Survei Median: 63,8 % Inginkan Jokowi Diganti dan Berharap Capres Alternatif

Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan dengan Prabowo usai Pilpres 2014 lalu.

JAKARTA (global-news.co.id)-Tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ternyata belum membuat masyarakat puas. Bahkan mayoritas masyarakat yang menjadi responden menghendaki Jokowi diganti.

Hasil tersebut terekam dalam hasil survei Media Survei Nasional (Median) jelang Pemilu 2019. Dari hasil survei Median, sebanyak 63,8 persen publik yang ingin pergantian pemerintahan pada Pemilu 2019 nanti. Sebab, hanya 36,2 persen yang memilih Jokowi lagi nantinya, menurut hasil survei ini. “Ada 63,8 persen publik yang menginginkan Presiden Jokowi diganti,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun di Rumah Makan Bumbu Desa Cikini, Jakpus, Senin (2/10/2017).

Tidak hanya itu, mayoritas responden juga menginginkan capres alternatif di luar Jokowi dan Prabowo Subianto. Median menyebutkan, elektabilitas Jokowi sebesar 36,2 persen. Sementara elektabilitas Prabowo sebesar 23,3 persen. Sisanya, 40,6 persen ingin capres di luar Jokowi dan Prabowo. “Ada 40,6 persen publik tidak ingin Prabowo dan tidak ingin Jokowi,” kata Rico.

Selain Jokowi-Prabowo, nama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di posisi ke-3 dengan perolehan suara 8,4 persen. Sedangkan, calon-calon lainnya juga masuk radar Pilpres 2019, namun perolehan angkanya tak signifikan. Sebut saja Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan (4,4%), Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (2,8%), hingga Wapres Jusuf Kalla (2,6%).

“Saat ini, terlihat publik menginginkan adanya alternatif figur kepemimpinan nasional selain Jokowi dan Prabowo. Bisa dilihat dari jumlah pemilih yang menjawab tidak ingin keduanya sebesar 40,6%. Ini lebih besar ketimbang pilihan terhadap Jokowi atau pilihan terhadap Prabowo,” ujar Rico.

Survei ini digelar pada 14-22 September 2017 dengan sampel 1.000 responden di seluruh provinsi di Indonesia. Metode survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error +/- 3,1% dan tingkat kepercayaan 95%. Quality control dilakukan terhadap 20% sampel yang ada.

Kenapa responden tidak menghendaki memilih Jokowi kembali? Rico menjelaskan, problem ekonomi yang menjadikan masyarakat tidak ingin memilih Jokowi. Sedangkan, Prabowo juga dinilai tak mampu mengatasi persoalan ekonomi saat ini.

“Masyarakat merasa pembangunan infrastruktur yang menjadi andalan ternyata belum menjadi solusi beratnya himpitan ekonomi keseharian, bahan pokok, listrik mahal. Sayangnya, data juga menunjukkan publik meragukan kemampuan Presiden dan Prabowo dalam menangani masalah itu,” ujar Rico.

Hasil survei disebutkan elektabilitas Jokowi sebesar 35,2% dan Prabowo 23,2%. Sulit kemungkinan Pilpres terjadi satu putaran. “Dari hasil survei terlihat elektabilitas Jokowi tidak aman, sementara Prabowo semakin turun. Rasanya sulit membayangkan hanya ada dua pasang capres, Jokowi dan Prabowo, di Pilpres 2019,” terang Rico.

Alhasil, munculah beberapa nama capres alternatif. Para tokoh alternatif tersebut dipandang punya peluang jadi kuda hitam di Pilpres 2019. “Yang patut menjadi perhatian, ada 32,4% publik yang merasa ekonomi di zaman SBY lebih baik di zaman Jokowi (30,1%),” tuturnya.

Berikut ini hasil elektabilitas capres versi survei Median:

  1. Jokowi 36,2 persen
  2. Prabowo 23,2 persen
  3. Susilo Bambang Yudhoyono 8,4 persen
  4. Anies Baswedan 4,4 persen
  5. Gatot Nurmantyo 2,8 persen
  6. Jusuf Kalla 2,6 persen
  7. Hary Tanoesoedibjo 1,5 persen
  8. Aburizal Bakrie (Ical) 1,3 persen
  9. Ridwan Kamil 1,2 persen
  10. Tri Rismaharini 1,0 persen
  11. Tokoh lainnya 4,1 persen
  12. Tidak tahu/tidak jawab 13,3 persen. * mdk, dtk, nas