Mat Taji Tergelitik Sales, Sopir Tukang Mampir

ilustrasi

Walau kadang “hidupnya kacau”, tetapi urusan lari pagi Mat  Taji pasti memberikan “waktu”. Bagaimana tidak kacau, julukan Bang Toyyib yang gak pulang-pulang sudah melekat pada diri Mat Taji. Bekerja sampai dini hari sudah biasa. Bahkan dia kadang tak pulang, sehingga si bungsu Dindot menjulukinya sebagai Bang Toyyib. Ya… Mat Taji gila kerja.

Seperti biasa, setelah usai Subuhan, Mat Taji kadang ngaji sebentar. Lalu acara rutin yang tak pernah ditinggalkan setidaknya sejak usianya sudah memasuki angka 50 tahun, yaitu jalan pagi. Sejak 5 tahun lalu  Mat Taji rutin jalan pagi. “Ya namanya kesehatan harus dijaga. Jalan pagi murah meriah. Badan jadi sehat. Karena sudah biasa,  jalan pagi sudah menjadi menu harian. Mon bedhen sehat, pekkeran sehat keyah (kalau badan sehat, pikiran sehat juga, –Red),” kata Mat Taji suatu ketika.

Bersama tetangga  MatTaji sekitar  05.30 sampai  06.30 mengitari komplek perumahannya. Tidak hanya sehat,  tetapi bertatap muka dengan tetangga diperlukan Mat Taji. Supaya guyub. Pagi kemarin Mat Taji kesiangan. Baru keluar rumah sekitar pukul 07.15. Grup lari paginya sudah pulang semua. Karena itu kebutuhan, dia keluar rumah untuk melaksanakan acara rutinnya.  “Pagi pak. Sudah tadi jalannya,” kata Mat Taji pada ‘orang asing’ yang baru dikenalnya.

Lalu Mat Taji mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. “Saya Agus Budiyanto. Kadang teman-teman memanggilnya Agus Botak. Mungkin karena ada botaknya,” kata Agus menimpalinya. Mereka berdua terus lari kecil, memutari taman perumahan. Sesekali, keduanya terlibat pembicaraan ringan seputar pekerjaan.

“Saya ini sales. Kerjaannya dari kota satu ke kota lainnya memasarkan produk elektronik. Belakangan, saya menderita gula darah yang sangat tinggi. Pernah mencapai 425. Takut aku,” kata Agus sembari mengusap keringatnya yang mulai mengucur.

“Yang saya menjadi resah, yakni ‘anuku’ sudah gak berdiri lagi sejak 3 bulan lalu. Dokter menganjurkan saya untuk hidup sehat. Kurangi gula.Kurangi nasi. Dan terpenting olah raga. Ya ini mulai hari ini saya memulai jalan pagi,” kata Agus yang mengaku berumur 53 tahun itu.

Mat Taji langsung tersontak mendengar “anunya tidak berdiri”.  Vulgar benar orang ini. Hanya saja, Mat Taji untuk mengorek persoalan “anunya” itu. “Mungkin kehidupan bapak kacau. Artinya, gaya hidupnya gak karuan. Jarang sarapan. Makan diumbar. Apa saja masuk. Kurang istirahat dan lainnya, sehingga bapak terkena penyakit gula,” kata Mat Taji dengan suara lirih.

“Kasihan istri bapak kalau begitu,” kata Mat Taji lagi. “Ya mas. Pas dia minta, ‘anuku gak berdiri’. Ini semua karena diabetesku yang tinggi. Kadang dia muring-muring tanpa sebab. Mungkin ini dosaku mas. Ya yang namanya sales, kan sama saja seperti sopir truk.  Dimana-mana mampir,” kata Agus sambal tersenyum tipis.

“Mampir gimana mas,” kata Mat Taji pura-pura. “Ya kalau tugas ke Malang sampai seminggu, saya punya teman kencan di kota dingin itu. Kalau bertugas di Kediri, ada juga. Kalau bertugas di Jogya, sayajugapunya pacar di sana. Hampir setiap daerah yang saya hampiri (bertugas), saya punya pacar tetap. Sekarang saya sudah kena batunya dari perbuatan saya ini. Mungkin Allah menghukum saya, karena perbuatan saya ini,” kata Agus dengan nada pelan.

“Ancor pessena tellor,” gumam Mat Taji. Lalu Mat Taji mengatakan, “Belum terlambat. Betobatlah. Kembali ke jalan yang benar. Bekerja yang benar,” kata Mat Taji. “Sengkok reya mak pentherno toreh (Aku ini kok pinter memberitahu). Ya mudah-mudah anaku tak hanya pandai memberitahu saja, tetapi bisa mengendalikan supaya tak tergelincir,” kata Mat Taji dalam hatinya.

Setelah sakit, perusahaan menempatkan Agus di dalam. Artinya, tidak bertugas di sales lagi. Kini penyesalan menghantui Agus. Terutama perasaan bersalah pada istrinya. Perasaan mengkhianati istrinya yang selalu menghantui dirinya, membuat Agus sering termenung. Kini, dia berusaha keras untuk hidup sehat. Menurunkan kadar gulanya, agar ‘anunya’ kembali perkasa lagi.

“Maaf Pak Agus. Saya sudah cukup. Sudah sekitar  45 menit saya jalan. Saya rasa cukup.Saya mau ke kantor. Besok ketemu lagi ya…. Harus rajin jalan pagi, biar kembali sehat. Terpenting agar ‘anunya’ itu kembali tegak,” kata Mat Taji meninggalkan Agus  yang  masih melanjutkan jalan paginya.

Sambil berjalan menuju rumahnya, Mat  Taji bertanya-tanya, “Sopir, sales katanya tukang mampir. Bagaimana dengan wartawan yang  sering meliput ke daerah-daerah? Apakah masuk kategori ‘tukang mampir’. Ah…itu semua kembali pada diri masing-masing,” kata Mat Taji. (*)