Kasus Difteri Masih Hantui Jatim, 318 Kasus Penyakit Difteri 12 Penderita Meninggal

IMUNISASI: Salah satu pelajar saat mendapatkan imunisasi difteri di sekolah. Langkah ini untuk mencegah penyebaran penyakit difteri.

Kasus penyakit difteri dari tahun ke tahun masih menghantui Jawa Timur. Bagaimana tidak, selama 2017 ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim telah menemukan 318 kasus penyakit difteri dan 12 penderitanya meninggal dunia.

PENYAKIT difteri salah satu penyakit mematikan yang kerap menyerang anak di bawah usia 15 tahun, masih menjadi momok menakutkan. Dari catatan stastistik Dinkes Jatim, kasus mematikan di tahun 2017 ini menyebar di 187 desa/kelurahan di 35 kabupaten di Jatim.

Untuk saat ini, tren kasus difteri untuk pasien meninggal akibat difteri mengalami mengalami peningkatan di banding tahun 2016. Dari 352 kasus dan menyebabkan 7 orang meninggal. Karenanya, Dinkes meminta agar masyarakat tetap waspada dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala difteri.

“Untuk peta lokasi, ada 187 lokasi (tingkat Desa atau Kelurahan) yang tersebar di 35 Kabupaten yang penduduknya terinfeksi difteri. Kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Pasuruan dengan jumlah kasus 44. Kalau dinyatakan KLB tidak ya datanya masih tinggi tahun lalu, monggo dicocokkan data,” ungkap Kohar, Rabu (6/12/2017).

Ia menjelaskan, dari total 318 kasus yang dilaporkan, hanya 24 yang dinyatakan kasus konfirm berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, sementara sisanya 294 kasus klinis. Kohar mengungkapkan semua kasus difteri tersebut melanda anak usia di bawah 15 tahun.

Kohar Hari Santoso, Kadinkes Jatim

“Dinkes Jatim telah melakukan upaya pencegahan. Salah satunya bersama Dinkes Kabupaten/Kota melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui jumlah atau banyaknya kasus difteri pada kontak erat, sebaran kasus dan faktor-faktor penyebab penularan serta menetapkan masuk dalam KLB apa tidak,” ujar Kohar.

Ia menambahkan, pihaknya juga menggelar program pemberian pengobatan profilaksia kepada kontak erat penderita difteri. Upaya lain, Dinkes Jatim juga menyiapkan dan mendistribusi logistik antara Anti Difteri Serum (ADS) dan antibiotik serta vaksin DPT Hib, DT, Td. “Kita memfasilitasi pemeriksaan spesimen untuk menetapkan diagnosa ke laboratoriun rujukan nasional BBLK Surabaya,” tandasnya.

Namun dari ratusan kasus difteri di Jatim, lanjut Kohar, hanya ada satu daerah yang menjadi penyumbang terbanyak kasus difteri, yakni Kabupaten Pasuruan dengan 46 kasus difteri. “Berdasarkan data yang dilaporkan pada kami, dari Januari hingga 4 Desember yang terbanyak dari Kabupaten Pasuruan. Semua kasus difteri melanda anak usia di bawah 15 tahun,” kata Kohar.

Karena itu, ia mengimbau, para orang tua memberikan imunisasi difteri pada anak-anak usia kurang dari satu tahun, usia 1- 2 tahun, kelas 1, 2 dan 5 Sekolah Dasar (SD). “Masyarakat kami minta segera membawa anak-anak bila ada keluhan deman dan nyeri telan ke fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) terdekat,” ungkapnya.

Seperti diketahui, difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae yang menular dan berbahaya.Penyakit dapat mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas atas toksinnya yang bersifat patogen, menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi. * jtm, sir