Masuk Toilet Perempuan Mat Tadji Dihardik Bule

Musik Reggae mengalun rancak di Pantai Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu 26/8/2017) malam. Sejumlah jurnalis dari berbagai propinsi bergoyang di depan panggung. Mengikuti alunan music Jamaika tersebut. Mat Tadji pun maju ke depan. Di goyang-goyang pinggulnya. Sementara tangannya ke depan dank e belakang.

Mat Tadji benar-benar “lupa” semuanya. Happy….happy….happy. Dentuman drum, petikan bas ditambah ngek-ngok organ membuat Mat Tadji semakin larut. “Dhek remmah reyah kanak goyangngah. Biasanah agoyang dangdut, sateya e soro goyang reggae. Mayuh tak arapah ( bagaimana ini goyangnya teman-teman. Biasanya goyang dangdut, kini disuruh goyang reggae. Ayo tak apa, Madura Red),” kata Mat Tadji sambil mengusap keringatnya yang mulai membasahi leher bagian belakang.

Lagu-demi lagu dimainkan grup band yang pemainnya berpakain pantai tersebut. Mat Tadji pun tak surut ke belakang, untuk kembali ke tempat duduknya. Tubuhnya semakin hangat, karena gerakannya semakin ngawur. Dia memang tak bisa joget, dansa dan sebangsanya. Dia hanya ingin bergerak untuk berkeringat. Mengapa? Karena Mat Tadji ingin “mengganti” jalan pagi yang sudah biasa dia lakukan. Sudah 2 hari dia absen jalan pagi, karena padatnya acara di Pulau Gili Trawangan tersebut.

Saking kepinginnya bergoyang reggae, meski baru menyantap makan malam dengan lahap, karena lauknya bermenu ikan laut kesukaannya, Mat Tadji cuek saja maju ke depan panggung. Padahal, biasanya dia pemalu.
“Adhuh…, mak sakek tabuk. Kabennyaan ngakan reyah (aduh kok sakit perut. Kebanyakan makan ini, Madura Red). Ini tak akan datang lagi acara seperti ini, saya coba tahan 15 menit saja,” katanya.

Hanya saja, perut sakit yang ingin ke belakang itu alias ek… ek…, ternyata tak bisa ditahan. Mat Tadji keluar dari kerumunan teman-teman yang asyik bergoyang reggae. Dia berlari munuju toilet depan hotel, tempat dia menginap. “Mas??? Masih lama ta,” Mat Tadji mengetuk toilet yang bertuliskan Gents.
“Masih mas. Lagi sakit perut banget nih,” sahut seorang laki-laki.
Lalu Mat Tadji menoleh ke sebelahnya. Ada bacaan Ladies dengan pintu terbuka. Tanpa pikir panjang, Mat Tadji langsung masuk, karena kebelet bab.

Setelah buang air besar usai, dia langsung membuka dau pintu, dan betapa terkejutnya. Di depannya sudah berdiri bule cantik. Muka lonjong, Hidung Mancung, dan body hahenol. Yang terakhir ini yang membuat Mat Tadji tertegun. Wanita itu dengan semua badannya basah, usai berenang.
“This only for women,” kata bule sekitar 35 tahunan itu sambil menunjuk daun pintu yang ada gambar kepala perempuan bertuliskan womens.
Mat Tadji tertegun. Buka takut karena dihardik bule bahenol, tetapi tertegun dihadapan bule yang berpakain bikini. “Anchor lek mon dek iyyeh (hancur kalau begitu, Madura Red.),” guman Mat Tadji.

“I’m sorry. Sakek tabuk tak kenning eampet (maaf sakit perut gak bisa ditahan),” Mat Tadji malu-malu sambil matanya tak berkedip.
“Dia sakit perut juga kali,” sambil tak berkedip melihat bule yang besah-basah usai berenang di kolam renang hotel.
Mat Tadji pun kembali ke acara di tepi pantai. Musik reggae terus mengalun. Kali ini Mat Tadji tidak turun bergoyang, tetapi duduk di meja sambil menikmati buah dan makanan kecil. Sesekali kakinya dihentakkan ke pasir untuk menambah rileks. Dan tak lama, Mat Tadji beberapa kali angop, pertanda tubuhnya sudah mau istirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 10.47 WIT.

“Mas saya mau masuk dulu. Ngantuk. Besok kan harus naik sepeda ke dermaga,” kata Mat Tadji pada teman sebelahnya yang dari Medan.
Ya… di Pulai Gili Trawangan tak ada (dilarang) kendaraan ber BBM. Yang ada hanya sepeda dan andong. Mat Tadji menikmati ke sana kemari dengan naik sepeda selama 2 hari di pulau “Kuta-nya Lombok” tersebut. Siang harinya hampir setengah hari Mat Tadji bersepeda ria mengikuti outbound. Tak ada capek, karena Mat Tadji benar-benar menikmati. Apalagi hiruk pikuk di pulau tersebvut banyak “dikuasahi” bule yang berpakaian minim.
“Ahhh…Gili Terawangan, kini sudah menjadi “desa bule”,” kata Mat Tadji dalam hati sambil memeluk guling. (*)