Sentilan Presiden soal Ekspor

Ada pernyataan menarik ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018). Presiden meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk segera mengevaluasi kinerja Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Bahkan jika hasilnya buruk, orang nomor satu di Indonesia ini meminta agar segera ditutup.

Mengapa? Karena, nilai ekspor Indonesia masih kalah dengan negara tetangganya seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam. Presiden selanjutnya bertanya, apa yang dilakukan  ITPC  bertahun-tahun. Apa keadaan seperti ini akan diteruskan. Negara keluar biaya untuk itu. Negara keluar duit yang tidak kecil, banyak. Apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah dikerjakan.

Apa yang dikatakan presiden soal ekspor itu memang benar sekali. Menurut catatan Kadin Pusat, dalam tiga tahun terakhir ekspor nasional menurun dalam tiga tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas di pasar internasional. Dua hal tersebut begitu luar biasa bagi ekspor Indonesia karena terjadi berbarengan.

Sebagai contoh, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan nilai ekspor Indonesia sepanjang 2016 sebesar 144,43 miliar dollar AS atau setara Rp 1.920 triliun (asumsi kurs Rp 13.300 per dollar AS). Nilai tersebut turun 3,95 persen dibandingkan tahun 2015 yang sebesar  150,37 miliar dollar AS.

Tahun 2016 pun makin memperpanjang tren penurunan ekspor Indonesia yang terjadi sejak 2012. Artinya, sudah lima tahun berturut-turut, ekspor Indonesia terus menurun atau tumbuh negatif.

Seiring lemahnya permintaan global dan persaingan produsen minyak, harga komoditas pun anjlok. Harga minyak dunia yang jatuh drastis dari kisaran 100 dollar AS per barrel menjadi hanya sekitar 25 dollar AS per barrel telah menyeret turun harga sejumlah komoditas baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bertolak pada kenyataan inilah jajaran Departemen Perdagangan sudah serahusnya merespon sentilan presiden. Ada beberapa hal yang seharus dikerjakan oleh Departemen Perdagangan, seperti melalui diversifikasi produk. Saat ini 65 persen barang ekspor kita adalah barang primer dan 35 persennya manufaktur. Juga demikian, untuk meningkatkan ekspor sebaiknya Indonesia tidak hanya bergantung terhadap produk lama. Produk yang sampai saat ini masih positif untuk ekspor adalah perhiasan, permata, mesin pesawat mekanik, barang-barang kimia, ikan, dan udang. Sedangkan negara tujuan ekspor Indonesia yang juga masih positif adalah Singapura, Filipina, Vietnam, dan Swiss.(*)