Lulusan Perguruan Tinggi Harus Siap Hadapi Era Disruption

GN/ F. Al Aziz
Imawan Mashuri, Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur, saat berorasi dalam sidang terbuka wisuda Stikosa AWS di gedug Dyandra Convention Center, Sabtu (9/12/2017).

SURABAYA (global-news.co.id)-Lulusan perguruan tinggi saat ini dinilai masih jauh dari kata siap bekerja. Namun pendidikan di perguruan tinggi tetap bisa menjadi bekal dasar. Itu berlaku pula bagi para wisudawan Stikosa AWS yang dikukuhkan di Dyandra Convention Center, Sabtu (9/12/2017) .

Imawan Mashuri, Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur yang menaungi STIKOSA-AWS, dalam sambutannya, mengungkapkan, bekal wisudawan yang dimiliki saat ini baru lah  bekal dasar. Imawan pun menyebut istilah gaul prosesi sebagai ‘wisuda Stikosa AWS zaman now’. “Keyakinan kami, bekal wisudawan yang dimiliki saat ini adalah baru bekal dasar. Tapi Insya Allah dengan bekal itu  akan bisa berkembang memasuki zaman now,” ujar Imawan.

Menurunya, hampir semua wisudawan di hampir semua perguruan tinggi dalam bidangnya masing-masing, sesungguhnya belum benar-benar bisa langsung tune-in di masyarakat. “Kita semua, terutama adik-adik wisudawan, masih harus terus belajar lagi, belajar di dunia nyata, dunia praktis,” lanjutnya.

Imawan menekankan pentingnya para wisudawan menyikap perkembangan saat ini. “Sesungguhnya zaman sekarang ini memang era disruption,” ujar Imawan Mashuri ditemui di sela proses wisuda.

Imawan mengatakan era disruption merupakan sebuah era terganggunya para incumbent. “Incumbent di sini adalah sesuatu yang established, yang keberadaannya diganggu sesuatu yaitu teknologi yang merupakan perkembangan milenial atau dengan kata lain teknologi telah mengantar pola manajemen baru yang disebut disruption,” ujar founder sebagian anak perusahaan Jawa Pos Group. Ia mengambil contoh perkembangan teknologi dalam transportasi. Ia pun bercerita pengalamannya memesan taksi online melalui aplikasi dalam smartphone yang jauh lebih praktis dibandingkan dengan sesama rekannya yang mencari taksi dengan cara konvensional.

Begitu pula dengan perkembangan dalam dunia media saat ini. Perkembangan teknologi saat ini telah melahirkan media sosial yang kontennya sendiri jauh doktrin dasar jurnalisme.

Menurut Imawan, kondisi seperti zaman sekarang tidak bisa dihindari tapi harus dihadapi. “Jangan dihindari tapi kita harus masuk ke dalamnya,” papar Imawan. “Yang paling penting juga bagaimana membekali para wisudawan ini menghadapi era disruption ini,” ujar ketua YPW Jatim ini.

Salah satu prosesi wisudawan Stikosa AWS.

Berkait dengan hal itu, ia pun berpesan kepada wisudawan. “Yang sudah konsentrasi pada bidang ilmu jurnalistik, bisa ikut berjuang untuk bisa ikut menjadikan jurnalistik zaman now yang menyodorkan kebenaran berdasar doktrin dasar yang diperoleh secara akademik di kampus,” ujarnya. “Tidak ikut menyesatkan lalu lintas informasi media sosial,” imbuhnya.

Sedangkan yang sudah belajar pada konsentrasi bidang ilmu broadcasting, bisa ikut mewarnai akal sehat dunia tayang dengan terus mengikuti dan menyesuaikan perkembangan teknologi, dan yang konsentrasi pada bidang public relation  bisa mengantar pencerahan baru dan presisi untuk suatu relasi.

Dalam kesempatan tersebut, Suprawoto bertindak sebagai Pembina YPW Jatim, juga kembali mengingatkan hasil penelitian World Economic Forum. Disebutkan dalam penelitian, antara tahun 2015-2020, sebanyak 35 persen jenis pekerjaan di dunia akan hilang atau berubah akibat perkembangan media dan teknologi informasi.

Selain Suprawoto, juga hadir Widyo Winarso, sekretaris pelaksana Kopertis VII Jawa Timur, serta Amak Syarifudin, wartawan senior yang pernah jadi salah satu pengajar jurnalistik di Stikosa AWS.

Masih di tempat yang sama, Ari Agung Priyamba, Ketua Panitia, mengungkapkan, indeks pretasi kumulatif (IPK) tertinggi tetap diraih dari mahasiswa jurusan public relation. “Ini merupakan yang keenam kalinya berturut-turut,” ujar pria akrab disapa Ari tersebut.

Seperti diketahui Ilham Bahrsyah, wisudawan bidang peminatan public relation, meraih IPK tertinggi yakni 3,77. Sedangkan IPK tertinggi untuk peminatan jurnalistik diperoleh Fahmi Aziz dengan IPK 3,58 dan Ari Noer Rachmawati, peminatan broadcasting, dengan IPK 3,65. (faz)