Mereka yang Hijrah ke Negeri Seberang (3-Habis): Mencari Ilmu di Sekolah Terbaik, Kerja di Restoran untuk Tambah Uang Saku

 

 

SEKOLAH TERBAIK: Budiono Darsono dan Hana serta kedua anaknya di kampus UNSW Sydney.

Sejumlah orang hijrah ke negera lain dengan alasan ingin mencarikan pendidikan anaknya yang lebih baik. Pendidikan yang tak hanya melulu eksak, tapi lebih kepada etika dan sosial. Selain keluarga Suharjo W. Djais asal Jakarta yang sekarang menetap di Australia, ada pula pasangan  Budiono Darsono (Presiden Komisaris Kumparan.com) dan Hana Budiono (Direktur Utama PT Agrakom Para Relatika), yang juga mengirim putra-putrinya sekolah di luar negeri. Tapi pasangan mantan wartawan ini memilih tetap tinggal di Tanah Air.

Oleh: GATOT SUSANTO

PASANGAN Budiono-Hana menyekolahkan anak-anak mereka di luar negeri karena Hana dulu pernah kuliah di Amerika Serikat dengan beasiswa Rotary Foundation. Saat itu Hana pun langsung berkeinginan agar anak-anaknya kelak mengenyam pendidikan di luar negeri.

“Alhamdulillah keinginan tersebut terkabulkan. Tapi kami tidak hijrah. Kami tetap tinggal di tanah air bekerja di Indonesia,” kata Hana kepada Global News Rabu 13 September 2017.

Anak sulung pasangan ini, Fajar Putra Suprabana,  berusia 28 tahun, lulus SBM ITB dan melanjutkan S2 di Macquarie University di Sydney Australia jurusan Commerce. Dia memilih universitas tersebut karena memang salah satu yang terbaik untuk bidang bisnis di kawasan Asia Pasifik. Dia lulus tepat waktu bergelar Master of Commerce dan kembali ke tanah air bekerja di NET TV sebagai tim Creative Production.

Anak bungsu, Bening Putri Wardani, berusia 23 tahun, kini tinggal di Australia. Lulus SMP Madania di Parung, lalu sekolah menengah di Chua Chu Kang Secondary School hingga mendapat ijazah O level.

Mengambil program Foundation di UNSW Sydney lalu kuliah di UNSW jurusan media fokus di Public Relations & Advertising. Lulus dan diterima bekerja di Open Learning Global, perusahaan pembuat platform e-learning. Dia bekerja sebagai Marketing Creative. Dia menerima TR (Temporary Resident) Visa untuk tinggal bekerja selama dua tahun di Australia.

Putra sulungnya punya passion di bidang produksi film dan program TV. Dia memiliki potensi kuat di Screen Writing dan bekerja di stasiun televisi yang  sesuai dengan passion-nya tersebut.

“Kalau anak bungsu masih dalam taraf mencari bidang apa yang dia mantap untuk menggelutinya. Dia punya banyak talenta kreatif: video, fotografi, multimedia, web, digital marketing, dan lain-lain. Bekerja sebagai Marketing Creative adalah awal yang baik untuk meniti karier selanjutnya,” kata Hana.

Menempuh pendidikan di luar negeri tentu berbicara soal biaya pendidikan. Menurut Hana, biaya pendidikan sejak awal sudah dipersiapkan. Ukuran terasa mahal bila dibanding dengan biaya di dalam negeri. Namun Hana tidak kaget sebab dia sudah berpengalaman saat  kuliah di Amerika tahun 1986-1987 di mana biaya kuliahnya sudah sedemikian mahal.

“Kami yang menanggung biaya sekolah mereka, juga biaya hidup mereka seperti uang saku, apartemen, dan lain-lain. Meski demikian, saat kuliah anak-anak atas keinginan sendiri bekerja sebagai waiter restoran. Ini untuk pengalaman dan menambah uang saku,” katanya.

Mereka juga aktif melakukan kegiatan di kampus atau di komunitas WNI. Misalnya si bungsu pernah menjabat sebagai Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia untuk negara bagian New South Wales, banyak kegiatan dilakukan seperti budaya, olahraga, dan lain-lain yang menunjukkan kecintaan terhadap tanah air untuk disaksikan publik Australia.  Saat ini dia aktif di organisasi Australia Indonesia Youth Association.

Selama di negeri orang, mereka tinggal di asrama: dormitory, unilodge atau berbagi rumah kontrakan, hingga memaksa setiap mahasiswa untuk mandiri.    Anak-anak hidup layaknya mahasiswa lain, tidak ada yang diistimewakan. “Semua itu memberi kontribusi dalam menciptakan anak mandiri.  Kami sangat bersyukur Allah SWT memberi berkah-Nya dengan tak terhingga,” katanya.

 

Pendidikan Kreatif

 

Berbeda dengan pasangan Budiono-Hana, keluarga Suharjo W. Djais asal Jakarta memilih hijrah ke Australia. Suharjo sebelumnya pindah di tahun 2015 namun harus kembali lagi ke Indonesia, karena masalah pekerjaan dan biaya. Kini mereka kembali lagi ke Melbourne.

