KISAH WNI KULIAH SAMBIL SEKOLAHKAN ANAK DI AUSTRALIA (1): Berharap Pendidikan Internasional dengan Biaya Minimal

GN/Radies Purbo
SANTRI TPA IISB sedang praktik manasik haji di Pusat Komunitas Muslim Indonesia di Logan, Sabtu (16/9).

This is my body. I have the right to wear anything I want,” kata Nazla. Radies Purbo, sang ayah, sesaat hanya bisa menatap gadis kecilnya yang saat itu masih kelas 2 SD. Radies tersentak. Ternyata tidak mudah meyakinkan anaknya hanya untuk memakai jilbab.  Dia pun menyadari perbedaan nilai-nilai Islam dan Barat tidak mudah dikomunikasikan, apalagi kepada anak-anak.

Laporan Achmad Supardi, Brisbane, Australia

 

SIKAP Nazla yang menolak memakai jilbab adalah bukti kuatnya sosialisasi nilai-nilai Barat yang bertumpu pada kebebasan individu. Bagi Radies dan istri yang ingin menerapkan nilai-nilai Islam, ini tidak mudah.

“Di sekolah ia diajarkan bahwa tubuh dia adalah hak dia. Dia yang menentukan apa yang akan terjadi pada tubuhnya, termasuk dalam hal pemilihan pakaian. Sementara kami sebagai orang Islam memiliki nilai lain lagi. Butuh usaha lebih dan waktu untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak,” kata peraih beasiswa Australia Awards ini.

Dengan tantangan yang tidak mudah, mengapa Radies dan banyak pelajar Indonesia lainnya membawa anak-anak mereka ke Australia? “Saya ingin anak saya mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan. Saya ingin mereka merasakan journey yang sama dengan saya,” kata Radies.

Hal ini diamini Rustanto, mahasiswa S3 di Queensland University of Technology. Dia ingin anak-anaknya terbiasa beradaptasi dengan kehidupan yang benar-benar baru dan memiliki kemampuan mengatasi stres. “Selain supaya kami sama-sama tenang. Saya tenang, istri dan anak-anak pun tenang kalau kami bersama,” katanya.

Keuntungan bersekolah di Australia adalah mendapatkan pendidikan berkualitas internasional dengan biaya yang sangat minimal. Bersekolah di sekolah negeri, baik elementary school (SD) maupun high school (SMP dan SMA) pada dasarnya tidak bayar. Orangtua baru mengeluarkan dana bila ada kegiatan ke luar atau aktivitas non-rutin.

Hal yang sama disampaikan Agus yang mendampingi istrinya belajar di Adelaide dan Brisbane, beberapa tahun lalu. Kini dia sendiri yang kuliah di Brisbane. Alasan utama dia dan istrinya membawa anak-anaknya adalah untuk mendapat kesempatan belajar di sekolah berkualitas internasional dengan biaya minimal. Kualitas yang dimaksud Agus mencakup fasilitas dan kualitas pengajaran.

Niat serupa melatarbelakangi Renata Sadjad dan suaminya membawa serta putri mereka, Aqila, ke Australia sebelum dia berusia 5 tahun yang merupakan the golden ages. Aqila dimasukkan ke Campus Kindergarten (setara TK A di Indonesia).

“Sesuai dengan Kerangka Nasional Pendidikan Usia Dini Australia, Aqila belajar untuk belonging, being, and becoming,” kata Renata kepada Global News, Minggu (17/09/2017).

Di sekolah potensi Aqila benar-benar dikembangkan. Renata bisa diskusi dengan guru kapan saja mengenai aspek perkembangan yang menjadi perhatian mereka, baik kemampuan sosial, komunikasi, motorik kasar, dan lainnya.

Meskipun kualitas pendidikan baik, bersekolah di tempat baru bukan berarti tanpa kendala. Salah satunya dialami putri Rustanto, Hilya Idhar Mumtaz. Di awal-awal masuk ke kelas 5 Ironside State School dia selalu murung. Sepertinya dia mengalami ketakutan menghadapi lingkungan baru.

“Saya kuatkan ia tiap hari. Saya katakan bila ia mampu mengatasi hal ini, ia akan sukses mengatasi kendala berbeda di tempat lain nantinya,” kata Rustanto. Ia bersyukur sekolah sangat kooperatif. Mereka mencium kekhawatiran yang dialami Hilya dan membantunya mengatasinya. Sekolah mencarikan teman yang sama-sama berasal dari Indonesia bagi Hilya. “Saya lihat wajah anak saya langsung berbinar saat diperkenalkan dengan teman sesama Indonesia,” kata pegawai negeri di Dirjen Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan ini.

