KPU Target Tingkat Kehadiran Pemilih Di Jawa Timur Capai 77,5 Persen

Sejumlah komisioner KPU pusat, KPU Jatim, hingga jajaran pemerintah terkait ikut mengundi kupon jalan sehat ”Gerak Jalan Sadar Pilkada Serentak Tahun 2018″, Minggu, (29/10/2017) di Surabaya. (GN/F. Al Aziz)

SURABAYA (global-news.co.id)- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat Arif Budiman menargetkan  tingkat kehadiran dalam pemilihan kepala daerah yang akan belangsung pada 27 Juni 2018 mendatang bisa mencapai 77,5 persen.

Hal tersebut diungkapkan Arif Budiman saat menghadiri jalan sehat bertajuk ”Gerak Jalan Sadar Pilkada Serentak Tahun 2018” yang diselenggarakan KPU Jawa Timur, Minggu (29/10/2017). Kegiatan serupa juga serentak diselenggarakan oleh 171 daerah penyelenggara pemilihan kepala daerah. ”Kami berusaha menginformasikan detail pilkada kepada masyarakat sedini mungkin. Bukan hanya terkait waktu penyelenggaraan, namun juga tata cara menggunakan hak pilih,” ujar Arif di lokasi kegiatan.

Dengan sosialiosasi yang masiv, pihaknya berharap tingkat kepesertaan pilkada bisa mencapai 77,5 persen. Khusus untuk Jatim, rencananya pilkada serentak 2018 akan dilakukan di 18 kabupaten dan kota serta satu pilkada tingkat provinsi. “Termasuk juga di Jatim. Sebelumnya hanya 68 persen,” ujar mantan anggota KPU Jatim ini.

Dalam jalan sehat tersebut, juga hadir Ketua Komisi II DPR RI Zainuddin Amali; Wakil Ketua Komisi II DPR RI Fandi Utomo; anggota DPD RI Ahmad Nawardi; Kabiro Administrasi Pemerintahan Setdaprov Jatim, Anom Surahno; Ketua KPU Jatim Eko Sasmito; hingga komisioner KPU lain, anggota Ombudsman Dadan Suparjo Suharmawijaya.,

Masih di kegiatan yang sama, Divisi Sumber Daya Manusia dan Partisipasi Masyarakat (SDM Parmas) KPU Jatim, Gogot Cahyo Baskoro, mengatakan  intensifikasi sosialisasi juga akan menggunakan media sosial dengan menyasar keluarga dan warga internet (netizen).

“Dua sasaran ini akan menjadi fokus dalam sosialisasi dan pendidikan pemilih, selain sasaran yang lain. Ini sesuai dengan amanah Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2017,” ujarnya.

Gogot menilai basis keluarga sangat tepat untuk sasaran sosialisasi karena terdapat pemilih yang terdaftar sekaligus anak selaku calon pemilih pemula. ”Metodenya bisa dilakukan saat coklit (pencocokan dan penelitian) dan forum warga,” terang Gogot.

Sedangkan terkait penggunaan media sosial, piahknya akan menyasar penduduk Jawa Timur  yang merupakan pengguna internet aktif. ”Sekitar 51 persen dari total penduduk Indonesia merupakan pengguna internet atau medsos. Ini yang akan kami sasar dalam sosialisasi dan pendidikan pemilih nanti,” ungkapnya.(faz)