Mereka yang Hijrah ke Negeri Seberang (1): Belajar dari Keikhlasan Pemilik Toko Kebab

Hijrah bukan sekadar pindah tempat. Hijrah adalah peralihan secara geografis, psikologis, maupun sosial ke arah yang lebih baik. Menyambut tahun baru hijriah, Global News menurunkan cerita sejumlah arek Suroboyo yang berani hijrah ke negeri seberang secara bersambung mulai hari ini.  

 

Oleh: Achmad Supardi, BRISBANE, AUSTRALIA

 

Orang pandai dan beradab

Tak ‘kan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

 

Petikan syair berjudul “Hijrah” gubahan Imam Syafi’i itu begitu membekas di benak saya. Bukan hanya manis dibaca, isi syair itu tak bisa dipungkiri kebenarannya dan sangat memotivasi. Saya pun bertanya pada diri saya sendiri: apakah saya tidak berani hijrah?

Maka, pencarian beasiswa studi lanjut yang sudah saya mulai sejak sebelum lulus S1, tak pernah putus saya lancarkan. Tapi sebuah hasil manis memang jarang muncul di kesempatan pertama. Demikian pula yang terjadi pada saya.

Berkali-kali mengikuti seleksi beasiswa ke Eropa, berkali-kali pula saya terpental di tahap akhir, wawancara. Sekali saya tembus sampai akhir, lembaga pemberi beasiswa mensyaratkan saya mengikuti tes Bahasa Inggris di pusat kebudayaan negara itu. Saya kirim hasil tes saya yang sedikit di atas ambang terendah yang disyaratkan. Sayangnya, tak ada kelanjutan setelah itu.

Saya yang masih “hijau” hanya menunggu informasi dari lembaga pemberi beasiswa itu tanpa berinisiatif bertanya lebih lanjut. Mungkin nama saya ketlisut. Apa pun, itu sebuah kebodohan yang tak boleh saya ulangi. Belum lagi letter of acceptance (LoA, surat penerimaan) dari Leiden University (Belanda) dan The University of Westminster (Inggris) yang pernah saya dapat menjadi terbuang percuma.

Enam kali gagal mendapatkan beasiswa tak membuat saya menyerah. Saya pun kemudian mencoba beasiswa yang tadinya tak pernah saya lirik: beasiswa dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Ternyata, inilah jodoh saya. Semesta seperti berkonspirasi meloloskan saya.

Tes IELTS saya ikuti, nilainya cukup. Tes potensi akademik (TPA) di Bappenas pun hasilnya oke. Wawancara di Kemenkominfo saya lalui dengan lancar. LoA kedua pun dari The University of Westminster saya dapatkan. Padahal, wawancara dengan Westminster dilakukan di tengah jalan, saat saya bersepeda motor pulang dari kantor Harian sore Surabaya Post.

Tiba-tiba saja, sore itu, ponsel saya berdering dengan nomor berawalan +44. Saya sudah curiga ini nomor London. Saya tak punya teman –apalagi saudara—yang tinggal di salah satu kota termahal itu. Siapa lagi yang menelepon saya dari sana kecuali dari Westminster? Segera saya tepikan sepeda motor dan parkir di depan deretan ruko seberang rumah Sakit Shiloam Surabaya.

Saya dicecar pertanyaan seputar metode penelitian yang saya jawab dengan Bahasa Inggris patah-patah. Puluhan mata tukang parkir dan pejalan kaki menyorot penuh tanya. Pria kumal dengan sepeda motor butut nyerocos dalam Bahasa Inggris?

Maka, hijrah pertama pun saya lakukan. Setelah 32 tahun menghabiskan SD, SMP, SMA, kuliah dan bekerja semuanya di Surabaya, untuk pertama kalinya saya akan tinggal di negeri orang dalam waktu cukup lama. Ternyata London yang gloomy dan dingin bisa saya taklukkan. Tiadanya teman sesama orang Indonesia di kampus dan jauhnya dari keluarga tidak membuat saya binasa. Di London-lah saya menimbang-nimbang, apakah saya akan kembali menjadi wartawan di Surabaya atau melanjutkan hijrah saya?

Saya putuskan untuk pergi. Bukan hanya meninggalkan Surabaya, namun juga meninggalkan industri media. Saya memilih menjadi dosen di Universitas Presiden, Cikarang. Bukan sekadar menjauh dari tanah kelahiran, saya juga menantang diri saya sendiri: bisakah saya mengajar dalam Bahasa Inggris yang menjadi ciri universitas ini?

