Kantor Perwakilan Dagang Jatim Sulut, Pasarkan Produk Jatim hingga ke Davao Filipina

 

GN/Aziz
Rombongan Pemprov Jatim saat mengunjungi Kantor Perwakilan Dagang Sulawesi Utara (Sulut) di Manado, Senin (13/11/2017).

Keberadaaan Kantor Perwakilan Dagang (KPD) yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) di 26 provinsi terbukti menjadi salah satu penggerak perdagangan antar pulau di Indonesia. Salah satu KPD tersebut berada di Manado, Sulawesi Utara. Wartawan Global News berkesempatan mengunjungi KPD Sulut, awal pekan ini. Berikut liputannya.   

Oleh: F. Al Aziz, MANADO

LOKASI kantor KPD Manado Sulut berada di area kompleks pertokoan Mega Mas sangat strategis nan bergengsi. Bukan hanya terletak di jantung kota Manado, namun juga berada di kawasan komersial yang menghadap birunya Laut Sulawesi dan berlatar Pulau Taman Laut Nasional Bunaken dan Pulau Manadotua.

Gedung kantor KPD Sulut yang terdiri dari tiga lantai tersebut  memang tidak begitu luas. Namun berbagai macam barang buatan UKM asal Jawa Timur dipajang di lemari-lemari dan rak display makanan terbuat dari aluminium. Mulai dari berbagai jenis jajanan hingga kerajinan tertata dengan rapi.

Daniel S. Pesit, penanggung jawab KPD Sulut, mengatakan, ruangan lantai kantor memang terlalu sempit untuk menjadi showroom. Karena itu, kata Daniel, KPD setempat pun mencari tempat yang lebih representatif.

“Kita ada tempat namanya Jendela Indonesia milik Lion Group, baru saja soft opening,” kata Daniel. Menurut Daniel, pihak Lion Group sengaja menyediakan showroom bagi berbagai produk-produk lokal termasuk dari Jawa Timur yang lokasinya berhimpitan dengan hotel milik Lion Group.

Daniel mengatakan, setiap hari sedikitnya ada 400 wisatawan dari Singapura dan tujuh kota di China yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka menggunakan regular direct flight dari Singapura dan China ke Manado. “Nanti bulan Januari 2018, menyusul dari Filipina dan Jepang,” ungkap pria yang juga wakil ketua Kadin setempat.

Menurut Daniel, ke depan ia berencana mengajukan permintaan kepada pengelola tempat tersebut untuk mendapatkan ruang pamer yang khusus diperuntukkan produk khas dari seluruh kabupaten kota di Jawa Timur. “Jadi nanti kalau wisatawan luar negeri atau dari wilayah timur Indonesia mau cari produk-produk Jawa Timur, cukup cari di sini saja ,” papar Daniel.

Karena itu, Daniel berharap pada bulan Januari-Februari 2018, seratus persen rak-rak display sudah terisi produk dari Jawa Timur. ”Kalau saat ini baru 30 persen saja, jadi belum bisa disediakan satu blok khusus Jawa Timur,” lanjut Daniel.

Tak hanya menunggu, KPD setempat juga melakukan jemput bola dalam memasarkan produk. “Pasar kita bukan hanya Sulut saja, tapi juga sampai Davao (Filipina Selatan),” kata Daniel.

Sekadar diketahui, jalur Davao, Filipina-Bitung, Manado, secara resmi dilayani kapal RoRo per 30 April 2017. Peresmian itu ditandai dengan penandatanganan antara Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi dan Menteri Perhubungan Filipina, Arthur P Tugade, 28 April 2017. Penandatanganan kesepakatan tersebut disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Brunei Indonesia Malaysia Philipines-East Asean Growth Area (BIMP-EAGA) ke-12 di Manila, Filipina. Presiden Joko Widodo, bersama dengan Presiden Rodrigo Duterte meresmikan peluncuran pelayaran perdana Kapal RoRo pada tanggal 30 April 2017.

Namun sayangnya, sejak diresmikan, kapal sementara ini tidak dioperasikan karena load factor. “Karena muatannya kurang jadi sementara dihentikan,” kata Daniel. Sekadar diketahui, jalur Bitung-Davao/General Santos dilayani Super Shuttle RoRo 12 dengan kapasitas 500 TEUS. “Padahal kebutuhannya baru 100,” katanya.

Daniel sendiri mengaku pihaknya sudah terikat kontrak dengan mitra dagangnya di Filipina senilai 10 juta dollar Amerika Serikat dalam berbagai bentuk mulai dari busana muslim, produk bangunan seperti semen, juga kain sepatu, tas.

GN/Aziz
Showroom milik Lion Group yang rencananya ke depan bakal ditempati produk-produk dari Jawa Timur dan sejumlah daerah di Indonesia.

Potensi pasar dari Filipina selatan ini, kata Daniel, cukup menjanjikan. Pasalnya sebanyak 14 provinsi di wilayah Filipina Selatan diserahkan kepada pemerintah otonom yang dipegang Nur Misuari. “Mereka selama ini beli produk-produk busana muslim dari Malaysia, tapi orang Malaysia belinya di Tanah Abang. Nah ini yang kami tarik peluangnya, karena mereka kalau ke sini lebih dekat,” kata Daniel.

