Pemkot Surabaya Gencar Sidak Penjualan Hewan Kurban

SURABAYA (global-news.co.id)-Jelang Hari Raya Idul Adha, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, akan melakukan pemeriksaan hewan kurban mulai awal pekan ketiga Agustus nanti. Pemeriksaan hewan kurban rencananya dilakukan di beberapa titik-titik penjualan ternak kurban (sapi dan kambing) di Kota Pahlawan.

Kepala Bidang Peternakan dan Penyeluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, Meita Wowor mengatakan, pihaknya akan mulai bergerak pada 14 Agustus mendatang. Pemeriksaan tersebut akan digelar hingga 30 Agustus atau sehari jelang hari raya kurban pada 1 September.

“Kami akan melakukan pemeriksaan di sekitar 1500 titik lokasi sentra penjualan hewan kurban di 31 kecamatan di Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan kami dengan tujuan melihat kondisi hewan kurban yang dijual,” ujar Meita Wowor, Sabtu (5/8/2017).

Menurutnya, data jumlah hewan kurban yang dijual dari tahun ke tahun semakin meningkat, utamanya untuk sapi. Sementara untuk kambing cenderung menurun. Kemungkinan itu mengikuti tren masyarakat yang lebih suka berkurban sapi. “Dan kami mengimbau sebelum membeli hewan kurban untuk diseleksi kondisinya tidak cacat atau luka saat diangkut kendaraan ataupun ada lecet di kaki karena di penjual biasanya berdempet-dempeten,” ujarnya.

Selain melakukan pemeriksaan hewan kurban, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan dan PD Rumah Potong Hewan (RPH) juga mengadakan pelatihan pemotongan hewan kurban untuk takmir masjid dan musholla se-Surabaya. Ada 200 tamir masjid/musholla se-Surabaya yang diundang mengikuti pelatihan yang akan digelar di gedung FKH Kampus C Unair pada Minggu (6/8/2017) besok.

“Kami juga menggelar pelatihan di kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian  selama enam hari mulai 21 hingga 26 Agustus. Setiap hari kami mengundang 30 takmir yang mungkin tidak bisa mengikuti pelatihan yang di FKH Unair,” sambung Meita Wowor.

Sementara untuk hari H Idul Adha, Meita menyebut dinas nya akan bekerja sama dengan FKH Unair dan Wijaya Kusuma untuk memantau kesehatan ante mortem dan post mortem (sebelum dan sesudah pemotongan) serentak di beberapa titik. “Kami juga dibantu teman-teman PD RPH. “Biasanya setelah dipotong baru ketahuan ada penyakit cacing hati, kalau belum dipotong ndak tahu,” sambung dia.

Prof Suwarno dari FKH Unair, menambahkan, untuk pelatihan memotong hewan kurban, juga akan mengundang Majelis Ulama Indonesia. Nantinya, tamir masjid dan musholla akan mendapatkan enam materi. “Dan yang menarik, ada sesi tentang perebahan sapi kurban tanpa stress dan nyeri. Ini penting. Karena bila cara merebahkan sapi ini tidak benar, sapi nya akan stress,” jelas profesor virologi dan imunologi ini. * pur