Pencegah Kantuk Masinis KA ITS Jawara Penelitian Transportasi 2017

Tim mahasiswa ITS didampingi Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur sekaligus Ketua IKA Alumni ITS Jatim Wahid Wahudi ketika menerima penghargaan.

SURABAYA (global-news.co.id)-Tim mahasiswa Departemen Teknik Industri ITS menciptakan alat yang bisa dipergunakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kereta api selama perjalanan. Berkat ciptaan tersebut, tim mahasiswa ITS ini meraih Piala Adi Cipta Tata Wahana Nusantara Award setelah dinyatakan sebagai juara 1 dalam Lomba Penelitian Ilmiah Transportasi 2017 yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI).

Tim yang terdiri dari Reza Aulia Akbar, Raif Nova Riantama, dan Muhammad Afif Purwandi ini mendapat penghargaan khusus yang diserahkan oleh Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi, Kamis (26/10/2017) lalu, di kantor Kemenhub RI, Jakarta. Acara ini juga dihadiri para rektor perguruan tinggi se-Indonesia dan para kepala Dinas Perhubungan Provinsi se-Indonesia.

”Kemenangan ini sebanding dengan usaha tim kami yang telah melakukan penelitian selama enam bulan. Penelitian ini juga melibatkan kerjasama dengan PT KAI Daop 8 Surabaya,” tutur Reza, selaku ketua tim.

Perlombaan ini berlangsung kurang lebih enam bulan lamanya, sejak 30 Maret 2017 lalu dengan melalui tiga tahap. Bersama tiga rekannya, Reza melakukan penelitian yang berfokus pada penyempurnaan teknologi deadman pedal, dimana alat tersebut dapat dioperasikan oleh masinis dalam keadaan setengah sadar. Penelitian yang ia lakukan pun membuahkan alat bernamakan Masinis Fatigue Detector (Maftec).

Maftec inilah yang berfungsi mencegah kemungkinan kecelakaan kereta api. Maftec bekerja dengan mendeteksi mata kantuk berdasarkan durasi lama menutupnya mata. “Apabila responden terdeteksi mengantuk, maka vibration armband akan bergetar dan selanjutnya Maftec akan mengirimkan data peringatan normal atau kantuk ringan maupun kantuk berat ke PC melalui bluetooth dengan interface yang berupa peringatan,” jelas pria asal Yogyakarta ini.

Menurut Reza, Maftec dapat bekerja lebih efektif dibandingkan deadman pedal yang selama ini diaplikasikan pada kereta. Pasalnya, deadman pedal yang berfungsi sebagai alarm kesadaran masinis dan juga pengendalian kereta api ini menggunakan sistem 90/30. Sistem ini menandakan bahwa pedal memiliki set waktu 90 detik diinjak dan 30 detik dilepas. Sedangkan Maftec dapat bekerja lebih cepat.

Ke depannya, Reza bersama dua rekannya akan melakukan pengembangan produk terkait dengan peningkatan spesifikasi komponen alat yaitu mini PC, webcam, dan bluetooth, sehingga Maftec dapat bekerja dengan respon yang cepat serta memiliki akurasi tinggi.

Selain itu, ia akan melakukan inovasi terkait teknologi Night Vision untuk Maftec. Agar nantinya dapat bekerja dengan baik untuk mendeteksi mata kantuk masinis ketika malam hari pada kabin lokomotif. Tak hanya itu, Reza berkeinginan untuk melakukan uji coba kelayakan Maftec secara langsung pada perjalanan kereta api yang melibatkan masinis.

Di samping itu, pria yang bercita-cita sebagai peneliti ini akan menjajaki proses mendapatkan Hak Karya Intelektual (HaKI) atas inovasi Maftec sebagai detektor kelelahan-kantuk masinis terintegrasi. Setelah meraih Piala Adi Cipta Tata Wahana Nusantara Award ini, Reza bersama tim juga mendapat uang sebesar Rp 50 juta dan berwisata ke Beijing untuk mempelajari transportasi, khususnya perkeretaapian.(faz)