KISAH WNI KULIAH SAMBIL SEKOLAHKAN ANAK DI AUSTRALIA (2-HABIS): Bisa Bekerja, Berhaji, dan Menjadi Konsultan

 

GN/ Rustanto
PUTRI dan putra Rustanto tetap berusaha tidak berkurang hafalan ayat Al Quran-nya meski tinggal di Australia.

Memperdalam Bahasa Inggris dengan nyaris sepenuhnya gratis adalah alasan lain mengapa para mahasiswa Indonesia membawa anak-anak mereka bersekolah di Australia. Bonusnya, pengembangan diri bagi orangtua yang sama gratisnya.

 

Laporan Achmad Supardi dari Brisbane Australia

 

“BAYANGKAN, kalau saya masukkan anak saya di sekolah internasional dekat tempat tinggal saya di Ciputat, biayanya mahal sekali. Uang masuknya Rp 200 juta, sementara SPP-nya Rp 20 juta per bulan. Tentu tak terjangkau oleh saya,” kata Radies Purbo, pegawai negeri di Dirjen Perimbangan Keuangan, Departemen Keuangan RI.

Hal yang sama diungkapkan Agus yang saat ini menjadi mahasiswa S3 di Queensland University of Technology. Di Indonesia, untuk mendapatkan kecakapan berbahasa Inggris orangtua harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.  “Dengan membawa mereka ke Australia, secara alamiah mereka belajar berbahasa Inggris,” kata Agus.

Anak-anak Radies pun cepat belajar bahasa Inggris. “Anak-anak itu daya tangkapnya luar biasa. Sebentar saja mereka sudah fasih berbahasa Inggris,” kata Radies.

Anaknya yang saat ini masih di kindergarten (TK), Khayra, sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dalam Bahasa Inggris. “Dia belajar dari YouTube dan Bersama kaka-kakanya,” ujarnya.

Bukan hanya daya serap anak-anak yang masih sangat tinggi, faktor lainnya adalah difasilitasi oleh sekolah bagi anak-anak yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris. “Sekolah anak saya memberikan tambahan pelajaran Bahasa Inggris secara khusus. Mereka diberi teman pendamping untuk melatih berkomunikasi dalam Bahasa Inggris,” kata Agus, dosen di Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Jombang.

Bila ada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau menghadapi masalah seperti bullying, sekolah sudah memiliki saluran komunikasi khusus.

Kenyataan seperti diceritakan Agus dan Radies sangat melegakan Rivan, apalagi setelah ia melihat sendiri yang terjadi pada anaknya. Tadinya ia takut anaknya mengalami kesulitan beradaptasi dan memahami pelajaran yang disampaikan dalam Bahasa Inggris. Bagaimana pun di Indonesia dulu anak-anaknya berkomunikasi di keluarga maupun dengan teman dalam Bahasa Indonesia. Kini mereka harus berbahasa Inggris bukan hanya dalam kelas, namun juga dalam beragam aktivitas bersama teman-temannya.

“Syukurlah sekolah-sekolah mempunyai cara untuk mendidik anak-anak yang memerlukan bantuan dalam berbahasa Inggris. Anak saya diberi kelas tambahan Bahasa Inggris untuk non-native speaker,” kata Rivan.

Kelas tambahan berlabel English Learning Development ini terbilang intensif, 3 jam setiap hari kecuali Jumat. Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan Rivan untuk memasukkan anaknya ke lembaga kursus Bahasa Inggris seintensif itu di Bandung. “Di sini gratis,” katanya.

 

Menghargai Orang Lain

Hal lain yang tampak jelas adalah keberanian dan kemauan untuk menghargai orang lain. “Yang namanya minder itu tidak ada. Mereka berani dan biasa berhadapan dengan orang lain,” kata Radies.

Agus juga melihat anaknya belajar banyak tentang pembentukan karakter seperti kemandirian, menghargai sesama, kebersihan, rasional, dan kedisiplinan. Ia menyadari bahwa tata krama ala Indonesia kurang mendapat tempat di sini, dan ia tidak terlalu khawatir. Baginya, kemampuan menghargai orang lain lebih penting. “Anak-anak di sini lebih menghargai orang lain meski kalau dipandang dari segi sopan santun Indonesia mungkin kurang,” kata Agus.

Ini juga yang melegakan Renata. Saat ini anaknya, Aqila, sedang sekolah di Ironside State School kelas Preparation. Di sini ada sistem pengumpulan poin. Bukan untuk prestasi akademis, tapi ketika seorang anak peduli sama temannya, mendengarkan gurunya, membantu di kelas, dan aspek-aspek lain yang pada dasarnya fokus pada pembangunan karakter.

