mat Tadji ingin sekali mengetahui perkembangan kesehatan Ibu Kalimah yang sudah berada di kediaman. Karena keinginan tahuan yang membuatnya kegelisahan itulah, lalu Mat Tadji menelpon Tri Putrimakinka, salah seorang puteri Ibu Kalimah. Sudah tiga kali menelponnya, tapi tak diangkat. Baru yang keempat kalinya, HP Tri Putrimakinka mengangkat HP Mat Tadji. “Mas… ibu sudah tiada. Aku menyesal mas, ibu pergi tidak dipangkuanku. Aku lalai mas,” kata Tri Putrimakinka sembari sesenggukan.

Mat Tadji menyadari kepedihan Tri Putrimakinka tersebut. Suatu ketika, wanita lembut di mata Mat Tadji ini mengatakan, “Ibu sudah dua kali ini masuk rumah sakit. Aku akan memberikan yang terbaik buat ibu di akhir hayatnya. Ini pengabdianku pada ibu. Oleh karena itu, aku berkeinginan sekali kalau ibu ‘dipanggil’ nanti, aku harus disampingnya. Aku ingin ibu meninggal di pangkuanku. Ini, sebagai pengabdianku pada ibu,” kata Tri Putrimakinka kala itu.

Mat Tadji yang mendengar kalimat mulia itu seketika mengatakan, “Alhamdulillah… kalau itu niatmu. Niat baik saja sudah dicatat sebagai amalan oleh Allah. Jagalah ibu. Jangan lengah sedikit pun, karena itu bhakti terakhirmu pada seorang ibu. Itu bhakti terbaik bagi seorang anak pada ibunya,” kata Mat Tadji pada Tri Putrimakinka kala itu.

Setelah Mat Tadji mendengar Ibu Kalimah berpulang, tanpa pikir panjang dirinya langsung tancap gas dengan motornya. Padahal, dia belum mandi. Maklum jam-jam seperti itu seperti biasa Mat Tadji melakukan olah raga. Apalagi, semalam dia lembur hingga pukul 01.40 an. Sesampainya di rumah duka, Mat Tadji melihat Tri Putrimakinka matanya lembab. Lalu Mat Tadji menghampirinya, sambil berkata “Turut berduka cita. Sudah jangan bersedih, semua manusia akan mati. Kita-kita hanya menunggu giliran saja. Mari persiapkan diri kita untuk menghadap-Nya,” kata Mat Tadji.

Mat Tadji lalu masuk ke ruangan dimana jenazah berada. Mat Tadji bersimpuh. Berdoa minta ampunan bagi almarhumah Ibu Kalimah. “Ya… Allah ampunilah dosa-dosa Ibu Kalimah dan terimalah semua amalan baiknya. Ya… Allah masukkan Ibu Kalimah dalam surgamu,” suara Mat Tadji lirih penuh kehidmatan.

Dipandanginya jenazah Ibu Kalimah. Ada kedamaian di hati Mat Tadji melihat raut muka Ibu Kalimah yang putih bersih. Lebih bersih ketika beliau masih di Rumah Sakit. Inikah tanda-tanda kebaikan? Insyaallah. “Lalu apa ya artinya, air mata Ibu Kalimah ketika aku memegangi tangannya saat di rumah sakit itu,” kata hati Mat Tadji, sembari dirinya mundur ke belakang untuk memberikan tempat pada orang lain yang ingin berdoa. Selamat Jalan Ibu Kalimah.(*)