Sekolah juga tidak memaksa Hilya untuk langsung tancap gas memahami pelajaran saat itu. Prioritas sekolah adalah membuat Hilya merasa nyaman dulu. Perkembangan sosial, psikologis dan akademis diinformasikan ke Rustanto dan istrinya melalui rapat setiap term.

 

Benturan Nilai

Tantangan bukan hanya lingkungan baru, namun juga nilai-nilai baru. Perbedaan nilai-nilai Islam, juga nilai tradisional Indonesia dengan nilai Barat yang dominan di Australia memberikan pekerjaan rumah tersendiri bagi para orangtua. Misalnya, anak-anaknya mendapatkan informasi bahwa gurunya di sekolah mengatakan “We don’t need to be married to have a baby” (kita tidak perlu menikah untuk memiliki bayi). Padahal, dalam Islam dan dalam norma Indonesia secara umum, pernikahan adalah gerbang wajib bagi hubungan suami istri yang memungkinkan terjadinya kehamilan.

“Nah, ini rentetannya tentu kepada informasi tentang seks, pernikahan, rumah tangga. Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan hal-hal tersebut kepada anak-anak dalam bingkai nilai Islam yang berbeda dari yang mereka dengar di sekolah,” kata Radies yang saat ini studi S3 di Griffith University.

Tantangan lainnya adalah memudarnya tata krama dan kesopanan ala Indonesia. Radies, misalnya, dididik dalam keluarga di mana membantah kepada orangtua itu sama sekali tak pernah terpikirkan. Kini, anak-anaknya memiliki kebebasan untuk mendebat pendapatnya. “Saat ini kita tidak bisa otoriter. Kita harus menjelaskan secara rasional,” katanya.

Strategi Radies saat ini adalah menjawab semua pertanyaan sampai anaknya paham. Sampai tidak ada pertanyaan why lagi. Meski demikian, ada juga hal-hal di mana ia tidak membuka pintu tawar menawar. “Misalnya tentang sholat dan mengaji. Saya beri jadwal sholat dan mereka harus ikut,” kata Radies.

Tiap selesai sholat Maghrib mereka mengaji dan menyetor hafalan Al Qur’an. “Sesekali saya berikan materi keagamaan. Biasanya saat akhir pekan saya berikan taujih (ceramah agama),” kata Radies.

Seperti sebagian mahasiswa Muslim lain, Radies juga memasukkan anak-anaknya ke Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB). Namun, durasi mengaji yang hanya seminggu sekali ia rasa belum cukup. “Karena itu kami usahakan mengaji tiap hari. Sebelum mengaji dan sholat anak-anak tidak boleh pegang Ipad atau makan malam,” ujar Radies.

Kendala yang sama dihadapi Rivan. Saat di Indonesia, anaknya bersekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu dengan muatan akhlak keislaman yang tinggi dan hafalan surat-surat Al Qur’an. Di sekolah memang ada pelajaran agama Islam setiap Jumat, namun Rivan merasa masih kurang. “Solusinya ya mengaji di rumah meskipun tidak seintensif di Indonesia dulu,” kataya.

Keengganan anak untuk mengaji memang merupakan kendala yang dihadapi para orangtua Muslim. Agus memakluminya karena lingkungan kuran mendukung. Jalan keluarnya dengan diajar sendiri, selain dimasukkan ke TPA yang dikelola masyarakat Muslim Indonesia.

Dua anak Agus dulu bersekolah di Ironside State School. Anak pertamanya, Fajrul, sekolah mulai kelas 5 sampai kelas 9, sementara anak kedua, Ghinan, bersekolah dari kelas 2 hingga kelas 6. Anak ketiganya, Zada, belajar di UQ Playschool, Ironside, dan sempat merasakan kelas 1 di Ironside states School.

Sementara, Rustanto menghadapi kendala berbeda. Dua anaknya berjilbab, yakni Hilya dan kakaknya, Hajar Iffatul Karimah. Pernah suatu hari jilbab anaknya ditarik-tarik oleh temannya. Bukan berniat mem-bully sebenarnya, namun murni keingintahuan khas anak-anaknya. Buktinya yang menarik jilbab anaknya juga bertanya apakah Hajar dan Hilya tetap berjilbab saat mandi. (bersambung)

 *Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang, saat ini menjadi Ph.D Student di The University of Queensland dengan beasiswa dari LPDP.