“Sopan santun mengatakan please dan thank you menjadi prioritas. Anak-anak juga belajar bertanggung jawab dan mandiri,” kata Renata yang suaminya menempuh S3 di The University of Queensland dengan beasiswa Australia Awards.

Renata gembira melihat anaknya tumbuh menjadi sosok yang sabar. Ia membawa 35 puding ke sebuah acara yang ternyata dihadiri lebi dari 50 anak-anak. Renata pun mengatakan pada Aqila bahwa ada kemungkinan ia tidak mendapatkan pudding tersebut karena peserta lebih banyak dari pudingnya. Aqila menjawab, “It’s ok Mummy. You get what you get and you don’t get upset.”

“Saya cukup terpesona dengan jawabannya bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan kalau kita tidak dapat, kita tidak boleh marah atau sedih. Saat saya tanya darimana ia tahu itu, Aqila bilang dari gurunya di sekolah,” kata Renata.

Bukan hanya membangun karakter, sekolah juga peduli pada kepentingan masing-masing siswa, termasuk berkait dengan agamanya. Makanan halal disediakan bagi siswa yang memintanya. Anak-anak Radies boleh pulang lebih awal di hari Jumat agar bisa sholat Jumat, demikian pula di sekolah anak-anak Agus. Saat jam pelajaran agama Kristen, anak-anaknya diperbolehkan pindah ke laboratorium dengan didampingi seorang guru lain.

“Sekolah memberikan pelajaran agama Islam satu minggu sekali yang diisi oleh sukarelawan mahasiswa Muslim,” kata Agus.

Meskipun ada yang hilang, seperti suara adzan, namun ada hal lain sebagai gantinya. “Di sini mungkin kita akan merindukan suara adzan. Tapi setiap pagi kami dibangunkan oleh kicauan burung yang mulai berkicau dari subuh sampai terbit matahari,” kata Renata.

Sedang bagi Rustanto, supaya hafalan Al Qur’an anaknya tidak hilang, dia  harus mendisiplinkan dirinya sendiri juga. Setiap habis sholat Subuh anak-anaknya setor hafalan. Kalau pun tidak bertambah, diharapkan hafalan mereka tidak berkurang. Sebelum datang ke Australia, putri sulungnya hafal 15 juz, putranya hafal 7 juz sementara putri bungsunya hafal 1 juz.

“Membangunkan untuk sholat Subuh memang tidak mudah. Kami sebagai orangtua harus bangun jauh lebih awal karena membangunkan saja kadang butuh 30 menit,” katanya.

 

Haji dan Tawaran Pekerjaan

Bagi Radies, membawa keluarga bukanlah beban tambahan, namun justru mendatangkan rezeki. Dia mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai cleaner di Spotless persis di hari saat ia menjemput keluarganya di Bandara Brisbane. “Saya semakin yakin bahwa rezeki keluarga itu sudah ditanggung oleh Allah SWT,” katanya.

Belakangan ini Radies bekerja juga di Sullivan, sebagai cleaner di kompleks laboratorium. Pukul 2 dini hari sampai pukul 5 pagi ia bekerja di Sullivan, pagi hingga sekitar pukul 10.00 ia bekerja di Spotless di areal kampus The University of Queensland.

“Saya bekerja sampai di dua tempat ini bukannya kemaruk atau apa. Saya ingin naik haji. Kalau bisa ONH plus. Karena antrean untuk ONH biasa sangat lama. Takut umur tidak nututi. Saat pagi hari saya mantapkan niat untuk berhaji, sore harinya seorang teman menelepon mengabarkan adanya pekerjaan di tempat yang kedua ini. Niat kita sungguh didengar oleh Allah SWT,” katanya.

Bukan hanya pekerjaan, ada juga bonus lain bagi mahasiswa di Australia dan keluarganya: banyaknya saluran-saluran pengembangan diri. Pasangan mahasiswa The University of Queensland (UQ) mendapatkan fasilitas kursus Bahasa Inggris gratis. Renata malah aktif juga di Positive Parenting Program (Triple P) yang dilaksanakan Pemerintah Negara Bagian Queensland. Triple P adalah sebuah proram parenting yang dijalankan berdasarkan riset UQ selama 30 tahun terakhir.

“Orangtua bisa mengikuti online course gratis, seminar, juga group and personal counseling gratis dalam hal parenting. Alhamdulillah saat ini melalui Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB) saya bisa ikut training gratis untuk menjadi praktisi level 4 Triple P sehingga bisa memberikan one on one consultation untuk orangtua di Brisbane. Semoga ada kesempatan untuk bisa training level-level lainnya sehingga bisa memberikan pelayanan yang lebih banyak mengenai parenting bagi komunitas Indonesia di Queensland,” kata Renata. (*)

*Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang, saat ini menjadi Ph.D Student di The University of Queensland dengan beasiswa dari LPDP.