2018, STAIN Jadi IAIN Madura

Mohammad Qosim, Ketua STAIN Pamekasan. GN/Masdawi Dahlan

PAMEKASAN (global-news.co.id)-Jika dilihat dari prestasi yang dicapai STAIN Pamekasan layak menjadi IAIN Madura. Saat ini jurnal ilmiah STAIN Pamekasan berada di peringkat 9 dari 56 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Selain itu untuk webometric, STAIN Pamekasan berada di urutan 25 dari 56 PTKIN.

Ketua STAIN Pamekasan Mohammad Qosim di sela acara Focus Group Discussion (FGD) Transformasi Kelembagaan STAIN ke IAIN di Aula Multicenter Lantai II STAIN Pamekasan, Sabtu (3/9/2017). Acara tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Sekretariat Negara RI, Ditjen Anggaran Kementerian Agama RI, dan Kementerian Agama RI.

Selain menjadi pembicara, tim dari Jakarta itu juga melakukan survei lapangan.  FGD itu juga dihadiri Plt Sekretaris Kabupaten Pamekasan Mohammad Alwi,  Ketua DPRD Halili Yasin, dan ketua Komisi I DPRD Ismail. Tak lupa para tokoh agama dan para alim ulama.

Qosim mengatakan, saat ini, di kampus yang terletak di Jalan Raya Panglegur Pamekasan tersebut menyelenggarakan 16 program studi (prodi) untuk strata satu (S-1) dan dua prodi untuk S-2. Jumlah mahasiswa yang aktif 8.167 orang. Tenaga dosen 211 orang, baik berstatus aparatur sipil negara (ASN) maupun non-ASN. Dosen yang sudah bergelar doctor sebanyak 35 orang.

Menurut Qosim, ada empat dasar alih status dari STAIN Pamekasan menjadi IAIN Madura. Yakni, kebutuhan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, kebutuhan pembangunan nasional, dan pertumbuhan mahasiswa.

“Tujuannya, meningkatkan akses pendidikan tinggi, meningkatkan daya jangkau pemerataan dan sebaran pendidikan tinggi keagamaan dan meningkatkan mutu dan daya saing penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan. Saat ini proposal alih status dari STAIN ke IAIN sudah masuk ke kantor kementerian sekretariat negara RI,” ungkapnya.

Soal kelayakan STAIN Pamekasan menjadi IAIN juga diungkapkan Asisten Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Sekretariat Negara Hanung Cahyono, S.H, L.I.M. Dia menegaskan STAIN Pamekasan bersama tujuh STAIN lainnya di Indonesia akan diuapayakan beralih status menjadi IAIN pada 2018 mendatang.

Karena itu, kata Hanung, dia  bersama rombongan dari Kementerian Keuangan dan Kemenag datang ke Pamekasan untuk melakukan survei dan analisis kelayakan. “Mari berdoa bersama-sama, mudah-mudahan presiden menyetujui alih status Pamekasan menjadi IAIN Madura,” ajaknya.

Keinginan menjadi IAIN Madura ini mendapat dukungan dari  berbagai pihak. KH. Abdul Hamid Mannan Munif tokoh pesantren yang juga alumni STAIN Pamekasan menilai menjadi IAIN merupakan keharusan. Ketua DPRD Pamekasan Halili Yasin dan Ketua Komisi I Ismail SHI juga mendukung penuh keinginan konversi STAIN menjadi IAIN. Dukungan juga disampaikan oleh Plt Sekkab Pamekasan Mohammad Alwi.(mas)