Menggunting dalam Lipatan

 

Ilustrasi

Minggu lalu, Mat Tadji bertugas di ibu kota. Jakarta. Seperti biasa, disela-sela mencari dan menghimpun berbagai informasi, khususnya sektor minyak dan gas, bila ada waktu dia mengunjungi teman-teman lamanya. Teman SMA, teman SMP hingga teman sewaktu kuliah. Menjaga silaturrahim alasannya.

“Assalamualaikum. Pak Doni ada,” kata Mat Tadji di sebuah rumah di kawasan Jakarta Timur.

“Oh ada. Silahkan masuk. Dari mana,” kata perempuan sekitar 60-an tahun, Minggu pagi.

Tak lama kemudian, Doni keluar. “Haiii Mat. Alhamdulillah. Mak burunah sedah ke tang roma (tak biasanya kamu datang ke rumahku, Madura, RED). Kalau tak salah sudah lebih 5 tahun kamu tak ke sini. Sudah jaya, jadi lupa kau,” kata Doni, memeluk sahabatnya sewaktu SMA.

“Ya pasti kalau ada waktu, saya mampir di sejumlah rumah teman-teman yang ada di Jakarta. Katanya, seusia kita ini, yang sudah di atas 50 tahun harus banyak-banyak bersilaturrahim. Agama kita menganjurkan begitu,” kata Mat Tadji.

Setelah ngobrol ngalur-ngidul, Mat Tadji bertanya, “Bagaimana bisnis di bidang energi itu. Bagaimana dengan jatuhnya harga minyak dunia terhadap bisnismu. Banyak perusahaan energi yang terkena dampak dari anjloknya minyak dunia itu” kata Mat Tadji.

“Sial Mat. Perusahaan yang saya bangun dengan teman akrapku waktu kuliah amburadul sekarang. Sedih saya mengingatnya. Bagaimana tidak perusahaan yang kita bangun ternyata dalam perjalanannya saya ditipu oleh kawan sendiri. Dia menggunting dalam lipatan. Di saat saya ingin membangun usaha baru dengan teman yang lain, ternyata saya dikerjain oleh temanku yang menjadi mitra di perusahaan energi tersebut,” kata Doni dengan suara lirih.

Doni memang percaya pada temannya tersebut. Sehingga apa yang dilakukan perusahaan selalu percaya. Termasuk, langkah ekspansi dimana memerlukan dana yang cukup besar. Ternyata dana ekspansi tersebut menggunakan dana temannya. Sementara Doni banyak disibukkan dengan perencanaan perusahaan yang baru.

Entah bagaimana caranya, saham Doni yang sebelumnya mayoritas 62%, sekarang merada di bawah 45%. Sementara temannya, sahamnya di atas 50% alias mayoritas. “Saya percaya saja apa yang dilakukan, ternyata temanku itu menikam dari belakang. Menggunting dalam lipatan,” kata Doni.

Menggunting dalam lipatan, arti peribahasa yang mempunyai arti: Mencelakakan atau menipu kawan sendiri atau berkhianat. Menggunting Dalam Lipatan. Ini mungkin sebuah perbahasa atau istilah yang mungkin sudah sering kita dengar. Namun apa sih arti yang sebenarnya dari arti menggunting dalam lipatan ini.

Dalam dunia kerja atau dalam hidup bergaul dengan sesama mungkin istilah ini akan sesuai dengan kenyataan yang sering kita hadapai. Jika sobat memiliki sahabat  atau teman sejawat tetapi sahabat sobat tersebut seakan bermuka dua dibelakang sobat atau mengkhianati sobat, atau menikam dari belakang saat sobat tidak ada, maka itulah arti dari perkataan menggunting dalam lipatan.

“Ya sabarlah Don. Kalau menyangkut duit kelihatannya tak arti perkawanan itu. Apalagi sang kawan itu tak punya hati. Sabarlah. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untukmu,” kata Mat Tadji, sambil mengepulkan rokoknya dalam-dalam.(*)