Batubara ‘Mengancam’ Tarif Listrik

Harga batubara dalam perdagangan Februari 2018 untuk high kalori sudah mencapai kisaran 106 dollar AS, padahal tahun lalu masih kisaran 60 dollar AS. Malah tidak menutup kemungkinan harga yang sekarang ini akan naik lagi, melihat permintaan dunia yang terus meningkat ditengah berkurangnya produksi. Keadaan ini cukup merepotkan PT PLN (Persero) yang menggantungkan batubara (sekityar 60 persen) untuk membangkitkan pembangkitnya tersebut.

Beban yang cukup berat sebagai dampak kenaikan harga batubara tersebut, membuat Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir menemui Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan mahalnya harga batubara di dalam negeri yang sudah lebih dari i 100 dollar AS per metrik ton. Sofyan berharap, Presiden dapat memberikan solusi dan menurunkan harga batubara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) menjadi 60 dollar AS per metrik ton. Presiden Jokowi juga mendukung dan menginginkan harga batubara untuk pasar domestik, khususnya untuk keperluan PLN dapat diturunkan.

Lalu bagaimana dengan tarif listrik selanjutnya sebagai dampak dari kenaikan batubara tersebut. Pemerintah sendiri sudah bertekad untuk tidak menaikkan tarif ini sampai 31 Maret mendatang. Kalau tak naik bagaimana besarnya PLN menanggung kerugian yang konon pada 2017 sudah menanggung rugi sekitar Rp 15 triliun. Sementara untuk naik cukup riskan sekali. Apalagi 2018 hingga 2019 merupakan tahun politik. Yang terpenting lagi, daya beli yang saat ini katanya menurun, selanjutkan akan lebih parah lagi keadaannya, kalau tarif listrik tersebut naik.

Di sinilah peran pemerintah sangatlah dibutuhkan. Ada sejumlah opsi yang berkembang belakangan ini. Misalnya, mengendalikkan harga batubara dengan menetapkan HBA dalam skema Domestic Market Obligation (DMO). Pertanyaannya, bagaimana dengan pengusaha batubara? Menerimakah dengan skema tersebut. Rasanya mereka akn berfikir.

Bertolak pada kenyataan inilah, diharapkan antara pengusaha dengan pemerintah lebih inten lagi untuk duduk bersama. Berbagai solusi yang disepakati harus diterima semua pihak, sehingga tidak menimbulkan hal yang tak diinginkan dikemudian hari. Solusi harga batubara yang terjangkau bagi PLN memang itu yang diharapkan PLN, tetapi harga yang “menguntungkan” juga yang diharapkan pengusaha. Di tengah-tengah itulah mungkn yang diharapkan menjadi titik temu, sehingga rakyat tidak “menanggung” lagi kenaikan tarif listrik. (*)