Bom Pipa New York Dikaitkan Pelaku dengan Aksi Israel di Jalur Gaza


GN/Reuters
Ledakan bom di Mantahattan, New York dikaitkan pelaku dengan aksi Israel yang dilakukan di jalur Gaza baru baru ini.

NEW YORK (global-news.co.id)-Sebuah ledakan terjadi di Port Authority di 42nd Street dan Eighth Avenue di dekat pusat kota Times Square, Senin pagi atau Selasa (12/12/2017) pagi WIB. Mengutip CNN, Selasa (12/12/2017), tersangka pelaku peledakan bom di salah satu terminal bus New York itu dilaporkan mengaku aksinya terkait dengan tindakan Israel baru-baru ini di Jalur Gaza.

Tersangka pelaku itu pria berusia 27 tahun bernama Akayed Ullah. Pengakuan Ullah soal alasannya melakukan serangan itu disampaikan seorang sumber di aparat penegak hukum yang dikutip CNN. Meski tidak dijelaskan secara spesifik tindakan mana yang dimaksud, diketahui belakangan Israel meluncurkan serangan udara ke Gaza dan melukai 25 orang. Serangan Israel itu menyusul serangan enam roket yang ditembakkan dari daerah pesisir menuju Israel selatan. Ketegangan memuncak di daerah tersebut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Selain mengaku melakukan serangan karena tindakan Israel, menurut seorang pejabat yang mengetahui langsung penyelidikan teror di New York, ketika berbicara dengan otoritas setempat Ullah juga mengaku berbaiat kepada ISIS.

Mengutip sumber CNN, Ullah diketahui warga keturunan Bangladesh yang tinggal di Brooklyn. Ullah memegang surat izin dari Komisi Taksi dan Limosin yang berlaku sejak Maret 2012 hingga 2015. Juru bicara Komisi, Allan Fromberg, mengatakan belum jelas “apakah dia mengemudi taksi di lokasi tertentu atau mendapatkan surat izin dan tidak mengemudi sama sekali.”

Juru bicara Kementerian Keamanan Dalam Negeri, Tyler Houlton, mengatakan Ullah datang ke Amerika Serikat pada 2011 dengan visa imigran keluarga F43. Dia kini berstatus penduduk permanen. Menurut Kementerian Luar Negeri, visa F43 diberikan untuk anak-anak dari saudara kandung warga Amerika.

“(Ulah diduga mengenakan) alat peledak teknologi sederhana rakitan yang dilekatkan ke tubuhnya dan dengan sengaja dilekatkan,” kata Komisioner Polisi James O’Neill. “Alat peledak itu dilekatkan menggunakan velcro dan retsleting,” kata wWakil Komisioner Kepolisian New York bidang intelijen dan kontraterorisme, John Miller.

Terminal tersebut merupakan salah satu penghubung yang paling ramai di jam-jam pagi yang sibuk. “Jalur subway A, V dan C telah dievakuasi,” kata polisi NYPD Brendan Ryan seperti dilansir CNN.

Menurut sumber dari NYPD, satu orang telah ditahan. Polisi meminta masyarakat untuk menghindari tempat tersebut. Informasi awal, menurut aparat, mengindikasikan bahwa sebuah bom pipa secara tidak sengaja meledak. Satu orang yang ditahan tampaknya mengalami luka-luka.

Seorang sumber polisi New York lainnya mengatakan pria yang ditahan kemungkinan telah meledakkan bom dan melukai dirinya sendiri.
Seorang warga mengaku mendengar dua ledakan saat keluar bus sekitar pukul 7.45 waktu setempat. Francisco Ramirez mengatakan dia mendengar kedua ledakan dengan sangat jelas meskipun saat itu dia sedang mengenakan headphone.

“Dari apa yang saya lihat, tampaknya suara itu berasal dari subway, tapi saya hanya menebak,” kata dia. “Itu adalah dua ledakan yang sangat jelas berjarak hanya beberapa detik. Saya sedang menuju ke dalam, saya dihalangi polisi dan banyak polisi di pintu masuk menghalangi dan SWAT di mana-mana,” kata Ramirez.

Tak Ada WNI
Sementara itu, Konsulat Jenderal RI di New York, Amerika Serikat, mengatakan sementara ini tidak ada laporan warga Indonesia yang menjadi korban insiden bom pipa yang terjadi di Terminal Tus Port Authority, Manhattan.

Konsul Jenderal Abdul Kadir Jailani mengatakan situasi di sekitar lokasi kejadian pun sudah kembali normal. “Korban insiden 4 orang yang luka ringan, namun tidak ada informasi WNI yang menjadi korban,” kata Abdul seperti dikutip dari situs CNNIndonesia.com, Selasa (12/12/2017).

Abdul mengatakan KJRI juga telah mengeluarkan imbauan bagi WNI di kota tersebut terkait serangan ini. KJRI mengharapkan agar masyarakat Indonesia di New York untuk selalu membawa identitas atau pengenal ke mana pun pergi. “Dan tetap selalu waspada khususnya di tempat keramaian,” bunyi imbauan KJRI melalui akun Facebook. Berdasarkan data KJRI, terdapat sedikitnya 9.000 WNI yang tinggal di New York.
Abdul mengatakan sampai saat ini KJRI terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memantau perkembangan penyelidikan insiden tersebut.

Serangan teror ini merupakan yang kedua kalinya terjadi di New York, bahkan AS, sepanjang 2017. Pada 1 November lalu, sebuah truk secara serampangan menabrak para pejalan kaki dan pesepeda di pinggir Sungai Hudson, Manhattan.

Setidaknya delapan orang tewas dan 11 lainnya luka-luka dalam insiden tersebut. Pelaku yang mengendarai truk kemudian menabrak bus sekolah di Chamber Street dan sempat mengeluarkan dua senjata, sebelum akhirnya ditembak dan diamankan petugas berwenang.(cnn/faz)