Mahasiswa S2 Keperawatan Unair Dilatih Akupresur untuk Kondisi Gawat Darurat

GN/Fathurrochman Al Aziz
Prof Tatang saat memberikan materi akupresur untuk kondisi gawat darurat.

SURABAYA (global-news.co.id)-Sering dalam kondisi darurat kita tidak bisa berbuat banyak dalam membantu memberikan pertolongan pertama sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun dengan pelatihan akupresur khususnya dalam kondisi gawat darurat, semua orang bisa memberikan pertolongan pertama dengan metode akupresur.

Begitulah pelatihan akupresur dalam kondisi gawat darurat yang diselenggarakan kerjasama antara Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Akupresur Seluruh Indonesia (AAKSI) Jawa Timur dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI), Minggu (26/11/2017) lalu.

Prof Dr drh R. Tatang Santanu Adikara MS selaku instruktur pelatihan, mengungkapkan, akupresur dalam kondisi darurat diharapkan bisa mengurangi keluhan rasa sakit sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Menurut pakar terapi holistik ini, tindakan akupresur dalam kondisi gawat darurat, bisa dilakukan bukan hanya oleh tenaga ahli, namun, bisa juga dilakukan oleh umum. “Asalkan paling tidak pernah tahu akupresur dasar. “Kalau tidak pernah ikut juga tidak apa apa, karena pada waktu pelatihan juga diulangi sedikit,” papar pria yang juga Ketua Dewan Pengawas AAKSI ini.

Pelaksanaan pelatihan akupresur untuk gawat darurat kali ini merupakan yang ketiga dan rencananya akan diselenggarakan kembali pada pertengahan Desember 2017. Kebetulan kali ini, pesertanya terdiri dari mahasiswa magister keperawatan Universitas Airlangga, juga ada peserta dari pondok pesantren, dan ada pula dari masyarakat umum.

Menurut Tatang, pemberian pelatihan ini sebenarnya juga dalam rangka agar mengurangi ketergantungan kepada tenaga medis saat menghadap kondisi darurat. “Paling tidak masyarakat tidak menggantungkan kepada perawat, atau dokter. Masyarakat juga bisa mandiri dalam menghadapi kondisi gawat darurat,” papar guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair ini. “Pelatihannya pun tidak sulit, amat simple,” ungkap Tatang.

H.A Nurawi, Prof Tatang dan Prof Jenny Sunariani berfoto bersama.

Sementara itu, Ketua (YHMCHI) H.A. Nurawi mengungkapkan tidak ingin pelatihan akupresur tersebut berhenti begitu saja tanpa ada kelanjutan. “Selain kelanjutan silaturahim juga siapa yang bisa membantu Rumah Sehat di masjid Cheng Hoo. Selain itu, nanti mereka yang sudah ikut pelatihan kita ajak untuk bakti sosial ke desa-desa untuk memberikan terapi penyembuhan secara gratis,” kata Nurawi. “Harapannya mereka yang punya ilmu, bisa ikut menyumbangkan ilmunya melalui kegiatan yang kami selenggarakan di masjid Cheng Hoo,” ujar Nurawi.

Dalam kesempatan tersebut juga dihadiri Prof Dr drg Jenny Sunariani MS. Ahli ilmu faal yang juga mengajar pada ilmu kedokteran dan D3 vokasi Ilmu Pengobatan Tradisional (Batra) Unair ini menilai pelatihan akupresur ini sangat bagus bagi para terapis.  Mengapa? Tujuan pelatihan adalah untuk menguatkan terapis, kemudian selanjutnya meningkatkan kesehatan pasien.  “Kalau terapis tidak sehat, maka tidak bisa merawat banyak pasien,” papar Prof Jenny.

Tidak seperti pijat pada umumnya, pelatihan akupresur untuk kondisi gawat darurat, dilakukan pemijatan terhadap sejumlah titik tertentu yang bisa membantu mengurangi sakit pasien atau penderita. (Fathurrochman Al Aziz)