Asal tahu saja, dari Davao ke Manado dengan menggunakan pesawat hanya memakan waktu 55 menit. “Kalau dengan kapal laut, 30 jam,atau satu malam saja, jadi sangat dekat,” kata Daniel. “Mereka paling banyak beli bahan bangunan termasuk semen, termasuk berbagai produk  busana muslim,” kata Daniel.

Daniel mengatakan pihaknya membuat kesepakatan dagang dengan Bangsa Moro Bussiness Council yang dulu disebut Muslim Trader. “Orang-orang Moro banyak berasal orang keturunan Madura dan Makassar. Mereka banyak membeli komoditi seperti kopra, jagung dan beberapa produk lainnya, kentang, sayur mayur lainnya. Mereka punya kentang kecil-kecil tidak bisa buat French fries, kalau kita punya kan panjang,” kata Daniel.

 

Permintaan Ayam Beku  

Daniel mengungkapkan permintaan bahan pangan paling banyak dari Jawa Timur dari Sulut adalah daging ayam beku. “Setiap bulan mencapai 22 kontainer  ukuran 20 feet. Itu kalau bulan biasa. Tapi kalau menjelang Lebaran atau Natal, permintaan bisa mencapai 30 kontainer,” ujar Daniel.

Selain daging ayam beku, yang juga banyak diminati adalah iga atau rusuk, daging bebek. “Buah-buahan lokal, sayur-mayur di supermarket semua dari Jawa Timur,” katanya.

Daniel mengatakan total kebutuhan Sulut 50 persen dipasok dari Jawa Timur terdiri produk makanan, pakaian sekolah, batik banyak ditemukan di mal-mal di Manado.

Daniel mengatakan, berdasarkan sensus tahun 2015 yang keluar tahun 2016, total transaksi perdagangan Sulut ke Jawa Timur mencapai Rp 118,5 triliun. Sebaliknya, nominal transaksi dari Jawa Timur ke Sulut hanya Rp 105 triliun. Menurut Daniel, sekitar 40 persen perusahaan di Jawa Timur mengambil cengkeh, kopra, jagung dari Sulawesi Utara. “Pembelian jagung biasanya untuk comfeed. Dari Sulut banyak juga membeli comfeed dari Jatim, termasuk juga nugget (frozen food),” kata Daniel.

Dikatakan, hubungan Jawa Timur dan Sulut selama ini berlangsung sangat baik. Bukan hanya produknya,tapi juga manusianya. “Semua gedung di sini yang bikin buat semua pekerja dari Jatim semua,” kata Daniel. “Di sini lihat saja banyak warung Lamongan, jadi banyak orang Jatim di sini,” ujar Daniel.

Terkait itulah Daniel mengusulkan bahkan mengaku sudah mengajukan permohonan agar Bank Jatim membuka cabang di Manado. “Kenapa saya usul, karena apa, tiap minggu, buruh yang gajian itu banyak, mereka juga banyak keluarkan uang untuk beli makanan dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

 

Tantangan

Daniel mengatakan salah satu persoalan yang hingga kini belum bisa diselesaikan adalah soal tuntutan produsen yang menginginkan uang tunai begitu barang sudah diterima. “Padahal kalau kita kan harus dijual eceran. Kalau setiap kirim harus ada uang tunai, duit dari mana,” kata Daniel. Karena itu, kata Daniel, solusinya memang Bank Jatim membuka cabang di Manado. Dari sini pihak bank bisa menjadi solusi dengan mengeluarkan surat kredit berdokumen dalam negeri (SKBDN) atau sering disebut LC lokal.

“Jadi pemilik barang bisa langsung menerima uang begitu surat keluar, sedangkan pengusaha yang di sini tinggal membayar ke bank sesuai dengan perjanjian pihak bank,” ujarnya.

Daniel juga mengatakan, selama lima tahun terakhir, KPD Pemprov Jatim di Manado Sulut juga menghadapi persoalan yang juga tidak kalah pelik yakni soal gaji staf yang masih di bawah upah minimum regional (UMR) setempat. “Dulu karyawan ada lima sekarang dikurangi jadi tinggal empat,” kata Daniel.

 

Sambut Baik

Tony Tamatompol, salah satu pengusaha asal Manado yang lama tinggal di Surabaya, mengakui    keharusan adanya lembaga khusus yang bisa menjadi mediasi pengusaha atau investor dan petani seperti yang dilakukan KPD Pemprov Jatim.

“Agar muncul kepercayaan antara pelaku usaha,” kata pengusaha Manado ini. Manado memiliki banyak potensi alam yang bisa dikelola secara profesional seperti kelapa, cengkeh pala, kayu manis dan lain lain yang selama ini kurang dikelola dengan baik. “Dibutuhkan investor-investor dari Jawa khususnya Jatim supaya hasil alam baik hasil laut maupun darat bisa dikelola dengan baik dan mendapatkan pasar yang baik pula,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim M Ardi Prasetiyawan sendiri menuturkan, banyak produk jadi yang coba dikembangkan untuk bisa menjadi komoditas yang laku di pasaran. Menurutnya semua itu tak lepas dari banyaknya petani yang ada di Jatim.

Ia menambahkan hasil panen tak hanya dikembangkan dalam produk bahan baku saja, sehingga ada nilai lebih yang bisa didapat para petani. “Jadi kami arahkan untuk bisa menjadi produk jadi. Makanya hasil panen pisang petani langsung bisa diolah menjadi produk jadi yang nilai jualnya lebih tinggi,” ujar Ardi beberapa waktu lalu. (*)