Sebagai seorang dosen, sudah sewajarnya bila saya berusaha mencapai pendidikan (formal) setinggi mungkin. Memang, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menyatakan praktisi profesional pun bisa mengajar di perguruan tinggi meski belum S2. Namun saya pribadi menganggap mencari ilmu tak ada batasnya. Ketika nanti saya lulus S3 pun upaya mencari ilmu itu takkan berhenti.

Dengan niat seperti itu, saya kembali melakukan upaya untuk bisa hijrah lagi. Kuliah S3. Berbekal LoA dari University of Manchester dan University of Hull (keduanya di Inggris), saya mengajukan aplikasi Beasiswa Unggulan Luar Negeri (BU LN) Dikti. Karena tak juga bisa mengunggah dokumen di situs BU LN saat itu –2013 atau 2014, saya lupa persisnya—saya putuskan mengajukan aplikasi secara manual.

Semua dokumen saya kirim melalui JNE. Ternyata saya tak pernah mendapatkan notifikasi apapun, termasuk apakah dokumen saya sudah diterima atau tidak. Saya putus pendek saja: belum jodoh. Dengan terus berusaha, saya yakin akan mendapatkan yang lebih baik.

Setelah sempat terputus karena saya fokus menjalani tahapan-tahapan sertifikasi dosen dan membantu universitas melakukan akreditasinya, akhirnya pencarian beasiswa saya gencarkan kembali. Kali ini beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang saya incar. Syukurlah, sekali bidik langsung tembus. Menyandang predikat sebagai calon awardee LPDP, saya punya waktu setahun untuk mendapatkan LoA. Kalau tidak, beasiswa saya hangus.

Saya pun mengintensifkan upaya pencarian kampus dan calon pembimbing (supervisor). Semua negara yang bahasa pengantarnya bukan Inggris, langsung saya coret. Mangkus dan sangkil. Maklum, Inggris adalah satu-satunya bahasa asing yang sedikit saya kuasai. Menimbang-nimbang keahlian supervisor dan potensi lingkungan untuk berkembang, saya putuskan melakukan aplikasi ke 4 kampus di Inggris, Hong Kong, dan Australia. Hasilnya, saya mendapatkan LoA dari Goldsmiths University of London dan The University of Queensland (UQ).

LPDP memilihkan UQ untuk saya. No problem. Saya anggap itu meringankan beban saya dalam memilih. Yang berat adalah menulis surat permintaan maaf karena harus menolak LoA Goldsmiths. Tadinya saya berusaha masuk ke sana, lalu setelah diterima justru saya yang menolak tawaran mereka. Sungguh, menulis surat permintaan maaf dalam situasi seperti itu sangat tidak enak.

 

‘Belajar’ di Luar Kampus

Hijrah ke Brisbane bukan perkara mudah. Yang terberat tentu saja meninggalkan istri, anak, dan keluarga besar. Bagaimana pun saya terlahir dari budaya komunal. Untunglah Brisbane memiliki komunitas Indonesia yang cukup besar. Bila di Westminster dulu saya hanya mengenal satu mahasiswa asal Indonesia –dan tak pernah bertemu—maka di UQ saya mendapatkan banyak teman asal Indonesia. Saya kenal pula teman-teman yang kuliah di Queensland University of Technology (QUT), Griffith University, maupun mereka yang bekerja atau menjadi permanent resident di Australia.

Soal sholat tidaklah sulit. Di UQ terdapat multi-faith chaplaincy yang salah satu ruangannya dipakai untuk sholat berjamaah setiap hari, demikian pula di QUT maupun Griffith. Terdapat juga sejumlah masjid dan cultural center yang bisa dipakai untuk sholat di seputaran Brisbane, Gold Coast dan kota-kota kecil di antara keduanya.

Yang membuat saya bangga dan trenyuh adalah dedikasi pemilik Rock N Roll Kebab and Pizza di George Street, Brisbane. Pemilik toko ini menjadi basement-nya sebagai musholla umum. Siapa pun yang sedang berada di wilayah pusat kota bisa mampir ke sini untuk sholat. Pintunya pun privat, tidak menyatu dengan pintu toko sehingga siapa pun yang hanya ingin sholat tanpa order makanan tidak akan sungkan.

Toko daging halal juga banyak di Brisbane. Memang, tidak semudah beli daging di pasar dekat rumah di Surabaya. Namun transportasi yang efisien membuat proses belanja mudah dan bagi orang seperti saya justru sekaligus menjadi momen jalan-jalan. Sesekali belanja daging ke Fortitude Valley (China town-nya Brisbane), di kesempatan lain belanjanya ke Wooloongabba. Bosan kedua tempat itu, bisa pindah belanja ke Ipswich, Inala, Cleveland atau lainnya.

