Ketua ISEI Pusat Muliaman D. Hadad: Tak Hanya Bank, Mahasiswa Pun Harus Terjuni Fintech

FINTECH: Prof. Muliaman D. Hadad foto bersama pengurus Yayasan Perbanas dan STIE Perbanas Surabaya usai acara.


Era digital sudah menyeruak di berbagai bidang. Keadaan ini tak dapat dihindari, tetapi harus kita hadapi. Juga bukan hanya pelaku perekonomian dan perbankan saja yang harus menghadapinya, mahasiswa dan masyarakat luas pun tidak mungkin lagi menghindar dari dampak perkembangan dunia financial technology (Fintech).

OLEH: Erfandi Putra

KITA tidak bisa menghidari dari serbuan teknologi yang belakangan ini berkembangan begitu pesatnya. Karena itulah, masyarakat perlu didampingi dalam bentuk apa pun untuk menerima berbagai perkembangan dan perubahan dalam kaitannya dengan digitalisasi,” kata Prof. Muliaman D. Hadad., SE., MPA., PhD, Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat ketika memberikan kuliah umum di STIE Perbanas Surabaya.

Acara yang digelar Yayasan Perbanas dan STIE Perbanas Surabaya ini mengambil tema “”Peluang dan Tantangan Layanan Keuangan di Era Digital”. Dihadiri setidaknya 200 orang yang terdiri dari para mahasiswa, sejumlah bankir hingga kalangan umum tersebut berlangsung di Aula STIE Perbanas Surabaya, Senin (5/2/2018).
Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2012-2017 itu mengatakan, saat ini justru yang dibutuhkan adalah kesiapan masyarakat menghadapi perkembangan ekonomi digital itu sendiri.

“Masyarakat harus menghadapinya. Disadari atau tidak, mau atau tidak mau, semua akan merasakan dampaknya,” katanya.

Saat ini belum terlambat bagi siapa pun, baik mahasiswa maupun masyarakat luas untuk terus menerus belajar, di antaranya mengenali dan mengikuti perkembangan dari ekonomi digital tersebut.

“Literasi keuangan perlu dilakukan terus menerus kepada masyarakat luas, agar masyarakat tidak keliru ketika mereka harus berbisnis dengan menggunakan perangkat perbankan digital misalnya. Atau melakukan trading dengan masyarakat lain yang memang lebih maju,” kata Muliaman.

Kalangan perguruan tinggi, kata Muliaman, dapat memulai mempersiapkan diri dengan mengajak mahasiswanya untuk aktif mendiskusikan dalam forum resmi maupun aktivitas sehari-hari di kampus terkait ekonomi digital ini.

“Bisa saja dimulai dengan membuat kelompok atau inkubator-inkubator di kampus yang mempertemukan para pakar, praktisi atau mereka yang punya keahlian dengan mahasiswa secara langsung melalui diskusi-diskusi. Ini sangat penting bagi mahasiswa,” katanya.

Ia juga berjanji akan membantu STIE Perbanas dalam mendirikan Incubator Fintech. Bantuan tersebut seperti mengumpulkan para praktisi supaya memberikan nasihat dan masukan.

“Bila nanti ada mahasiswa yang mau jadi pengusaha pemula itu bisa, kemudian diberikan pandangan oleh praktisi Fintech,” kata Duber RI untuk Swiss tersebut.

HERMAN HALIM

Herman Halim, Ketua Yayasan Perbanas, saat menanggapi permintaan Muliaman soal perlunya dibentuk inkubator Fintech di lingkungan STIE Perbanas mengatakan, ini merupakan usulan yang bagus. “Kami sangat setuju. Karena itu, kami berharap akademika menyambut positif usulan Bapak Muliaman ini,” kata Herman yang juga Dirut Bank Maspion ini.

Herman mengatakan, diambilnya tema tersebut, karena saat ini dan seterusnya digitalisasi akan memegang peranan penting bagi kehidupan. Terutama dalam hal pelayanan keuangan. Sekarang pun sudah terjadi, orang-orang atau para nasabah yang ingin berhubungan dengan bank, tidak harus pergi ke kantor bank.

“Cukup pencet HP, semuanya sudah selesai. Sekali lagi kami berharap mahasiswa pun mengerti benar apa yang dimaksud Fintech tersebut. STIE Perbanas diharapkan menjadi lokomotif dalam pengembangan Fintech di lingkungan perguruan tinggi. Apalagi Bapak Muliaman sudah meminta agar STIE Perbanas yang pertama membuka inkubator Fintech,”kata Herman.

Sementara itu, Ketua STIE Perbanas Surabaya, Dr. Lutfi, M.Fin., mengatakan, bahwa arahan ke Fintech sudah ditetapkan sejak tahun lalu oleh kampusnya. Tahun ini ada dua kali seminar tentang Fintech. Pertama, seminar ini, kemudian kedua pada 20 Februari 2018 mendatang.

“Harapannya, dengan adanya seminar Fintech akan muncul ide untuk mewadahi mahasiswa agar bisa berkembang,” katanya.
Pihaknya juga akan rutin mengundang praktisi Fintech, pembuat platform Fintech, maupun orang yang ahli di bidang digital Perbankan. “Hal ini tidak lain hanya untuk membekali mahasiswanya agar berdaya saing dengan perkembagan teknologi,” katanya.

Tantangan Perbankan

Di depan mahasiswa STIE Perbanas dan tamu undangan, Muliaman lebih lanjut mengatakan, perkembangan Fintech sebenarnya tak berbahaya. Hanya saja, agar bank tidak kehilangan market share-nya, maka perlu memperhatikan tantangan yang sangat riil ini.

“Dengan kehadiran Fintech, kami menyarankan untuk memperkuat dan mengedukasi teman-teman bankir. Itu jadi hal yang penting agar di kemudian hari mereka memahami betul perkembangan Fintech. Pada dasarnya, Fintech ini bisa diajak kerjasama untuk membangun platform,” ungkapnya.
Di Indonesia terdapat sekitar 170-an perusahaan Fintech. Dari jumlah tersebut yang beroperasi sekitar 40 perusahaan. Mereka ini yang membuat bisnis berbagai kemudahan, seperti membayar SPP dan lainnya,” katanya.

Seperti diketahui, keberadaan Fintech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi dan juga meningkatkan literasi keuangan. Perusahaan-perusahaan Fintech Indonesia didominasi oleh perusahaan startup dan berpotensi besar. Fintech Indonesia memiliki banyak jenis, antara lain startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, dan riset keuangan. (*)

Tag: