Trump dan Yerusalem

Secara historis Yerusalem milik bangsa Palestina. Itu kalau kita melihat kebenaran sejarah. Hanya saja, Israel mengklaimnya sebagai bagian dari Negara Yahudi tersebut. Kini dunia dikejutkan lagi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Rabu (6/12/2017) waktu setempat atau Kamis malam waktu Indonesia.

Kenyataan ini akan menambah prahara di Timur-Tengah. Sudah pasti pernyataan Presiden Trump ini akan memicu lagi perseteruan sejumlah bangsa Arab dengan Israel, khususnya dengan Palestina. Mengapa? Karena bagaimana pun Yerusalem merupakan bagian dari Palestina.

Pengumuman pengakuan itu sendiri keluar dari Seorang pejabat AS mengatakan Trump akan mengumumkan pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, sebagai langkah pengakuan kota suci tiga agama itu sebagai Ibu Kota Israel, pada Rabu (6/11/2017) di Gedung Putih sekitar pukul 13.00 waktu Washington DC.

Pengumuman bahwa pemerintah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sebenarnya didengungkan saat Trump berkampanye untuk menduduki kursi presiden di AS. Trump memandang ini sebagai pengakuan atas realitas, baik secara sejarah atau modern. Langkah Trump memang cukup mengejutkan, karena pemindahan kedubes seperti ini tidak pernah diambil oleh pemerintahan sebelumnya, meskipun Washington merupakan sekutu terdekat Israel.

Seiring dengan pengumuman ini, Trump juga memerintahkan untuk mulai memindahkan kedutaan besar AS untuk Israel di Tel Aviv ke Yerusalem. Hal ini dilakukan sebagai simbol diplomatik resmi bahwa Washington mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Meski begitu, untuk beberapa waktu ke depan, Trump dikabarkan tetap akan menandatangani surat penangguhan undang-undang relokasi kedutaan AS ke Yerusalem karena pemindahan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

UU tersebut telah disahkan Kongres sejak 1995 lalu, tapi selama ini setiap presiden AS selalu mengeluarkan perintah penangguhan pemindahan kedubes tersebut demi menghindari memburuknya konflik di Timur Tengah.

Kabar mengenai keputusan pemindahan kedubes AS sudah pasti akan memicu sejumlah kekhawatiran di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara, termasuk Indonesia melihat langkah yang kemungkinan diambil pemerintahan Trump itu bisa merusak proses perdamaian antara Israel dan Palestina yang telah berlangsung lama. Dan ini, juga akan menjadi beban tersendiri bagi sejumlah sekutu utama AS seperti Perancis, Arab Saudi, dan Turki juga telah memperingatkan dan mengungkapkan keprihatinan terkait rencana Trump tersebut.(*)