Brisbane memiliki kemiripan dengan London dalam hal pengelolaan transportasi. Pertama, kedua kota memiliki moda transportasi kereta api, bus, dan feri. Kedua, mereka sama-sama menggunakan kartu transportasi prabayar. Oyster card di London dan go card di Brisbane. Kita tinggal beli kartunya, lalu isi dengan “pulsa” alias kredit sesuai perkiraan kebutuhan. Biaya transportasi di Brisbane memang tidak murah kalau di-kurs-kan ke rupiah, namun masih tergolong murah bila dibandingkan tingkat pendapatan rata-rata penduduknya.

Yang juga bagus, ada yang namanya concession rate alias diskon 50%. Anak-anak, siswa sekolah, mahasiswa, lansia, pensiunan, pencari kerja, dan pencari suaka adalah kelompok yang mendapatkan tarif diskon ini. Semua pengguna kartu ini karus menempelkan kartunya di mesin pembaca saat naik ke bus dan feri dan saat memasuki stasiun kereta api. Kartu kembali ditempelkan saat kita tiba di tujuan. Dengan demikian pengelola transportasi dan pemerintah hampir takkan pernah kehilangan pendapatan karena semua biaya langsung masuk ke rekening pengelola. Nyaris tak ada kesempatan untuk “menyunat”.

Jabodetabek mulai menerapkan dengan kartu commuter link-nya meski baru untuk kereta komuter. Surabaya dan kota-kota lain di Indonesia bisa menerapkan sistem serupa, tinggal membangun sistem IT dan mengalokasikan lapangan kerja bagi tenaga kerja di sektor transportasi yang mungkin terdampak. Kondektur, misalnya.

Selain itu, menjelajah Brisbane dan Gold Coast dalam beragam transportasi publik, kita akan melihat penghormatan dan pelayanan terhadap penyandang disabilitas. Saat ada pemakai kursi roda antre di halte, sopir bus yang baru tiba, akan beranjak dari tempat duduknya dan membukakan ramp (jalur landai). Sebenarnya di sejumlah layanan transportasi di Indonesia juga sudah disediakan space khusus untuk penyandang cacat, manula dan ibu hamil. Bedanya, belum banyak yang menyediakan ramp atau menyediakan petugas khusus untuk melayani penyandang cacat. Hal-hal seperti ini yang kita pelajari, bukan hanya perkuliahan atau penelitian di kampus.

Yang juga layak catat adalah begitu banyaknya perpustakaan. Bukan hanya di masing-masing fakultas di universitas, namun juga di pusat-pusat permukiman dan pusat perbelanjaan. Orangtuanya belanja kebutuhan dapur, anaknya membaca di perpustakaan. Di area kampus banyak perpustakaan yang beroperasi 24 jam 7 hari dalam seminggu. Kalau tempat kos terasa terlalu dingin, perpustakaan bisa menjadi pilihan yang lebih hangat.

Tentu tinggal di negeri orang tidak selamanya purnama. Ada kalanya sabit, bahkan gerhana. Meski tidak banyak, namun ada juga yang mengalami kesulitan beradaptasi yang berujung pada tekanan mental. Kampus menyediakan tenaga konseling profesional untuk ini. Namun salah satu cara yang bisa dipilih untuk mencegahnya adalah silaturahim. Jalan-jalan sambil berbelanja kebutuhan dapur bersama, atau bersama-sama kawan menghabiskan sepenggal sore di taman kota.

Kembali soal sholat. Ini adalah tantangan lain bagi WNI Muslim. Meskipun masjid terbilang banyak, tentu jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding mayoritas kota di Indonesia. Lantas bagaimana saat waktu sholat tiba? Sholatlah di mana saja yang suci, termasuk di tengah taman atau pasir pantai. Ini bukan puisi, tapi harfiah. Di Indonesia kita dengan cukup mudah mencari musholla di perkampungan, atau di area parkir pusat perbelanjaan. Di sini hal itu tak ditemui. Jadi bila sedang ada keperluan, kita ambil wudlu di toilet atau shower umum, lalu sholat di mana saja yang memungkinkan.

Pengalaman seperti ini yang tidak kita dapat bila terus berdiam di tempat semula. Imam Syafi’i sudah menuliskannya:

Singa tak ‘kan pernah memangsa

jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika tidak tinggalkan busur

Takkan kena sasaran

Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam,

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman,

Orang-orang takkan menunggu saat purnamanya datang.  (bersambung)

 *Penulis adalah dosen di Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Presiden, Cikarang. Saat ini merupakan Ph.D student di The University of Queensland, Brisbane, Australia dengan beasiswa dari LPDP.