Pijat Plus Rp 400 Ribu

 

GN/Ilustrasi

Hari telah larut malam. Terpaan hujan yang mengguyur Jakarta, membuat waktu Mat Tadji banyak terhalang. Jadwal wawancara dan bertemu klien pun agak molor. Akibatnya, jam istirahat pun juga ikutan molor. “Dhek kamma sengkok tedungan malem reyah. Kodhuh hemat. Kabedeen ekonomi gik tak begus (Kemana saya tidur malam ini. Harus Hemat. Situasi ekonomi belum bagus, Madura, Red),” guman Mat Tadji.

Mat Tadji lalu memutuskan mencari hotel “kelas teri”. Lokasinya bukan di tempat elit, tetapi pinggiran. Tepatnya kawasan pinggiran Jakarta Pusat. “Berapa tarif semalam mas,” kata Mat Tadji kepada petugas hotel malam itu.

“Hanya Rp 260 ribu bapak. Kok malam-malam datangnya bapak,” kata petugas berkaos hitam itu.

“Bagaimana lagi selesai kerjanya malam hari mas,” kata Mat Tadji sambil menunggu petugas tadi menuliskan kwitansi.

Saat menunggu itulah, Mat Tadji melihat sejumlah pria dan wanita mengantre untuk masuk hotel. Parfumnya yang menyengat membuat Mat Tadji mendengus pelan. Sementara di pojok sana wanita muda kisaran 25 tahun bercelana pendek dengan T-Shirt menantang membuat mata Mat Tadji tak berkedip. Angak hoo. Bagaimana tidak, tubuh yang berisi. Bokong yang menjengking membuat “suhu darah” Mat Tadji menghangat.

“Ini pak kuncinya. Kamarnya 014,” kata petugas tadi.

Lalu Mat Tadji beranjak menuju kamarnya. Saat akan beranjak ke kamar, Mat Tadji masih menyempatkan diri untuk menoleh ke wanita berambut pendek tersebut. Anehnya, wanita tadi masih sempat mengedipkan mata pada Mat Tadji, padahal wanita tersebut menunggu teman prianya yang sedang antre kunci di kasir.

Sesampainya di dalam kamar, Mat Tadji dikejutkan oleh bunyi nyamuk yang lumayan banyak. “Wah ini alamat tidur akan terganggu. Celakanya lagi, sabun hingga sikat gigi tak tersedia. Aduhhh palang onggu reyah kanak (Aduh celaka ini, Madura Red),” guman Mat Tadji.

Karena ingin mandi, Mat Tadji pergi tempat kasir untuk menanyakan apakah menjual sabun dan sikat gigi, ternyata di tempat tersebut lengkap tersedia. “Kalau bapak capek, di sini ada tukang pijat plus. Terserah bapak, mau cari yang model bagaimana. Kulit putih, kecoklat-coklatan hingga hitam manis ada bapak. Hanya Rp 400.000 short time,” kata petugas tadi, sambil menyodorkan sabun dan sikat gigi yang dibeli Mat Tdji.

Ariyyak pole. Akal pokal onggu petugas reyah (Ini lagi. Macam-macam pula petugas ini, Madura Red),” kata Mat Tadji dalam hati.

“Tak boleh ditawar mas,” Mat Tadji berpura-pura.

“Itu harga diskon pak. Biasanya saya memberi harga Rp 500.000,”

Anchor pessenah tellor (Hancur uangnya telur, Madura, Red),”

“Lain kali saja ya mas. Saya capek sekali,” Mat Tadji menolak halus.

Lalu Mat Tadji masuk kamar kembali untuk mandi. Seusai mandi, Mat Tadji rebahan sambil nonton TV. Matanya sudah kelap kelip, tetapi ulasan Donal Trump soal pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem membuat Mat Tadji memaksakan matanya untuk tak berkedip. Berita tersebut sungguh menarik dirinya untuk terus mengikutinya.

Thok-Thok…”Saya mas. Andini,” kata suara perempuan bersuara manja.

Bedheh apah reyah (Ada apa ini, Madura, Red),” kata Mat Tadji sambil membuka pintu.

Waduhhh…seorang wanita berpakaian menggoda berujar, “Katanya mas perlu dipijat. Itu lho mas di depan bilang kalau mas pesan pemijat,” kata wanita tadi menggoda.

“Ahhh…. Kata siapa? Saya gak pesan apa-apa. Maaf ya, saya mau istirahat,” kata Mat Tadji sambil menutup pintu.(*)

“Jakarta…ohhh Jakarta. Aneh-aneh saja. Sudahlah akau mau tidur. Besok pagi, aku harus bertemu dengan orang,” kata Mat Tadji sambil mematikan TV.(*)