Limbah Ikan di Kenjeran Dimanfaatkan Jadi Pakan Ikan Bernilai Jual Tinggi

Dr Awik Puji Dyah (tengah) bersama-produk pakan ikan-Z-Fosh di depannya.

SURABAYA (global-news.co.id)-Limbah ikan buangan tempat pengasapan di Kenjeran Surabaya ternyata bisa dimanfaatkan menjadi pakan ikan berprotein tinggi yang berpotensi meningkatkan produksi ternak ikan serta mengurangi pencemaran lingkungan.

Penelitian yang dilakukan Dr Awik Puji Dyah Nurhayati SSi MSi bersama dua rekan dosen lainnya, yakni Dr rer nat Edwin Setiawan MSc dan Dr Dewi Hidayati MSi, memakan waktu tidak sebentar yakni sejak 2012 sebagai program pengabdian masyarakat bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS.

Mengapa pilih limbah ikan di Kenjeran? Awik mengatakan selama ini limbah tangkapan ikan tidak memiliki nilai jual. Jika dibiarkan menumpuk, limbah ini akan menyebabkan pencemaran organik, polusi udara, dan mengurangi nilai estetika lingkungan sekitarnya.

Berangkat dari persoalan di lapangan itulah, Awik bersama timnya mencoba melakukan rekayasa limbah tersebut di Laboratorium Zoologi dan Rekayasa Hewan di Departemen Biologi ITS. Dan hasilnya, limbah ikan itu ‘disulap’ menjadi produk pakan ikan yang bisa dikomersialkan. Zuper Food Fish (Z-Fosh), nama produk pakan ikan hasil pengolahan limbah tersebut

Awik menjelaskan, kandungan protein dalam limbah ikan yang diolah ternyata memiliki kandungan protein yang tinggi dan mampu meningkatkan kandungan protein dalam daging ikan lele. “Hasil bagus, bisa meningkatkan pertumbuhan dan kadar protein daging ikan lele,” ungkap Awik pada Global News dihubungi, Jumat (22/12/2017).

Setelah melakukan ujicoba di lab, kadar protein pada pelet (pakan ikan) hasil olahan limbah kandungannya mencapai 32,74 persen. Bandingkan dengan kandungan protein pelet komersial yang hanya 31 persen.

Bukan hanya itu, kandungan protein daging ikan lele yang diberi pelet hasil olahan limbah ini ternyata juga meningkat jadi 20,79 gram. Sedangkan kandungan protein daging ikan lele yang diberi pakan lainnya hanya 19 gram.

Awik mengakui dalam membuat produk pakan ikan yang murah dan berkualitas dengan bahan limbah ikan memiliki tantangan yang cukup besar terutama dalam proses pembuatannya. “Tapi ada kendala dalam produksi, pengeringannya limbah ikan sangat lama,” ujar Awik.

Meski demikian, justru karena terbuat dari limbah ikan yang awalnya tak memiliki nilai jual, produk ini jadi lebih murah ahrganya. Saat ini sudah dijual dengan harga Rp 13.000 per kilogram. Sekadar coba-coba browsing di internet, pelet ikan lele sejenis harganya berada jauh di atas pelet Z-fosh ini.

Mudah Pembuatannya

Bayu Laksono Putra, salah satu mahasiswa anggota penelitian, mengungkapkan, limbah ikan yang dibuang ke laut dapat menyebabkan pencemaran dan merusak ekosistem. Kata Bayu,  beberapa bagian yang biasa dibuang adalah insang, ekor, dan jeroan. “Padahal itu kan kaya protein dan dapat diolah menjadi pakan ikan bergizi serta bernilai ekonomis,” ungkap Bayu.

Dalam penelitian ini, ungkap Bayu, Z-Fosh juga menggunakan limbah hasil pengasapan ikan, keong sawah, dedak, tepung tapioka, vitamin konsentrat, daun pepaya, dan ragi tempe.

Cara pembuatannya pun cukup mudah. Hanya dengan melumatkan dan mencampur adonan, setelah itu mencetak bentuk pelet. “Cetakan tersebut kemudian dikeringkan supaya tahan lama,” imbuhnya.

Lebih lanjut Bayu memaparkan, limbah ikan harus direbus dan dipisahkan lemaknya, setelah itu dikeringkan di oven. Sementara keong sawah harus dicuci dulu, kemudian dikukus dan dipisahkan dari cangkangnya. “Ini tujuannya mengurangi zat beracun dan patogen, serta mengontrol kandungan senyawa aflatoksin agar tidak lebih dari 50 ppm,” terang Bayu lagi.

Diungkapkan Bayu, pelet ikan Z-Fosh kini telah diterapkan sebagai pakan ikan lele dumbo. Lele dumbo dikenal memiliki ketahanan tubuh yang lebih kuat dibanding ikan lain.

“Sekitar 60-70 persen dana ternak ikan itu digunakan untuk membeli pakan. Pelet Z-Fosh ini dapat digunakan sebagai upaya terobosan untuk penghematan biaya ternak ikan,” tutur mahasiswa asal Jember itu.

Saat ini, tim Departemen Biologi ini sedang fokus pada tahap pengembangan dan perbaikan mutu produk. Ke depannya, pelet ikan ini akan diproduksi dalam skala industri dan dipatenkan.(faz)