Jadi TKW, Pulang Lalu Suami Sodorkan Utang

Ilustrasi

Ada pemandangan haru di pojok ruang tunggu Pengadilan Agama Surabaya. Seorang wanita muda, sambil menggengam surat-surat yang terbungkus map terlihat penuh kegelisahan. Sesekali menoleh ke kanan. Sesekali menoleh ke kiri. Ya kegelisahan dan kegeraman bercampur jadi satu.

“Menunggu siapa mbak,” kata Mat Tadji, yang saat itu sedang bertandang ke Pengadilan Agama.
“Menunggu teman. Dia lagi ke dalam. Mengurus surat-surat,” katanya enteng.
“Mengurus surat cerai ya,” Tanya Mat Tadji.
“Ya mas. Kok tahu. Ribet dan melelahkan. Mengurus nikah ribet. Bercerai malah ribet lagi,” kata wanita dengan nama Martina itu.

Lalu Martina yang kelahiran Kediri bercerita, bahwasanya bercerai merupakan jalan final. Bagaimana tidak, lelaki yang dibelani ini ternyata pria lemah. Saat pertama kali keluarga si pria melamarnya, ibu Martina menolaknya. Alasannya klasik, karena Muhrija pengangguran. Hanya saja, cinta sudah tahi kucing rasa cokelat. Waktu itu, cinta Martina pada Muhrija sudah tak bisa dihalangi lagi.
“Falang…Anchor pessenah tellor. (Celaka. Hancur uangnya telur, Madura Red),” gumam Mat Tadji mulai iba mendengar cerita Martina yang berkulit hitam manis itu.

Tutup cerita, hampir 4 tahun lalu pesta perkawinan Muhrija dengan Martina digelar. Martina sudah bertekad, apapun yang terjadi, lelaki yang dipilih menjadi suaminya itu sudah menjadi pilihannya. Semua risiko Martina siap menanggungnya. Termasuk risiko Muhrija yang menganggur.

Rupanya apa yang menjadi kekhawatiran orang tuanya Martina. Benar saja, lebih 4 bulan pasangan suami-istri itu masih luntang lantung setelah menikah. Muhrija ternyata termasuk pria yang pemalas. “Karenanya, waktu itu, saya memutuskan untuk bekerja di Hongkong. Maret 2014 saya resmi mulai bekerja di Hongkong. Harapan saya, setelah saya ke Hongkong, suami juga mencari kerja. Ternyata tidak,” kata Martina penuh kesal.

Martina ber angan-angan, bekerja 3 tahun di Hongkong sudah dapat menjadi modal untuk membuka usaha sendiri di desanya, Kediri. Setiap bulan, sebagian besar dari gajinya dikirim kepada suaminya. Harapannya, agar uang kiriman tersebut di simpan di bank. Sedikit demi sedikit, kan lama kelamaan jadi bukit juga.

Martina di Hongkong bekerja keras. Dia hampir tidak pernah keluyuran untuk boros borosan. Setelah menurut perhitungannya dana atau gaji yang dikirim kepada suaminya sudah cukup untuk membuka usaha, Martina pulang ke tanah air. Pertengahan Juli 2017 lalu, dia sudah mendarat di bandara Juanda dari Hongkong.

Rasa rindu pada suami diluapkan ketika sang suami menjemput di bandara. Mereka berdua bersama sejumlah keluarga pulang ke rumahnya. Makan bersama disiapkan oleh ibunya untuk menyambut putri keduanya itu tiba di tanah air dengan selamat.

“Petaka itu datang di saat kami berada di peraduan. Saya menanyakan sudah berapa nilai gaji saya yang sudah ditabung di bank. Eh…malah dia menyodorkan sejumlah kwitansi keperluan dirinya selama saya di Hongkong. Ini kan kebangeten. Muntab aku mas. Keinginan bercinta yang sudah menggebu-gebu berubah kemarahan,” kata Martina mengenang.

Karena Muhrija sudah menjadi pilihannya, Martina tak menampakkan kemarahan di depan orang tuanya. Hanya saja, akhirnya Martina sudah tidak kuat lagi. Setelah hampir 3 bulan setibanya di tanah air, Martina ngomong apa adanya pada keluarganya. “Saya sudah minta maaf pada ibu. Saya yang ngotot menikah dengan Muhrija ternyata merupakan keputusan yang salah. Saya sudah bulat ingin bercerai. Apalagi suami tidak menunjukkan tanda-tanda bertanggungjawab sebagai suami. Dia tidak bekerja,” katanya.

“Saya sudah berangan-angan akan membuka usaha sendiri sepulang dari Hongkong. Ehhh ternyata, gaji yang saya kirim dibuat foya-foya. Siapa yang tak marah mas. Dibelani sampai kerja ke Hongkong, ehhh dia negmbat uang saya hasil kerja di Hongkong. Saya sudah bulat mengajukan cerai,” Martina terlihat sedih.(*)