Mat Taji Kualat Istri

 

Ilustrasi

Jam dinding menunjukkan pukul 06.27. Sabtu itu,  Mat Taji langsung membuka pintu rumahnya. Dia baru pulang dari kantor. Karena terburu-buru buka pintu, sehingga menimbulkan suara agak keras. “Sudah gak pulang, ehhh kayak orang kesurupan datangnya. Bedheh apah. Laonan bukak labang  (ada apa, pelan-pelan buka pintunya, Madura, Red),” kata istrinya.

“Engkok bedheh tugas mendadak ka Jember. Liputan. Kereta berangkat pukul 09.00,” kata Mat Taji sambil menanyakan dimana STNK Honda Beat.

Sang istri bersama si bungsu mencari ke sana-kemari STNK tersebut. “Gak ketemu ayah,” kata si bungsu Dindot seraya mengatakan, makanya kalau menaruk sesuatu itu pada tempatnya biar tidak kayak gini jadinya. Orang rumah yang jadi sasaran akhirnya. “Dasar pikun,” guman Dindot

STNK pun tidak ditemukan, jam dinding menunjukkan 07.03, Mat Taji memutuskan bawa motor Yamaha Mio yang ada STNK-nya. Motor tersebut ada di kantor Mat Taji yang jaraknya sekitar 8 km-an. “Ayo aku anterkan ke kantor. Aku bawa motor yang ada di kantor saja ke Station Gubeng,” kata Mat Taji pada istrinya.

Dari rumah menuju kantor, Mat Taji memacu motornya dengan kencang. Polisi tidur diterjang saja, sehingga istrinya sedikit berteriak. “Sabar poo. Aku Loh weddhi nek ngebut koyok ngene,” kata istrinya. “Takok telat engkok (takut telat aku, Madura Red),” kata Mat Taji tergopoh.

Dasar kurang sabar, sesampainya Mat Taji di kantor, dia semakin tergopoh, karena kunci pintu dan kunci ruangannya yang ditaruk dikolong motor bawah setir, tidak diketemukan. Mat Taji semakin panik, karena takut ketinggalan kereta. Di obok-obok kolong motor yang dibawah setir juga gak ketemu. Apa jatuh? Bisa jadi, karena di kolong tersebut ada masker dan sejumlah kertas, sementara kunci pagar dan pintu yang jadi satu ada di atasnya.

“Bisa jadi jatuh ini. Ayo kita ulangi lagi jalan yang kita lewati tadi. Barangkali kali jatuh beneran kuncinya,” kata Mat Taji sambil ngomel-ngomel dengan muka tegang.

Di boncengnya lagi istrinya menyusuri jalan yang dilewati sebelumnya. Plongak-plongok Mat Taji setiap ada polisi tidur dengan harapan kunci kantor ditemukan lagi. Ternyata tidak ditemukan lagi. “ini loh STNK-nya, aku temukan di dekat setrikaan,” kata Dindot ketika melihat ayahnya kembali ke rumah.

Takut ketinggalan kereta, sekitar pukul 08.02, Mat Taji ngebut menuju Station Gubeng yang jaraknya sekitar 12 km dari rumahnya. “Alhamdulillah. Masih nututi jamnya (08.23 Mat Taji sudah sampai station),” katanya tenang. Dia langsung ke bagian regestrasi. “Mana pak KTP-nya,” kata petugas.

Mat Taji ambil dompetnya. Dia agak gelisah. Ketegangnan yang sudah mereda, timbul lagi, karena di dompetnya KTP gak ketemu. “Ada lagi persoalan. Tetinggal di rumah kali pak. Ini ada SIM,” kata Mat Taji sambil mengucapkan kata maaf.

Lalu dia telpon ke istrinya. Dia menanyakan dimana KTP-nya. “Kemaren kan saya bawa untuk ngurus keperluan di bank. Makanya jangan sering marah-marah pada istri. Kualat jadinya,” kata sang istri.

“Ya aku salah. Maafkan ya. Tolong kunci pintu kantor didobrak saja. Bilang pada anak-anak ya,” suara Mat Taji samar-samar menghilang “terhalang” bunyi klakson kereta. (*)