Mereka yang Hijrah ke Negeri Seberang (2): Menyiapkan Calon Masjid, Berkah dari Serangan Rasis

CALON MASJID: Rumah dan lahan di Loganlea dibeli seharga 880.000 dollar Australia (sekitar Rp 9,3 miliar) akan dimanfaatkan sebagai Pusat Komunitas Muslim Indonesia. GN/Achmad Supardi

Warga negara Indonesia di luar negeri memiliki komunitas sendiri. Begitu pula WNI di Australia. Komunitas muslim ini tentu membutuhkan tempat ibadah. Hanya saja bukan perkara mudah memiliki sebuah masjid. Namun dengan kekompakan dan hubungan baik dengan warga setempat, kini masjid itu pun siap digunakan.

———————————————————–
LAPORAN Achmad Supardi dari Queensland, Australia
———————————————————–

RABU 24 September 2014 adalah hari bersejarah bagi komunitas Muslim Indonesia di Queensland, Australia. Di hari itu mereka mendapatkan serangan rasis yang tiga tahun kemudian, berbuah sebuah community center milik mereka sendiri. Beli, bukan lagi sewa.
Pada tahun 2014, komunitas Muslim Indonesia hanya memiliki satu rumah kecil di Rocklea, sekitar 9 kilometer ke selatan dari pusat kota Brisbane. Tempat itu mereka fungsikan sebagai sebuah pusat komunitas (community center) di mana warga Muslim Indonesia –baik yang masih WNI maupun sudah menjadi warga negara Australia—mengaji, berdiskusi, dan melakukan kegiatan sosial.

Sayang, tingginya pemberitaan tentang Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) membuat kebencian sebagian kalangan terhadap Muslim menemukan momentumnya. Pusat Komunitas Muslim Indonesia di Queensland alias Indonesian Muslim Center of Queensland (IMCQ) diserang. Grafiti bertuliskan ‘die’ dan ‘Muslims are evil and have no respect for our ways’ disemprotkan di pintu markas IMCQ.

Namun, berkat serangan itulah keberadaan komunitas Muslim Indonesia sekaligus kebutuhan mereka akan sebuah community center diketahui oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Brisbane. Pemkot Brisbane pun memfasilitasi dengan membolehkan IMCQ menggunakan Kuraby Community Hall dengan biaya sewa yang terbilang murah.

Imam Mawardi, Presiden IMCQ.

Bagaimana pun, status IMCQ di tempat baru hanyalah sewa. Padahal, ada banyak komunitas lain yang juga berharap menggunakan tempat tersebut. Tidak ada pilihan lain kecuali menggencarkan usaha untuk memiliki sebuah community center sendiri yang tergolong layak. IMCQ membuka keran infak dan wakaf untuk pembangunan community center ini. “Melalui situs kami dan juga grup-grup WA komunitas Indonesia serta kegiatan-kegiatan IMCQ kami tawarkan waqaf tanah senilai 250 dollar Australia per meter persegi,” kata Hamid Mawardi, Presiden IMCQ, Rabu (30/8).
Hasil kerja keras para aktivis IMCQ tidak sia-sia. Infak dan wakaf yang masuk kini berwujud sebuah pusat komunitas yang mandiri di Loganlea, Kota Logan, sekitar 30 kilometer di selatan Brisbane.

“Kami sangat berterima kasih kepada Presiden Jokowi. Beliau memberikan bantuan Rp 5 miliar saat berkunjung ke sini. Bantuan itu sangat mempercepat perolehan properti sebagai pusat kegiatan IMCQ,” lanjut Hamid.
Jokowi hadir di Brisbane untuk menghadiri KTT G20, Oktober 2014, hanya berselang sebulan sejak serangan rasis menimpa markas IMCQ di Rocklea. IMCQ mengundang Jokowi hadir dalam salah satu diskusi mereka. Di momen itulah Jokowi menjanjikan bantuan dana yang terealisasi tak lama setelahnya.

