Dahlan Iskan Derita Aorta Dissection (3): Gara-Gara Rakus Lentil dan Kurma Beku

Dahlan Iskan membaca Alqur’an di Masjid Nabawi, Madinah. (foto istimewa)

Semua itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba dari Surabaya setelah matahari tenggelam. Enam cucu yang masih kecil membuat kami tidak bisa bergegas langsung ke masjid Nabi untuk ikut berjamaah salat isya. Kami ke hotel dulu.

Jam 2 dini hari saya bangun. Sengaja. Untuk kembali ke masjid Nabawi. Hanya satu blok dari hotel. Saya ketok dulu kamar Azrul Ananda, anak sulung saya. Ternyata dia juga sudah bangun. Lagi makan burger. Saya ajak dia ke masjid. Untuk sholat malam. Mumpung Raudlah mestinya masih lebih sepi.

Tempat sholat di sebelah makam Nabi Muhammad SAW itu biasanya penuh sesak. Sulit sekali mencapai area itu. Apalagi memasukinya.

Beberapa jam yang lalu, habis makan malam di hotel, kami sudah rame-rame ke masjid Nabawi yang megah dan besar itu. Untuk sholat isya dan beberapa sholat sunnah lainnya. Saat itu niat ke area Raudlah juga ada. Tapi hil itu akan mustahal.

Kami pilih segera tidur saja. Agar bisa bangun jam 2 dinihari. Untuk ke masjid lagi. Pada jam 2 seperti itu saya dan Azrul bisa masuk Raudlah. Sholat sendiri-sendiri. Diselang seling dengan membaca Quran.

Saya lirik Azrul shalat dengan tingkat kekhusukan yang tinggi. Saya tahu dia sulit duduk dalam posisi takhiyat akhir. Ada besi di dalam lututnya. Sejak cedera saat main sepakbola dulu. Ini untuk pertama kalinya Azrul mau diajak umroh. Sehingga baru kali ini saya bisa umroh sekeluarga lengkap. Istri, anak-anak, menantu-menantu dan enam cucu.

Habis subuh, setelah matahari terbit, kami janjian untuk bertemu seluruh keluarga di Starsbuck. Tidak mungkin kami saling mencari di dalam masjid yang begitu besar dan begitu penuh.

Sambil menunggu matahari terbit saya duduk-duduk di plaza depan makam Nabi. Ratusan payung raksasa di plaza itu mulai dimekarkan serentak. Membuka secara otomatis. Gerakan yang sangat masif dan indah. Banyak yang menyaksikannya. Banyak pula yang minta foto bersama. Kadang saya malu dilihat orang saat mereka maksain minta foto bersama di dalam masjid.

Ternyata Starbuck tutup sepagi itu. Kami pun kembali ke hotel. Sarapan prasmanan di coffe shop. Saat itulah rakus saya muncul. Rakus yang akan membawa bencana.

Di prasmanan itu saya lihat disajikan masakan India yang lezat. Lentil. Yang dibuat seperti bubur tapi kental. Saya ambil satu mangkok penuh. Lentil yang lezat. Bumbu daal Indianya terasa nendang. Lentil adalah sejenis kacang-kacangan yang tumbuh di daratan India, Pakistan sampai ke Timteng dan Italia. Orang Italia sangat bangga dengan sup lentil. Karena enaknya, gizinya dan… satu-satunya biji-bijian yang namanya disebut dalam Alkitab Injil. Seperti zaitun, tin dan kurma yang disebut dalam Quran.

Pagi itu lentil satu mangkok ludes. Saya ambil masakan India lainnya. Juga satu mangkok. Habis. Di meja saya lihat ada satu gelas juice yang belum diminum. Agar tidak mubazir saya minumlah juice itu. Kecutnya bukan main.

Perut mulai terasa penuh dan sesak.

Komando berikutnya datang: sudah tiba waktunya berangkat ziarah. Ke masjid Qubah, Kiblatain, gunung Uhud dan lainnya. Lalu saya bertanya ke cucu-cucu: apakah sudah pernah lihat kebun kurma? Mereka menjawab serentak: beluuuum!

Usai ziarah kami pun ke kebun kurma. Kurang menarik. Tidak lagi musim kurma. Tapi di toko kami melihat ada kurma kesukaan saya: kurma mentah. Kok ada kurma mentah di luar musim kurma. Ternyata itu kurma mentah yang dibekukan. Jadi es. Lebih enak. Kriuk-kriuk.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel saya terus mengeremus kurma mentah itu. Sepet tapi enak. Enak tapi sepet. Saya suka makan kurma mentah di Jakarta. Meski carinya sulit. Kini, di Madinah, ini ada dua kilo kurma mentah beku. Saya tidak berhenti menggayangnya. Saya pernah makan kurma mentah saat di Tucson, Arizona, dua tahun lalu. Tapi tidak beku. Enak sekali. Istri saya tidak mau. Anak-anak tidak mau. Cucu-cucu apalagi.

Sampai di hotel kami istirahat. Menunggu adzan dhuhur yang masih dua jam lagi. Saat itulah tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Tambah lama tambah sesak. Sampai saya tidak tahan lagi. Dada sakit. Punggung nyeri. Nafas tersengal berat. Saya pun berteriak kepada keluarga bahwa saya lagi terkena serangan jantung. Agar dibawa ke dokter. Segera.

Mengapa saya berkesimpulan kena serangan jantung? Saya terlalu terpengaruh atas meninggalnya sepupu kami yang baik hati. Seminggu sebelumnya. Kyai Ridlo Tafsir di Takeran Magetan. Gejalanya sama.

Saya coba duduk di ranjang. Menenangkan diri. Tidak bisa. Begitu posisi duduk justru lebih tidak bisa bernafas. Saya coba berbaring. Lebih gak bisa bernafas lagi. Saya hanya bisa bernafas kalau posisi saya berdiri. Itu pun wajah harus menengadah. Dan mulut harus terbuka. Bernafas lewat mulut.

Saya muter-muter panik di dalam kamar. Sambil terus berteriak “saya kena serangan jantung… saya kena serangan jantung”. Wajah mayat Kyai Ridlo Tafsir terus terbayang.

Saya tidak menyalahkan RS di Madinah itu: mengapa tidak memeriksa kemungkinan sakit yang lain. Saya terlalu dominan mendekte dokter. Pertama soal kena serangan jantung itu. Yang sebagian saya maksudkan sebagai trik agar segera ditangani. Kedua soal cerita berbagai makanan yang saya lahap sepanjang pagi itu. Yang membuat dokter fokus pada pencernaan saya.

Mungkin juga karena saat itu pasien terus berdatangan. Banyak yang lebih tua dan wanita. Ruangan penuh. Sudah jam makan siang pula.

Mungkin juga karena rumah sakit ini gratis. Milik pemerintah. Begitu dokter minta saya meninggalkan RS, kami meininggalkan begitu saja. Tidak ada urusan administrasi discharge atau administrasi pembayaran.

Yang jelas saya lega: bukan serangan jantung. Hanya pencernaan yang harus bekerja normal dulu. Dengan cara harus diistirahatkan. Artinya jangan makan dulu. Saya pegang dan ikuti kata-kata dokter itu. (bersambung)