Ber-Uang Abang Disayang, Miskin Abang Ditendang

Masih ada waktu bagi Mat Tadji untuk bersosialisasi dengan tetangga. Baik itu tetangga dekat maupun yang berjauhan, di komplek perumahan dimana dirinya tinggal. Minggu lalu, dia berkumpul dengan teman-temannya “grup jalan sehat” seusai memutari taman beberapa kali meski sejenak. Sekedar reffresing. Seperti biasa kegiatan jalan pagi mulai sekitar pukul 5.30 hingga selesai.

Seperti biasa, kalau sudah berkumpul semua lupa pekerjaan. Semua melepaskan jabatan. Semua melepaskan statusnya, dan semua ingin merasa lepas dari kepenatan. Apa saja yang dibicarakan? Apalagi kalau bukan seputar kekinian. Terutama yang informasi-informasi terbaru di bidang politik hingga perekonomian. Bahkan terkadang hal-hal yang menyangkut pribadi dan sensitif pun jadi bisik-bisik.

“Falang areya mon pak bapak se la toah kabbi reyah gik asan rasan (celaka kalau bapak-bapak yang sudah tua-tua ini masih berbisik-bisik, Madura Red) . Hanya saja, kalau informasi yang menyangkut keliaran lelaki memang cukup menarik juga disimak,” guman Mat Tadji sambil melakukan jongkok kocok untuk rileks tubuhnya, sambil memasangh kupingnya untuk mendengarkan apa saja yang jadi bisik-bisik bapak-bapak itu. Sementara agak terpisah dengan kelompok yang berjemur seusai jalan pagi, dua orang yakni Sudarno dengan Santana serius berbicara pelan.
“Apa saja yang dibicarakan Sudarno. Kok serius amat dengan Pak Santana,” Tanya Mat Tadji, setelah buyaran menuju rumah masing-masing. Kebetulan rumah Mat Tadji  dengan Sudarmo berdekatan gangnya.

“Besok tak ceritakan ya. Saya pagi ini harus cepat-cepat mengantar istri ke luar untuk suatu keperluan. Pokoknya ceritanya seru. Seru sekali. Ternyata Santana itu play boy polll,” kata Darno sembari berjalan ke gang 2, sementara rumah Mat Tadji di gang 3.
“Apah pole reyah caretanah. Mak soal bebinik terros (apalagi ceritanya ini. Kok soal perempuan terus, Madura Red). Ya lelaki. Kalau sudah jaya lupa diri. Ya lelaki, kalau sudah gak punya apa-apa, akhirnya sadar diri. Ya…inilah lelaki, meski tak semua lelaki begitu,” guman Mat Tadji sambil membuka pintu rumah.

“Kok lama lari paginya. Adek pingin dibelikan pecel,” kata Dindot putri bungsu Mat Tadji. Sementara Mat tadji mengatakan, “siap perintah,” katanya sambil tangannya memberikan hormat diselingi ketawa kecil.

Sambil berangkat berangkat membeli pecel, Mat Tadji bertanya-tanya ada apa dengan Santana. “Aku tak sabar menunggu hari besok. Ingin mendengar cerita Sudarno soal Santana,” kata Mat Tadji dalam hatinya.

Keesokan harinya hari yang dinanti telah tiba. Mat Tadji sudah siap-siap mengambil langkah jalan paginya untuk berdua dengan Sudarno yang mempunyai janji untuk bercerita soal Santana. “Hayo mana janji sampeyan. Katanya mau cerita Santana,” kata Mat Tadji.
“Oke bosss,” kata Sudarno.
“Begini. Singkatnya saja ya. Si Santana itu sekarang kan sudah sakit-sakitan. Terutama gulanya yang tinggi. Ada borok yang tak sembuh-sembuh di kakinya. Kemarin, dia bercerita, mengenang masala lalu. Dia katanya, ingin tobat. Sudah banyak dosa. Baik kepada Pencipta-Nya, maupun pada istrinya,” kata Sudarno.

