Kerinduan Mat Tadji

GN/Ilustrasi

Di saat sibuk mengetik, Mat Tadji “diganggu” suara panggilan HP-nya.

Sapah pole reyah se nelpon kanak. Kol 23.27 mak gik bedheh oreng telpon,” (Siapa lagi” ini yang telpon. Pukul 23.27 kok masih saja ada orang telpon, Madura Red.),” gumam Mat Tadji, sambil berhenti mengetik, lalu mengangkat HP-nya

“Hallo, sehat kak,” suara Jalaluddin memecah telinga Mat Tadji yang tengah konsentrasi mengetik berita.

Sehat lek (Sehat dik, Madura Red),” kata Mat Tadji menjawab telpon adiknya yang bungsu.

Tak kerrong ka Madureh yeh. Wak embuk kerong ka sedheh. La empak bulen sedheh tak ka Madureh. Mole rapah makkeh sakejjek (Tak kangen ke Madura ya. Itu ibu kangen kamu. Sudah empat bulan tidak ke Madura. Pulang saja meski sebentar, Madura Red).

“Ok…Ok, dalam waktu dekat ini aku akan pulang. Aku juga kangen ibu. Doakan pekerjaan kelar semua, dan saya punya waktu luang ya. Saya usahakan itu,” kata Mat Tadji.

“Ya sudah aku tunggu. Kasihan ibu. Kita kan hanya punya ibu satu-satunya. Jangan lupa bawa uang untuk aku dan saudara lainnya,” kata Jalaluddin yang tak lupa mengucapkan salam sebelum menutup telponnya.

“Ya Allah. Masihkan waktu mengkrangkengku,” kata Mat Tadji setelah menutup telpon dari adiknya.

Lalu Mat Tadji mencoba untuk melanjutkan tulisan yang belum selesai. Tangannya yang selalu lancar menulis berita, kini agak lemas. Dia pandangi komputer. Dia melihat tulisan yang belum selesai dengan kurang konsentrasi. Dia melihat tulisannya tanpa memikirkan alur berikutnya.

“Waktuku habis di depan meja komputer. Tak mengenal waktu. Tak mengenal istirahat, dan tak mengenal kapan semuanya berakhir dan berganti lebih santai. Berganti untuk tidak lagi mengetik sampai larut malam. Berganti untuk menikmati kebugaran tubuh yang kurang istirahat. Berganti semuanya, sehingga hidup “normal” hinggap pada diriku,” kata Mat Tadji dalam hati.

Lalu bayangan ibunya yang sudah tua membayangi kelopak matanya. Ada kerindun yang dalam pada ibunya yang sudah berpuluh-puluh tahun ditinggal almarhum ayahnya. Mat Tadji sangat menyayangi ibunya. Dalam keadaan “sulit” ibunyalah yang menjadi senjata. Dia masih ingat, saat-saat yang krusial beberapa tahun lalu. Saat dia didzolimi oleh atasannya, sehingga pemecatan yang dia terima.

Waktu itu, Mat Tadji hanya mengadu pada ibunya. Dia bersimpuh di depan ibunya sambil menuturkan semua kejadiannya. “Kamu harus bersabar. Selama kamu benar, ibu akan mendukungmu. Sekarang pulanglah ke Surabaya. Allah akan mengabulkan doamu. Ibu di sini (rumah, Red) tak akan berhenti untuk berdoa untukmu. Ibu akan terus mengaji. Pulanglah. Anak istrimu pasti membutuhkanmu,” kata ibunya beberapa tahun lalu, ketika Mat Tadji mengadu pada ibunya di Madura.

Waktu pun terus berjalan. Perlahan, tapi pasti. Mat Tadji yang menganggur akibat dipecat tanpa sebab, akhirnya menemukan apa yang dia cari, yakni pekerjaan yang bisa mencukupi tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga famili dan sahabatnya. Hanya saja, Mat Tadji semakin sibuk. Pekerjaan yang menumpuk menyita semuanya. “Merugikan” keluarga. Bagaimana tidak, dia hingga sekarang waktu untuk keluarganya banyak tersita. Malah dia tak jarang sampai tidur di kantor demi selesainya pekerjaan.

Semuanya itu dia lakukan. Dia tak melihatnya kapan berakhirnya. Padahal umurnya sudah tak muda lagi. Sampai kapan ini semuanya berakhir? “Seperti doaku. Aku mengikhlaskan diriku untuk kebahagiaan orang lain. Biarlah aku bekerja sampai larut malam pun, asal keluarga, famili hingga sahabatku tersenyum bahagia. Agamaku mengajarkan, ‘Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya’. Aku hanya minta kesabaran, kesehatan, kekuatan dan keimanan kepada Allah dalam menjalani sisa hidup ini,” kata Mat Tadji dalam hati.

Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul 11.41.  Mat Tadji pun kelihatannya sudah tak kuat lagi melanjutkan tulisannya, karena seharian meliput berita. “Aku mau pulang, Dindot dan Nailun pasti menungguku di rumah. Biarlah tulisan ini aku lanjutkan besok,” katanya.

“Ibu maafkan aku. Aku sayang pada ibu,” suara Mat Tadji pelan sambil mematikan power komputernya. (*).