Ngelindur Istri Muda, Zaini Dikeplak Mbok Wek

 

ilustrasi

Mat Taji bertemu kawan lama. H. Zaini (56) namanya. “Assalamualaikum. Sehat – sehat Kak Toan (sehat –  sehat H. Zaini—Kak Toan sebutan pria yang sudah haji dan umurnya lebih tua—, Madura Red),” kata Mat Taji menyalami H. Zaini yang menggandeng wanita muda di acara pertemuan alumni almamater keduanya. Teman sekelas, adik kelas hingga kekak kelas yang mengenalnya benar-benar terkesima melihat wanita yang digandeng H. Zaini. Cantik. Tinggi berisi hingga bertampang sedikit menggoda.

“Alhamdulillah. Yang penting sehat. Kalau sehat kan bisa beraktivitas. Termasuk menyelamatkan para janda-janda. Ini Saodhah,” kata H. Zaini berseloroh sambil memperkenalkan istri mudanya yang umurnya masih 38 tahun.

Seketika Mat Taji tersentak. “Oreng reyah lakar hebat. Tenggih rajah. Gegek. Tor bennyak pessenah. Maklum pengusaha angkutan sampah di kawasan Perak, Surabaya Utara (hebat orang ini. Tinggi besar. Gagah. Dan banyak uangnya. Maklum pengusaha angkutan sampah di kawasan Perak Surabaya Utara, Madura Red). Makanya tak heran, kalau dengan mudah berhasil menggaet wanita muda. Cantik lagi,” guman Mat Taji.

“Cantik juga istri mudanya,” bisik Mat Taji sambil mendekat ke kuping H. Zaini.

“Haaaaa….. Saya ini hanya mengentas para janda. Itu janda beranak satu, tapi masih tahes,” canda H. Zoini.

Pertemuan para alumni berbagai angkatan yang berlangsung hari Minggu siang itu benar-benar menjadi ajang silaturrahmi para alumni berbagai angkatan.  Lagi-lagi H. Zaini menjadi “sorotan”. Terutama teman seangkatan. Bagaimana tidak, rata-rata mereka datang sendirian, eh… H. Zaini datang bersama istri mudanya. Akhirnya, yang mengenalnya, lebih banyak menyoroti wanita gandengannya.

Sementara, Mat Taji yang penasaran ingin sekali mengorek kiat-kiat H. Zaini mendapatkan wanita cantik tersebut. Hanya saja, waktu yang longgar belum bisa ditemukan. H. Zoini yang sukses jadi pengusaha tersebut banyak dikerubungi teman-teman lamanya. Akhirnya waktu yang ditunggu Mat Taji tiba. Saat acara makan tiba, masing-masing para alumni sibuk mengitari makan prasmanan yang disediakan panitia. H. Zaini mengambil tempat duduk di pintu masuk ruangan. Dimana istri mudanya? Ternyata istri H. Zaini sedang antre makan.

“Dhek remmah mak bisa olle oreng raddin Kak Toan (bagaimana kok bisa dapat orang cantik Kak Toan—sebutan haji di Madura, Madura, Red),” tanya Mat Taji menghampiri H. Zaini sambil tersenyum kecil.

“Gempang (mudah, Madura, Red). Saya carikan tah. Paling sampeyan weddhi nang bojo sampeyan ya. Hayo… jujur.  Kelihatan kok kalau sampeyan weddhi, tapi sampeyan kepingin. Kalau hanya ingin saja, tapi gak berani, ancor pessena tellor lek. Hanya saja, kalau punya istri muda harus siap lahir bathin. Harus adil. Terakhir harus siap gegeran sama istri tua,” kata H. Zaini ketawa.

Lalu H. Zaini bercerita. Beberapa hari lalu, setelah “memberi nafkah” istri muda, dirinya pulang ke istri tua. Karena sudah capek “bertempur” dengan istri mudanya, tak lama setelah bersantai di depan rumah bersama istri tuanya, H. Zaini pamit masuk karena sudah ngantuk. Di susul kemudian istrinya masuk ke dalam kamar.

“Saya kan sudah capek. Saya langsung ngorok kali. Dalam keadaan tidur pulas, istri saya ‘minta jatah’ dengan membangunkan saya. Mungkin karena reflek, saat istri tua ‘minta jatah’, saya langsung berujar, lha… tadi kan sudah. Dalam keadaan kurang sadar saya katakan tadi kan sudah, maksut saya istri muda yang sudah. Ya… gimana lagi kalau sudah ngelindur. Sorenya kan sudah ‘memberi jatah’ istri muda, tak kira istri muda minta lagi. Eh… ternyata yang ‘minta jatah’ istri tua, kata H. Zaini sambil tertawa.

Terus bagaimana sikap istri tua sampeyan waktu itu? “Aduh… mas, dia langsung memukul saya dengan guling sambil mengatakan, kalau sudah ada yang muda, yang tua hanya diberi sisanya saja ya… Kalau ada yang muda, sudah tak tertarik pada istri tua yang sudah berunur 54 tahun ini ya. Saya terus digebuk dengan guling. Sesekali dengan tangannya,” kata H. Zaini terkekeh-kekeh.

“Sebentar ya mas. Itu sudah datang. Lain kali dilanjut. Masih banyak cerita,” kata H. Zaini sambil menunjuk istri mudanya yang menghampiri dirinya setelah usai mengambil makan.

“Siap perintah,” kata Mat Taji sambil menuju tempat makan untuk bersantap siang bersama alumni lainnya.

Banyak cerita memang lelaki yang beristri dua. Berebut pengaruh pada suami sudah menjadi  “kelaziman”. Hanya saja, pria yang berpoligami damai-damai saja ada juga. “Ya sudah lah… Itu kehidupan masing-masing orang. Dan inilah salah satu isi dunia,” guman Mat Taji sambil menyantap ikan pindang, sayur sop kesukaannya.(*)