Putusan Trump terkait Yerusalem: Dipuji Israel, Merenggut Hak Palestina   

GN/BBC Indonesia

YERUSALEM (global-news.co.id)-Warga Palestina terus melancarkan protes mereka atas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Mengutip BBC, Jumat (8/12/2017), di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, warga Palestina membakar bendera nasional AS sambil meneriakkan yel-yel mengenai klaim Palestina terhadap Yerusalem. “Dia membuat keputusan ini secara sepihak, mengambil pendapat orang Israel dan mengabaikan fakta-fakta mengenai Palestina,” kata Carla Birkat, salah seorang warga Palestina dalam aksi protes di Ramallah, Tepi Barat, seperti dikutip dari BBC.

Di sekitar Ramallah, toko dan kantor banyak yang ditutup. Sekolah dan universitas juga menghentikan aktivitasnya. Kemuraman dan amarah di kalangan warga Palestina jelas terasa.

Warga Palestina di Ramallah merasa Washington telah merusak peluang Palestina meraih kemerdekaan sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. “Kami mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina. Keputusan itu menyudahi solusi dua negara,” ujar Abed Jayussi, warga Ramallah lainnya.

Sebagian Kota Ramallah direbut Israel dari Yordania pada Perang 1967 dan belakangan mendudukinya meski dikecam dunia. Belakangan, beberapa negara menyerukan agar Palestina dan Israel menjadi dua negara yang berdampingan secara damai—atau disebut solusi dua negara.

Solusi itu mencakup pembentukan negara merdeka Palestina di dalam garis perbatasan sebelum Perang 1967 yang terdiri dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Pada hari yang sama ketika dia mengakui Yerusalem merupakan ibu kota Israel, Trump menyebutkan dia bakal mendukung formula perdamaian tersebut jika Israel dan Palestina menyepakatinya. Dia menekankan bahwa dia tidak merinci secara spesifik mengenai perbatasan Yerusalem.

Warga Palestina begitu marah terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Mereka menuangkan kemarahan itu dalam grafiti di Bethlehem, Tepi Barat.

Akan tetapi, Abed Jayussi menepis bahwa Trump bisa menjadi penengah perdamaian. “Saat ini kami tidak ingin ada perundingan damai apapun dengan Israel dan kami meminta Presiden Palestina memutus semua hubungan dengan Trump,” cetusnya. “Kami ingin komunitas internasional berdiri di sebelah kami.”

Ketika kemuraman dan amarah melanda Tepi Barat dan Jalur Gaza, yang terjadi di Yerusalem Barat justru kebalikannya. Di ruas jalan yang penuh berjajar toko-toko, warga Israel mengaku gembira dengan keputusan Trump. Mereka meyakini bahwa pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan pelurusan dari ketidakadilan sejarah.

“Trump adalah pria yang dikirim Ilahi. Dia mengatakan hal yang tepat dan pada saat yang tepat,” ujar David Schreider, warga Yerusalem Barat.

Sebagai seorang penganut Yahudi Ortodoks, dia memandang Yerusalem sebagai “pusat Israel dan seluruh dunia” dengan Bukit Bait Suci—tempat tersuci umat Yahudi—sebagai jantungnya. Masalahnya, lokasi Bukit Bait Suci juga menjadi tempat penting bagi umat Muslim. Di situlah terdapat Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa.

Oleh karena hal tersebut, sejumlah warga Israel mengutarakan kekhawatiran mereka bahwa langkah Trump akan memicu ketegangan agama. “Perasaan saya campur aduk. Pada dasarnya saya gembira karena (keputusan) itu adalah hal yang benar dan patut dilakukan. Namun, saya ada keraguan karena saya sadar betul imbasnya dan kekerasan yang mungkin terjadi sebagai respons,” ujar Debbie Last, seorang warga Yerusalem Barat.

Prediksi itu nyatanya jitu. Pada Kamis (7/12/2017), sedikitnya 31 warga Palestina luka-luka dalam bentrokan di Jalur Gaza dan beberapa lokasi di Tepi Barat. Pasukan Israel balik melawan dengan melepaskan gas air mata dan mengerahkan ratusan serdadu tambahan di Tepi Barat.

Insiden itu terjadi setelah Pemimpin Hamas, kelompok Islam Palestina yang sangat berpengaruh, Ismail Haniyeh, menyerukan intifada baru atau gerakan perlawanan rakyat, setelah Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.(faz)