Pemkot ‘Gigit Jari’, APBN Batal Biayai Proyek Trem

Salah satu rekayasa trem yang melintasi di jalur utama Kota Surabaya.

SURABAYA (global-news.co.id)-Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akhirnya hanya bisa gigit jari. Pasalnya, proyek trem yang rencananya bakal dibiayai oleh pemerintah pusat melalui APBN batal terealisasi.

Kepastian itu disampaikan Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang mengaku telah menerima surat resmi dari Menteri Keuangan (Menkeu), jika pemerintah pusat tidak bisa membiayai proyek transportasi massal tersebut. “APBN nya tidak ada. Padahal, sebelum ada rencana pembiayaan dengan APBN banyak sekali investor yang masuk dan minat,” kata Risma, kemarin.

Meski kecewa, namun Risma tetap berusaha untuk merealisasikan proyek trem yang dinilai mampu memecah kemacetan di pusat kota. Caranya? Pemkot Surabaya tampaknya bakal membuka tender untuk proyek trem di Surabaya dengan target pengerjaan selesai pada 2021 mendatang. “Kita akan tender sendiri. Kita lakukan sesuai dengan perencanaan milik kita sendiri,” terang Risma.

Walikota perempuan pertama di Surabaya ini menegaskan, Pemkot Surabaya tidak akan mengambil peran dalam proyek prestisius tersebut. Sebab pemenang tender akan ditentukan oleh profesional dan akademisi. “Nanti kita hanya bayar subsidinya. Dan yang jelas saat beauty contest bukan kami yang menentukan, tapi para profesional dan akademisi yang menentukan. Cocok tidaknya digunakan di Kota Surabaya,” ungkap Risma.

Terkait anggaran, Risma bakal melakukan penghitungan ulang anggaran yang dibutuhkan untuk proyek trem, baik jalur utara-selatan dan timur-barat. “Kalau dulu total seluruhnya Rp 3,8 triliun, tapi mau kita hitung lagi,” ujar dia.

Pihaknya berharap proses tender atau lelang proyek trem akan mulai dibuka pada awal 2018 dengan harapan tahun 2019 sudah mulai pengerjaan konstruksi. “Paling tidak tender memakan waktu sekitar 6 bulan jadi 2019 mulai kontruksi dan selesai 2021,” harap Risma.

Di tempat terpisah, anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey menilai, skema pembiayaan proyek trem di Kota Pahlawan hingga kini belum jelas. “Dari semula sudah saya sampaikan beberapa kali, trem bukanlah moda transportasi perkotaan yang cocok bagi kota Surabaya,” kata Awey, di Surabaya, Jumat (15/9/2017).

Menurut dia, Surabaya lebih tepat menerapkan angkutan cepat terpadu atau berupa Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT) dan Monorail. Hanya saja, lanjut dia, persoalannya tidak ada anggaranya untuk mewujudkan itu semua. Menurut Awey, anggaran untuk membiayai MRT/LRT/Monorail jauh lebih mahal dibandingkan trem.

Karena itu, lanjut dia, apabila Pemkot Surabaya tidak miliki anggaran yang cukup untuk membiayai itu semua, ada baiknya moda transportasi perkotaan yang digunakan adalah Bus Rapid Transit (BRT) terlebih dahulu. “Jangan dipaksakan terus apabila skema pembiayaan trem masih belum jelas,” ujarnya.

Jika menggandeng pihak swasta, lanjut Awey, maka hal ini juga akan membebani APBD Surabaya seperti halnya dari sisi subsidi tiketnya. Sebab, pihak swasta investasi yang diberikan ingin secepatnya Break Even Point (BEP) sehingga biaya akan dibebankan pada masyarakat pengguna trem tersebut melalui harga tiket.

Awey mengatakan jika menggandeng pihak swasta dengan nilai proyek Rp 2 triliun maka tidaklah mudah. Ia mencontohkan, di DKI Jakarta saja merupakan join venture sehingga ada separuh yang merupakan beban APBD DKI dan separuhnya lagi pihak swasta. “DKI dengan APBD puluhan triliun tentu sanggup membiayainya, sementara APBD Kota Surabaya sekitar Rp 8 triliun saja,” ujarnya.

Karena itu, jalan keluarnya adalah menggantikan moda transportasi perkotaan dari trem menjadi BRT, seperti Bus Transjakarta pilihan yang paling tepat. Anggarannya pun jauh di bawah anggaran trem dan fungsinya sama.

Hanya yang membedakan adalah trem berbasis rel dengan kecepatan 50-70 km/jam untuk dalam kota. Dari sisi kecepatan, bus seperti Transjakarta sama cepat dengan trem. Jalur khusus untuk trem juga bisa digunakan untuk BRT. “Hanya jenis BRT untuk Surabaya lebih baik yang low deck. Lebih ramah bagi orang tua/anak-anak dan orang berkebutuhan khusus,” kata dia. * dtk, ara