Raih Juara I KRB 2018, Tim Senanjaya 79 ITS Sempat Kesulitan Cari Limbah B3

GN/Istimewa
Tim Senanjaya 79 dari Departemen Teknik Sipil ITS yang berhasil menciptakan beton terbuat dari limbah B3.

DENPASAR (global-news.co.id)- Tim Senanjaya 79 dari Departemen Teknik Sipil ITS menyabet juara pertama Lomba Beton Nasional dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2018 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, awal Februari ini. Tim Senanjaya menyisihkan 62 peserta dari 53 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.

Reza Syihabul Millah, salah satu anggota tim Senanjaya 79, mengungkapkan, keistimewaan beton buatan mereka yang mengantarkan mereka menjadi yang nomor satu di ajang bergengsi rancang bangun tersebut.

Menurut Reza, beton buatannya bersama dua mahasiswa Teknik Sipil ITS, Andini Dwi Agustin, Jonathan Febryan ini terbuat dari sisa pembakaran batu bara pada pembangkit listrik (fly ash) yang berfungsi sebagai pengganti semen dan tawas yang campurannya.

Karena menggunakan fly ash, ungkap Reza, tim Senanjaya 79 sempat mengalami kesulitan dalam mencari material. “fly ash sendiri merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun atau yang biasa dikenal sebagai limbah B3, sehingga perlu adanya penanganan khusus dan surat pengantar untuk memperolehnya,” ungkap Reza. “Selain dari referensi jurnal asing, kami juga melakukan penelitian kurang lebih satu sampai dua bulan sehingga ide tersebut benar-benar matang,” jelas mahasiswa angkatan 2016 itu.

Reza membandingkan beton umum dengan rancangan kuat tekan dalam 28 hari menghasilkan 60 mpa (singkatan dari satuan ukur megapascal). Namun, beton buatan Tim Senanjaya 79 mampu menghasilkan beton dengan kuat tekan 62,3 mpa hanya dalam waktu tujuh hari. Beton tersebut kemudian diberi nama Beton As Crete (Alumn and Sugar Conctete).

Mengusung tema High Early Strength and Low Cost Concrete Competition, kompetisi ini memang menantang para peserta untuk membuat beton bermutu tinggi dalam waktu tujuh hari dengan biaya yang relatif murah. Dengan bimbingan satu dosen, Faimun MSc PhD, tim menanggapi tema tersebut, dengan menggunakan fly ash.

Meski mengaku persaingan yang terjadi antara peserta cukup ketat, namun tim ini tetap optimistis untuk membawa pulang juara pertama. “Kami merasa yakin karena penelitian ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia,” ujarnya percaya diri.

Reza mengaku motif ikut lomba tidak hanya untuk sekedar lomba, lebih jauh lagi timnya berharap agar karya mereka nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dengan penelitian lebih lanjut yang lebih sempurna hasilnya. (faz)