Di Jakarta, Suharjo berkarir lebih dari 10 tahun di dunia IT dengan posisi terakhir Technical Consultant Manager di salah satu Systems Integrator terbaik. Saat kedatangan pertama ke Melbourne, dia pernah bekerja di restoran.

“Melbourne adalah kota di mana banyak cafe kopi bertebaran dan saling berlomba menarik pelanggan dengan aromanya yang khas. Di kota inilah kami sekarang berada, membangun mimpi demi kedua anak kami,” katanya.

Suharjo ingin memberikan pendidikan yang lebih baik kepada kedua anaknya.  Pendidikan yang lebih menekankan etika dan sosial daripada ilmu pasti, dan pendidikan yang mengarahkan anak-anak agar lebih kreatif daripada menghafal. Juga keinginan memiliki waktu bersama keluarga yang berkualitas yang tentunya sulit didapatkan di Jakarta karena panjangnya waktu yang dihabiskan di jalan karena macet.

Di luar itu, rendahnya polusi air dan udara juga lingkungan yang nyaris sangat tertib, transportasi publik yang lebih manusiawi, dan kehidupan yang relatif lebih tenang menjadi poin tersendiri kenapa dia berjuang kembali ke Australia demi anak-anak. Banyaknya fasilitas permainan luar ruangan menjadi salah satu alasan keluarga Suharjo pindah ke Australia.

“Di sini, penyandang cacat, anak-anak, ibu hamil dan manula diperlakukan seperti raja, semua dirancang dengan memasukkan mereka sebagai pertimbangan sehingga hasilnya pasti mendukung mereka baik mobilisasinya maupun pelayanannya.  Yang menarik lagi adalah di sini anak-anak kami tidak menjadi anak mall mereka bisa bermain di Taman yang memang dibangun banyak sekali di kota ini.  Mereka bisa mengenal alam, bermain di alam terbuka, dan relatif lebih aman. Di sini adalah negara di mana burung-burung pun bebas becanda satu dengan lainnya di tengah-tengah manusia. Tapi, bukan berarti kehidupan di Jakarta sepenuhnya buruk bagi kami ya…” katanya.

Suharjo dua kali datang ke Australia. Sebelumnya, di akhir tahun 2015, dia sempat mencoba untuk melakukan migrasi ke kota ini sekaligus melakukan pengaktifan Visa Permanent Resident Australia.

“Saat itu ketentuan dalam Visa Permanent Resident yang kami dapatkan memiliki first entry yang sama yaitu 31 Oktober 2015, yang artinya kami harus sudah masuk Australia sebelum 31 Oktober 2015 atau Visa kami dibatalkan.  Visa Permanent Resident adalah Visa yang memberikan waktu bagi kami untuk boleh keluar, masuk, dan tinggal di Australia selama 5 tahun dan bisa diperpanjang jika memiliki waktu tinggal di Australia selama 2 tahun kumulatif dalam 5 tahun,” katanya.

Visa ini memberinya hak dan kewajiban sama seperti Warga Negara seperti misalnya mendapatkan tunjangan dan bantuan, tapi tidak untuk 3 hal yaitu, kewajiban memilih dalam Pemilu, hak mencalonkan diri dalam Pemilu dan hak bekerja di instansi pemerintah yang sensitif dan memiliki tingkat rahasia tinggi seperti militer.

“Sebuah langkah yang terlalu berani saat itu karena kami datang tanpa didukung tabungan yang kuat dan di waktu yang menurut kami kurang tepat.  Kami datang saat itu di bulan September, bulan mendekati Natal akan dirayakan yang membuat banyak perusahaan menurunkan slot lowongan kerja mereka karena sudah mendekati libur panjang, kalau meminjam istilah orang Ausie “they wont pay your holiday, mate!” (mereka tidak akan mau membayar liburan anda),’ katanya.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan tabungan yang minim membuatnya kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta saat itu setelah 3 bulan di negeri orang.  Jadi, kalau mau datang sebaiknya di antara bulan Februari sampai Mei, bulan di mana lowongan kerja sedang panen raya sehingga peluang mendapatkan pekerjaan akan lebih besar.

“Mencari pekerjaan di Australia juga menjadi tantangan tersendiri, selain cuaca dan budaya.  Di sini, cari kerja sesuai dengan latar belakang keahlian itu susah-susah gampang. Dan biasanya yang bikin tambah susah itu adalah level kemampuan bahasa Inggris dan pengalaman lokal di sini.  Jujur, saya pribadi dengan pengalaman kerja 10 tahun lebih di bidang IT saat di Jakarta apalagi didukung dengan sertifikat mentereng seperti CCIE (sertifikat tertinggi dari CISCO System) tidak banyak membantu saat itu,” katanya.

Namun dia tidak putus asa. Tahun ini dia kembali lagi ke Melbourne pada bulan Februari lalu dan kebetulan dia bertemu seorang yang sangat baik, lalu memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa bekerja di perusahaan dia sebagai Systems Engineer. “Jadi saya sudah ada pekerjaan saat akan kembali ke Melbourne dan karena itu kami bisa kembali dengan lebih cepat. Saya merasa beruntung karena tidak banyak yang bisa mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu sebelum migrasi,” katanya.