Lalu Darno bercerita bahwasanya Santana dulunya kaya. Karena harta yang dinilai “berlebih” itulah, lalu Santana “bertingkah”. Dia  kepincut guru senam yang bahenol. Mirna (samaran), namanya. Cantik. Putih. Tinggi. Bahenol lagi. Namanya saja guru senam, pasti merawat tubuhnya. Ditambah lagi umurnya yang berselisih 18 tahun dengan Santana membuat Santana mabuk kepayang. Sementara Santana kini berumur 59 tahun.
“Angak hooo,” sahut Mat Tadji terkekeh.

Santana yang benar-benar kesemsem, akhirnya “lupa diri”. Apa pun persyaratan yang diminta agar memiliki si Mirna dia penuhi. Setelah menikah sirih (tanpa pengetahuan istrinya), 9 tahun lalu, Santana membelikan rumah seharga Rp 200 juta. Mobil Honda Jazz. Perhiasan. Uang bulanan disepakati Rp 3.000.000/bulan. “Pokoke sing wedhok uenak poll,” kata Sudarno.
“Santana ya uenak juga Pak darno (panggilan Sudarno). Dapat guru senam yang bahenol. Sintal. Padat. Berisi. Apalagi ya….Iri aku heee. Terus, terus bagimana lagi ceritanya,” celetuk Mat Tadji.

Desember lalu (2016), Santana “ditendang”. Banyak alasannya mengapa hal itu terjadi. Perusahaan dimana Santana bekerja mengalami penurunan usaha, sehingga Santana pun “masuk kotak”. Dampak selanjutnya, pendapatan Santana pun berkurang. Sebelumnya dia bertugas bagian luar. Di sisi lain, penyakit jantung dan diabetesnya terus menggrogotinya. Ini juga butuh biaya yang sedikit, sehingga “jatah” untuk Mirna  pun turun drastis. Ini yang membuat Mirna uring-uringan. Minta dicerai.

“Dia mencintai harta Santana. Bukan ragat Santana. Ya inilah jadinya. Lain lagi dengan istri pertamanya yang mencintai karena dasarnya hati. Ya…abang kaya disayang, abang sengsara ditendang. Anchor pessenah tellor,” kata Mat Tadji.
Sekarang, Santana tinggal meratapi nasibnya. Masa muda berfoya-foya, plus selimut hangat guru senam yang bahenol, kini masa tua Santana dihadapkan pada banyaknya biaya pengobatan di tengah pendapatan yang menurun. Inilah, siklus kehidupan. Kadang kita tertawa, besok bersedih. Kadang kita berhamburan uang, besok kita mencarinya dengan belum tentu terpenuhi seperti yang kita inginkan. Semuanya tidak ada yang tahu. Semua berputar sesuai kehendak-Nya.

Lalu bagaimana dengan istri tuanya? Tentang ini, Sudarno mengatakan, belakangan istri tuanya mengetahui kelakuan Santana. Apalagi kalau bukan setelah membuka WA Santana. Dari WA itu semuanya terbongkar. Hanya saja, istri Santana yang guru itu bisa menerimanya bahwa hal itu sebagai cobaan, tetapi dengan syarat Santana berhenti main wanita.
“Ya memang harus berhenti. Bagaimana tak berhenti, wong sudah sakit diabetes tinggi. Ininya mungkin saja sudah tak berdiri. Tompesss mon deiyyeh (mati kalau begini, Madura Red),” kata Mat Tadji terkekeh kekeh sambil meluruskan jari telunjukkan (berdiri).
“Kwakkkkkkk. Onok-onok ae awkmu iku,” Sudarno juga terpingkal-pingkal.
“Wis yo. Kita muteri taman sudah 52 menit. Cukuplah jalan pagi hari ini. Kita ketemu besok lagi,” kata Sudarno sambil berlalu.
“Ya inilah hidup. Bermacam-macam ceritanya. Kalau cerita laki-laki, lebih memang tak jauh dari soal perempuan. Itu dari zaman dulu. Pembunuhan manusia pertama pun, juga karena perempuan. Dimana dua putera Nabi Adam, Qobil dan Habil bertarung untuk memperebutkan perempuan (puteri Nabi Adam),” guman Mat Tadji sambil berjalan menuju rumahnya.(*)