Pemkab Pamekasan Incar Lagi ‘Top 35’ Daerah Inovatif  Layanan Publik

GN/Istimewa
Wabup Khalil Asyari saat menerima penghargaan Top 35 tahun 2017 lalu dari Mentri Puan Maharani.

PAMEKASAN (global-news.umum)-Setelah dua tahun yakni tahun 2016 dan tahun 2017 mendapatkan penghargaan nasional secara berturut-turut masuk ‘Top 35’ sebagai daerah yang memiliki program  layanan publik paling inovatif dari Kementrian PAN dan RB, Pemkab Pamekasan kembali membuat program inovasi layanan publik itu.

Dalam rapat koordinasi (rakor) dengan pimpinan OPD beberapa hari lalu, Wakil Bupati Pamekasan Drs Khalil Asyari meminta agar OPD kembali mempersiapkan program inovasinya.

Di antaranya adalah Dinas  Ketahanan Pangan dan Peternakan tahun ini telah membuat program inovasai dengan nama Tangkas Nyawa Migas (Tangkal Berantas Penyakit Menular Strategis).

Bagi Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan program inovasi  ini bukan hal baru. Dua program inovasi Pamekasan yang mendapatkan penghargaan nasional dan masuk Top 35 tingkat nasional adalah programnya Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, yakni program Satu Saka pada tahun 2016 dan program inovasi Sigap Sratus pada tahun 2017.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pamekasan Bambang Prayogi, mengatakan program inovasi Tangkas Nyawa Magis merupakan gerakan pelayanan pada masyarakat dalam rangka menjamin status kesehatan ternak, meminimalisir kerugian akibat PHMS, mencegah dan mengendalikan PHMS, meminimalisir terjadinya penularan penyakit hewan ke manusia atau sebaliknya.

Selama ini, kata Bambang, pengendalian PHMS masih dilakukan secara sektoral dan sporadis. Dalam rangka sinergi dan pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah PHMS maka perlu dibentuk gerakan pelayanan yang melibatkan seluruh petugas kesehatan hewan yang terkait dengan pengendalian PHMS.

Di Pamekasan, lanjut Bambang, ada sejumlah penyakit hewan yang masuk PHMS endemis yakni Helminthiasis dan Avian Influenza. Helminthiasis adalah penyakit cacingan pada hewan yang disebabkan parasit. Penyakit ini menyerang semua hewan. Akibatnya terjadi penurunan berat badan, penurunan kualitas daging,  penurunan produktifitas ternak dan penurunan produksi  susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia.

Program Tangkas Nyawa Magis ini dijalankan dengan strategi P 3 K, yang artinya pengamatan dan pengidentifikasian penyakit hewan, pelayanan aktif pada hewan, komunikasi dan edukasi.  Pengamatan dan pengidentifikasian dilakukan berdasarkan laporan aktif peternak maupun kegiatan survei dari dinas. Dari kegiatan ini diperoleh hasil diagnosa sementara ternak berdasarkan hasil observasi apakah sehat atau sakit.

Pelayanan aktif hewan merupakan bentuk kegiatan lanjutan dari pengamatan dan identifikasi, yaitu berupa pengobatan dan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan komunikasi edukasi kepada masyarakat secara berkesinambungan tentang pentingnya peran aktif dari masyarakat dalam mengendalikan PHMS dalam bentuk Pelapor Desa (Pelsa).

“Dampak dari Tangkas Nyawa Magis ini adalah penurunan insidensi PHMS, meningkatkan kemampuan deteksi dini penatalaksanaan kasus PHMS,  identifikasi dan diagnosis PHMS dapat segera diketahui, tidak adanya penularan penyakit PHMS dan mencegah kerugian bagi peternak,” Bambang.(mas/*)