Istri Serakah, Suami Menjadi Tak Betah

Mat Tadji mempunyai “teman” baru lagi di acara rutin “jalan pagi”. Bagas Kantra namanya. Sebenarnya dia bukan orang baru bagi Mat Tadji. Masih tetangga komplek, tapi lain gang. Hanya saja, Pak Bagas begitu dia dipanggil, baru melakukan kegiatan jalan pagi sejak penghujung Januari 2018.

“Dungaren jalan pagi bos. Ya… harus begitulah, umur kita ini kan sudah tak muda lagi. Olah raga jangan dilupakan, biar tidak penyakitan dan sehat. Cukup jalan 45 menit atau minimal 30 menit memutari taman, cukuplah untuk menjaga kebugaran,” kata  Mat Tadji.

“Siap…, tapi jangan banter-banter jalannya. Badan ini masih belum seimbang. Seminggu lalu saya periksa di laboratorium gula darah saya mencapai 700. Khawatir saya melihat kenyataan ini. Badan saya tak ngeliyeng, tapi gusi sakit semua. Sekarang agak lumayan, karena itu saya mulai jalan pagi seperti Pak Mat Tadji. Biar sehat,” kata Bagas Kantra sambil berjalan kecil mengitari taman perumahan bersama Mat Tadji.

Aduhhh. Clakak onggu mon guleh derennah sampek 700, sebender kan coma 170-an (Aduhhh. Celaka benar kalau gula darahnya samapai 700, idealnya kan hanya 170-an, Madura Red),” guman Mat Tadji.

Mat Tadji lalu bertanya kepada Bagas, “Lo…, sampeyan kan masih muda. Masih kisaran 40 tahunan. Kok sampek parahnya gula darahnya. Untung sampeyan mempunyai kekuatan tubuh. Kalau tidak, gak sebesar itu (700) banyak orang sudah collapse. Jozzz tubuh sampeyan, karena itu jagalah kesehatan,”.

Dengan kepala tertunduk, Bagas bercerita, semua ini bermula dari “keserakahan”istrinya. Bapak dua anak itu. Sudah 4 tahun istrinya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah perusahaan farmasi. Ane, sebut begitu istri Bagas dapat dikata nekat melakukan bisnis gambling, yakni bisnis garmen online antar pulau. Nilainya cukup besar. Satu kali mengirim nilai puluhan juta.

Pada awal-awal pembeli lancar-lancar saja. Ya… sekitar 6 bulanan ada sejumlah langganannya dua tiga kali pengiriman barang tidak membayar. Inilah yang menjadi awal petaka dari bisnis sang istri yang penuh ambisi. Dengan adanya sejumlah pelanggang yang ngemplang dengan nilai ratusan juta tersebut  membuat bisnis yang baru digeluti Ane tersebut kelimpungan.

Keadaan ini cukup mengganggu cash flow bisnisnya. Lalu Ane meminta tambahan modal pada sang suami. Setelah cukup lama berdiskusi, akhir keluarga tersebut sepakat menjual satu dari dua rumah yang dimilikinya. Setelah sebulan ditawarkan, akhir rumah di kawasan Waru, Sidoarjo tersebut terjual dengan harga Rp 725 juta.

Ane terus melanjutkan bisnis bisnis online antar pulaunya. Lagi-lagi dia tertipu dengan sejumlah pembali yang tak membayar. Seperti biasa dalam bisnis online yang diterapkan Ane, yakni kalau sudah beberapa kali membayar dimuka, sejumlah pelanggan ada yang membayar di belakang. Setelah kiriman diterima barau beberapa saaat membayarnya.

Rupanya ane tak kapok, dia masih mempraktekkan bisnis bayar di belakang ini dengan harga yang lebih mahal tentunya. Seperti yang sebelumnya, kini Ane harus menunggu kerugian besar. Cara menutupinya pun dia harus menjual rumah yang ditempatinya. “Seperti sebelum-sebelumnya, kembali sejumlah pelanggan itu tak membayar. Saya sudah mengingatkan istri, jangan bisnis cara itu. Ingin mendapat untuk besar dengan cara pembayaran di belakang. Mereka itu, satu sampai 3 kali biasanya lancar, tetapi 4-5 pengiriman mereka tak membayarnya. Sekarang saya tak punya rumah lagi. Kontrak saya sekarang,” kata Bagas.

Bagas mengatakan, ini semua akibat keserakahan nafsu istri saya untuk mengejar keuntungan yang besar dengan cara tak lazim. Yaitu  barang dikirim, bayar kemudian, padahal pembelinya itu di luar pulau seperti di Maluku, Makassar hingga Papua. Tidak kenal lagi. Bagaimana cara Bagas dan istri menagihnya? “Ya itu persoalannya. Dimana alamat mereka masih samar. Ada nomer HP, tepi kebanyakan sekarang nomernya tak bisa dihubungi,” kata Bagas.

Akibat itu semua, Bagas menjadi stress berat. Istri yang tak mau diberi tahu, sejumlah orang khususnya pemasok barang  yang terus menagih hutang silih berganti. Anak yang berhenti kuliah sementara dan lainnya akhirnya “menghantam” badan Bagas sendiri. “Sekarang saya hanya pasrah kepada Allah. Saya berdoa, semoga istri saya tak terlalu menggebu-gebu untuk cepat kaya. Ya biar lah semua berjalan berdasarkan garis Allah,” kata Bagas.

Mat Tadji yang mendengar cerita sedih ini hanya berucap, “Inilah kehidupan. Ini ujian Bapak Bagas. Semoga Bapak Bagas tabah menjalani kehidupan ini,”. “Pak Mat Tadji saya sudah sampai di sini saja, besok saya akan melanjutkan kembali,” kata Bagas, sambil dijawan Mat Tadji, “Baik bapak. Jalan pagi ini selain menyehatkan juga terus menyambung tali silaturrahim,” kata Mat Tadji. (*)