Pabrik Tempe di Aceh Timur Mampu Produksi Biogas dari Limbah Tempe

BANDA ACEH (global-news.co.id)-Ini bisa menjadi inpirasi bagi pemilik usaha tempe di daerah lain di Indonesia. Berawal dari persoalan limbah pabrik tempenya, Marhaban selaku pemilik bisnis tempe di desa Buket Drien, Kecamatan Sungai Raya, mengubahnya menjadi energi biogas yang bermanfaat bagi ekonomi masyarakat.

Marhaban yang mendapat kunjungan Ibrahim Hasyim selaku ketua umum Alumni Akademi Migas pun menjelaskan panjang lebar awal mula idenya untuk menyulap limbah tempe yang baunya sangat mengganggu lingkungan, kini menghasilkan energi terbarukan yang terbukti bermanfaat membantu ekonomi Marhaban sebagai pengusaha tempe.

“Saat berkembang, limbah tempe menjadi permasalahan lingkungan karena limbah ini menyebabkan bau dan merusak tanah. Dari situlah saya berpikir bagaimana saya bisa bekerja dan lingkungan tetap terjaga,” kata Marhaban kepada Ibrahim Hasyim yang berkunjung bersama rombongan.

Dikisahkan, setelah mengamati limbah tempe mengeluarkan gelembung Marhaban pun berusaha untuk mencari tahu apakah limbah tempe ini juga mengandung gas. “Saya pernah tahu di televisi kotoran sapi bisa diolah menjadi bahan bakar, nah berawal dari situ, saya pun juga berusaha untuk tahu apakah limbah tempe tersebut juga mengandung gas,” cerita Marhaban.

Marhaban pun coba coba memasukkan limbah tempe ke dalam jeriken dan kemudian dibiarkan selama satu minggu. “Pada saat itu, saya coba bakar, bisa keluar api tapi tidak besar,” kata Marhaban. Menurut Marhaban, limbah tempe itu akhirnya bisa menghasilkan gas setelah dibiarkan selama satu bulan.

Selaku tokoh migas di Indonesia, Ibrahim Hasyim mengaku surprise karena Marhaban hanyalah pengusaha tempe lokal yang tidak banyak tahu kondisi di daerah lain namun berhasil melakukan inisiasi membuat bahan bakar dari limbah tempe.

Lebih mengagumkan bagi Ibrahim Hasyim, biogas limbah tempe Marhaban kini sudah bisa dinikmati oleh tetangga pabrik tempe ini. “Dengan adanya biogas ini, para tetangga Pak Marhaban ini mampu menghemat (penggunaan elpiji) hingga 60 persen,” ujar Ibrahim. (faz)