Besok, Ratusan Angkot ‘Duduki’ Grahadi, Protes Taksi Online

Tampak angkot/lyn terparkir rapi di kawasan Jl. Gubernur Suryo saat aksi sopir angkot ke gedung Grahadi Surabaya, beberapa tahun lalu,

SURABAYA (global-news.co.id)–Keberadaan taksi online di Surabaya membuat para sopir angkutan kota (Angkot) di Surabaya geram. Selain tidak berizin, ribuan taksi online ini kerap mencari penumpang di jalanana yang menjadi rute trayek angkot. Akibatnya, pendapatan para sopir angkot pun menurun drastis.

Karenanya para sopir angkot mendesak kepada pemerintah provinsi (Pemprov) Jatim maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, untuk segera menertibkan taksi online illegal ini. Desakan ini akan disampaikan bersamaan dengan aksi unjuk rasa ngeluruk gedung Grahadi Surabaya, di Jalan Gubernur Suryo, Selasa (3/10/2017) besok.

Rencana demo besar-besaran ini telah ditentukan jauh-jauh hari. Bahkan, pada Rabu (27/9/2017) lalu, ratusan sopir angkot berencana menggelar demo namun dibatalkan. Kali ini, aksi unjuk rasa ini tampaknya bakal dilakukan karena rencana aksi ini sudah ramai dikalangan sopir angkot, bahkan hampir semua angkot di Kota Surabaya telah ditempeli rencana aksi tersebut.

Selebaran ajakan dan rencana demo itu ditempel di kaca belakang angkot. Detailnya informasi demo itu bertulisan, “Top Markotop unjuk rasa turun jalan demo Grahadi 3 Oktober”. “Itu keinginan para sopir,” kata Kepala Organda Surabaya Sonhaji, saat dihubungi, Senin (2/10/2017).

Para sopir angkot di Surabaya kesal dengan makin liarnya taksi online. Bahkan dalam catatan Organda Surabaya jumlah taksi online mencapai lebih dari 10.000 kendaraan. Namun mereka jelas-jelas tak mengantongi izin. Apalagi menyusul revisi MK yang berarti aturan belum bisa dijadikan acuan. Belum lagi kewajiban taksi online harus berbadan hukum atau koperasi diabaikan.

Ketua Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Surabaya mengatakan, ratusan angkutan kota (angkot) atau lyn di Surabaya bakal mengelar demonstrasi besar ke kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan Surabaya, Selasa (3/10/2017).

Para sopir angkot di Kota Pahlawan protes dengan keberadaan angkutan berbasis aplikasi. Baik taksi atau ojek online. Keberadaan angkutan online makin meresahkan karena jumlahnya makin tak berbendung. “Kami ingin bertemu Gubernur Jatim (Soekarwo), ingin menyampaikan aspirasi soal keberadaan angkutan online,” sebut Soebekti.

Sebelum gelaran demo terlaksana, perwakilan SPTI dan Komunitas Angkutan Kota Surabaya (KAKS) mendatangi Mapolretabes Surabaya, Sabtu (30/9/2017) lalu. Mereka menemui Kapolretabes Surabaya, Kombes Pol Mohammad Iqbal.

Dalam pertemuan tatap muka dan silaturahmi ini, perwakilan SPTI dan KAKS sepakat menjaga kemanan dan ketertiban selama menggelar aksi demo nanti. “Kami melakukan aksi dan menyampaikan aspirasi secara damai. Tidak akan menggangu ketertiban dan keamanan Kota Surabaya. Aksi tak akan anarkis,” terang Soebekti.

Menurut Soebekti, keberadaan angkutan online di Surabaya makin meresahkan pada sopir angkot. Jumlah taksi online sudah mencapai lebih 10 ribu, kemudian ojek online sudah menembus di atas 15 ribu. Jumlah tersebut sangat mematikan angkot dan harus ada batasan kuota.

Keberadaan angkutan online, kata Soebekti, regulasi dan payung hukum belum jelas. Juga tidak membayar pajak ke pemerintah daerah dan tidak ada uji KIR. “Dulu sempat ada rencana ada Pergub (Peraturan Gubernur) soal angkutan online di Jatim, tapi berhenti begitu saja. Kami berharap Pergub soal angkutan online diberlakukan di Jatim,” harap Soebekti.

Menangapi rencana aksi angkot Se Surabaya, Kapolretabes Mohammad Iqbal sengaja mengundang dan mengumpulkan perwakilan SPTI dan KAKS. Silaturahmi bersama perwakilan sopir angkot ini guna menyamakan presepsi terkait rencana aksi pada Selasa (3/10/2017) nanti. “Aksi diharapkan bisa berjalan secara tertib, lancar dan kondusif. Tatap muka dan silaturahmi sudah dilakukan dan mereka sepakat menjaga ketertiban dan keamanan,” tutur Iqbal. * suc, nas