Kini IMCQ sudah membeli sebuah rumah 5 kamar 213 meter persegi di atas lahan seluas 4507 meter persegi. Properti ini terbilang strategis karena terletak hanya 1,1 km dari stasiun kereta api Loganlea, dekat dengan halte bus, dan jalan tol.
Lokasi ini bisa dengan mudah dijangkau oleh mereka yang bermobil maupun menggunakan angkutan umum. Loganlea juga terletak hampir di tengah-tengah antara dua kota besar Queensland, yakni Brisbane dan Gold Coast di mana komunitas Muslim Indonesia banyak tinggal. Tak hanya itu, lokasi properti ini juga berbatasan langsung dengan Ryan Park, area hijau yang membuat markas baru IMCQ ini lebih asri.

Properti ini didapat dengan harga 880.000 dollar Australia atau sekitar Rp 9,3 miliar (dengan kurs hari ini). Meski demikian, IMCQ mengeluarkan dana 943.000 untuk memperoleh properti ini karena harus pula membayar biaya lain-lain, termasuk legal fee dan stamp duty. Stamp duty semacam pajak perolehan yang mesti dibayar saat membeli properti, mendapatkan kredit kepemilikan rumah, asuransi tertentu, bahkan hadiah.

Saat ini dana yang harus dikeluarkan IMCQ masih banyak karena rumah tersebut harus dirombak. “Agar rumah ini disetujui pemanfaatannya sebagai sebuah pusat komunitas, kami harus memenuhi sejumlah syarat. Syarat itu di antaranya ketersediaan fasilitas parkir yang memadai dan akses bagi penyandang disabilitas, termasuk adanya ramp (jalur landai) dan toilet bagi penyandang disabilitas,” kata Radies Purbo, salah satu aktivis IMCQ.

Good Neighbourhood
Pembenahan properti hingga memenuhi syarat Dewan Kota Logan untuk menjadi pusat komunitas bukanlah satu-satunya tugas saat ini. Tugas lain yang tak kalah penting adalah membina hubungan yang baik dengan masyarakat, terutama para tetangga terdekat.
“Saat ini IMCQ sudah mendapatkan izin sebagai sebuah community center. Kami ingin fasilitas ini juga mendapat izin sebagai place of worship atau tempat ibadah. Untuk itu ada sejumlah syarat lain, yang terutama adalah adanya izin dari para tetangga terdekat,” kata Hamid.

Untuk mengenalkan keberadaan IMCQ dan membina silaturahim dengan warga sekitar, IMCQ mencanangkan program good neighborhood. Salah satu kegiatannya adalah barbeque setiap hari Minggu. “Kami undang masyarakat sekitar, termasuk polisi dan pejabat kota agar muncul saling pengertian,” kata Radies yang sedang menempuh studi di Griffith University.

Kegiatan lainnya adalah bertanam tanaman perdu khas Indonesia seperti cabai, sereh, melati. Harapannya masyarakat sekitar juga bisa memetik atau memanfaatkannya saat sudah bisa dipanen.
Sambil menunggu izin sebagai masjid, properti yang dibuka pertama kali pada Sabtu (26/8) ini meneruskan aktivitas lama di Kuraby Community Hall seperti pengajian, kursus membaca Al Qur’an, juga pelaksanaan ibadah massal teragenda seperti Sholat Idul Adha yang dilaksanakan pada Sabtu (2/9) di Oxley Creek Common, sebuah lapangan di pinggiran Brisbane.

“Kami tentu masih membutuhkan banyak dana untuk finalisasi pembangunan community center ini dan membiayai kegiatan rutin. Kami bersyukur sekali atas sumbangsih rekan-rekan Indonesia di sini yang mau menyisihkan rezekinya meski mereka kebanyakan pekerja blue collar,” kata Hamid.
Bagi yang ingin menyumbang terhadap IMCQ, bisa ditransfer ke rekening IMCQ di Commonwealth Bank, nomor rekening 10278022, BSB Number 064-183. Bukti transfer bisa dikirim ke nomor ponsel +61423257518. (*)

*Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang. Saat ini merupakan Ph.D student di The University of Queensland, Brisbane, Australia dengan beasiswa dari LPDP.