Kiai Mutawakkil: Lebih Etis Gus Ipul-Khofifah Nonaktif

 

BERSAHABAT: Tampak Abdullah Azwar Anas, Khofifah Indar Parawansa, dan Saifullah Yusuf terlihat bersahabat meski harus bertarung di Pilgub.

SURABAYA (global-news.co.id)-Kabar majunya tiga tokoh nahdlatul ulama (NU) Jawa Timur bertarung dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, menarik perhatian sejumlah kalangan nahdliyin. Mengingat, ketiga tokoh NU yakni, H Saifullah Yusuf, Hj Khofifah Indar Parawansa dan H Abdullah Azwar Anas sama-sama memiliki jabatan penting di NU.

Dalam struktur kepengurusan NU, Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul kini tercatat menjabat sebagai ketua PBNU, sedangkan Khofifah Indar Parawansa menjabat Ketua Umum PP Muslimat NU. Sementara Abdullah Azwar Anas yang telah ditetapkan sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) mendampingi Gus Ipul, tercatat sebagai Ketua PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim.

Majunya ketiga tokoh NU ini pun akhirnya mendapat perhatian dari Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah. Kepada awak media, Kiai Mutawakkil meminta ketiga tokoh NU yang ikut meramaikan Pilgub Jatim agar nonaktif dan mundur dari jabatan di organisasi NU.

Menurut Kiai Mutawakkil, majunya tokoh NU di Pilgub Jatim mendatang merupakan hak mereka untuk berpartisipasi dalam proses pilkada, baik pilkada kabupaten, kota, maupun provinsi. “Gus Ipul masuk jajaran pengurus harian PBNU secara etika sebaiknya non aktif. Begitu juga dengan Bu Khofifah selaku Ketum PP Muslimat NU lebih etis kalau non aktif, supaya tidak timbul kesan memanfaatkan jabatan di organisasi NU dan Banom NU,” kata Kiai Mutawakkil, Rabu (18/10/2017).

Tidak hanya itu, kata Kiai Mutawakkil, juga mengingatkan kepada seluruh kiai NU, Ketua maupun pengurus harian NU serta ketua Banom NU yang terlibat menjadi anggota tim sukses cagub-cawagub Jatim supaya non aktif sebagaimana hasil keputusan Muktamar NU di Solo, karena hal itu dinilai kurang etis. “Kami juga mempersilahkan semua pengurus NU untuk menentukan hak pilihnya. Atau mungkin akan menjadi tim suksesnya. Tapi harus cuti dari jabatan kepengurusannya,” jelasnya.

Pemintaan Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, agar lembaga NU tidak ikut ditarik dalam kepentingan politik praktis. “Jadi ikuti aturan sesuai aturan organisasi. Baik Gus Ipul maupun Khofifah, jangan menggunakan lembaga NU, karena itu nggak boleh,” tandasnya.

Di tempat terpisah, munculnya dua kader terbaik NUdalam kontestasi Pilgub Jatim 2018, merupakan bukti nyata kalau NU sudah berhasil menjadi sistem nilai bagi kader-kader NU yang tersebar di berbagai partai politik di Jatim. Kondisi ini mendapat pengamatan menarik dari pengamat polisi Unibraw Malang, Faza Dora Nailufar.

Menurutnya, kehadiran dua tokoh NU ini mampu mewarnai politik di Jatim. Bahkan, ia berkeyakinan suara warga NU tidak akan terkotak-kotak. Karena, sekarang ini warga nahdliyin sudah sangat cerdas memilih figur yang pantas untuk dipilih.

“Orang muslimat belum tentu memilih Khofifah, sebaliknya kaum muda Ansor juga tidak cenderung untuk memilih Gus Ipul yang notabenenya adalah mantan ketua Umum PP GP Ansor,” katanya.

Begitupun dengan peran kiai, kata Dora, prosentase dukungannya tidak bisa 100 persen diikuti oleh warga NU dalam hal pilihan politiknya. “Peran kiai dalam mendulang dukungan soal politik, hasilnya tidak bisa signifikan,” ulasnya.

Terkait gerakan kedua kandidat Cagub Jatim ini, Dora melihat gerakan Khofifah yang terkesan silent dalam Pilgub Jatim 2018 justru mampu meningkatkan elektabilitasnya. Sebaliknya, pasangan Gus Ipul-Anas dinilai sebagai pasangan yang ideal dan mirip pasangan Karsa pada pilgub Jatim sebelumnya.

“Elektabilitas Gus Ipul cenderung mentok, namun dengan munculnya Anas sebagai pasangan (cawagub) diyakini bisa kembali naik. Khofifah juga harus bekerja keras mencari pasangan yang minimal bisa menyaingi Anas jika ingin mengalahkan pasangan Gusip Anas,” beber perempuan berjilbab ini.

Sosok Cawagub Khofiah yang bisa sedikit menyaingi Anas, lanjut pengurus ISNU Jatim ini, adalah Emil Dardak Bupati Trenggalek. Sedangkan Ony Anwar Harsono wakil bupati Ngawi dinilai belum mampu menyaingi Anas, karena posisinya selama ini hanya menjadi Wabub.

“Akan semakin berat KIP (Khofifah Indar Parawansa) jika berpasangan dengan orang yang belum populer dan kinerjanya bisa dilihat masyarakat. Justru lebih muda kalau KIP berpasangan dengan tokoh birokrat yang kinerjanya baik dan bisa dilihat langsung masyarakat,” tuturnya.

Pengamatan berbeda diperlihatkan, Direktur Eksekutif Bangun Indonesia, Agus Mahfud Fauzi. Ia menilai figur yang cocok menjadi cawagub Khofifah adalah  Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni

Ia mengungkapkan, bila Khofifah berpasangan dengan Ipong, keduanya bisa saling melengkapi secara politik. Khofifah yang identik dengan santri dan Muslimat NU, akan dilengkapi dengan Ipong yang identik dengan figur nasionalis dan Abangan. Apalagi Ipong punya hubungan yang harmonis dengan nahdliyiin karena kakeknya pernah menjadi Ketua PCNU Kabupaten Ponorogo.

“Saya kira pasangan Khofifah-Ipong bisa saling melengkapi secara politik. Mereka bisa mengimbangi pasangan Saiful-Anas yang sudah lebih dulu running,” terang mantan komisioner KPU Jatim saat dikonfirmasi Rabu (18/10) kemarin. * sir